“Ustadz” Hariri dan Desakralisasi Makna Ustadz

Aksi super hero Hariri, seorang yang kebanyakan media menempatkan kata “ustadz” di depan namanya, entah kenapa mampu bersaing dengan berita bencana alam meletusnya gunung Kelud. Berawal dari situs youtube yang menampilkan aksi kekerasan “Ustadz” yang bernama lengkap M. Hariri Abdul Aziz Azmatkhan, sontak membuat kredibilitas Ustadz anjlok secara keseluruhan.

Ada beberapa penyebab hal itu terjadi. Pertama: desakralisasi makna ustadz, dari makna sebenarnya. Kedua: kebiasaan sebahagian masyarakat over general dalam berpikir, adalah penyebab utamanya. Ketiga: kesalahanpahaman ustadz dalam makna sebenarnya, dan ustadz yang dibentuk oleh opini (media).

Ustadz adalah gelar yang diberikan pertama kali kepada Kafur al-Ikhsyidi al-Isfirayini. Seorang pakar khsus dalam ilmu fikih di Mesir pada masanya. Dari sisi bahasa, Ustadz berasal dari bahasa Persia klasik dengan tulisan “istad”, bermakna pengajar, tuan, atau orang tua. Selanjutnya, Ustadz adalah panggilan, label sebagai bentuk penghormatan yang biasa digunakan di sebahagian Negara Arab kepada orang ahli, akademisi yang memiliki keahlian khusus di bidang tertentu. Di mesir, kata Ustadz bahkan hanya berlaku kepada seorang professor, karena professor dianggap sebagai orang yang memiliki keahlian tertentu.

Kata Ustadz sendiri terkdang ditulis dengan “Ustad”. Di Indonesia, Ustadz dan Ustad dianggap sama, padahal keduanya berbeda. Kata Ustad (tanpa huruf ‘z’), adalah panggilan, label yang akrab dipakai di India, Pakistan dan Bangladesh. Maknanya sedikit berbeda. Sama-sama memiliki keahlian, namun Ustad dimaksudkan hanya keahlian bidang seni saja, baik sastra maupun musik. Sebut saja Ustad Salamat Ali Khan, Ustad Nusrat Fateh Ali Khan, Ustad Talib Hussain Pakhawaji, dll.

Di Indonesia, kata Ustadz megalami desakralisasi karena pengaruh sosial media, dan kesalahan memaknai Ustadz oleh masyarakat. Penulis beranggapan, kata Ustadz identik dengan orang yang melakukan aktifitas keagamaan, karena asal kata Ustadz berasal dari Arab. Akhirnya, semua orang yang dianggap memiliki keahlian agama, bermodel Arab, berpenampilan khas orang Arab, kemudian dipanggil Ustadz.

Seorang yang pernah belajar di pesantren, lalu bergaul dengan masyarakat umum tidak akan dipanggil Ustadz, kecuali yang bersangkutan tampil dengan gaya Arab atau ke-arab-araban. Desakralisasi ini kemudian makin menjauh. Seorang yang bisa tampil dengan gaya Arab atau ke-arab-araban, entah lulusan pesantren, entah ngerti agama atau tidak, akan mudah diberi gelar Ustadz.

Hariri (Ustadz Hariri) adalah besutan pesantren Salafiyyah Syafi’iyyah Sindang Resmi, Bandung; Riyadl al-Shorfi wa an-Nahwi, Sumedang; dan Ponpes Alhikamussalafiyyah, Cipulus, Purwakarta. Dalam beberapa catatan, dia memang aktif di berbagai kegiatan keislaman. Layakkah dia dipanggil dengan gelar Ustadz? Ini pastinya debatebel, semua orang bisa memiliki pandangan berbeda. Bagi saya, kalau ukurannya pesantren dan aktifitas keislaman, semestinya teman saya yang mondok 20 tahun mestinya juga diberi label Ustadz.

showbiz.liputan6.com

Di Indonesia, opini tetang sesuatu banyak dibentuk oleh media, seperti halnya Ustadz. Seorang berwajah bening, dengan pakaian Arab plus sorban, diliput media, presenter memanggilnya Ustadz, Insya Allah akan menjadi Ustadz. Sorang yang pandai merangkai kata, dengan sedikit bumbu ayat dan hadis, akan lebih cepat medapat label Ustadz disbanding yang ilmu agamanya mendalam, namun tidak fisickly atau tidak pandai merangkai kata.

Ustadz, selain gelar juga menjadi pekerjaan menjanjikan. Diakui, Negara mayoritas Islam, masyarakatnya akan selalu haus dengan siraman rohani dengan penampilan kekinian. Saya kaget ketika mencoba memanggil seorang “Ustadz” teman sepondok dulu yang kini sudah di-Ustadz-kan oleh media. Menurut managernya, saya harus menyiapkan uang puluhan juta untuk itu. Jauh berbeda dengan Ustadz beneran, guru kami, yang tak perlu repot untuk itu.

Proses desakralisasi makna Ustadz itu, pastinya akan menjadi bom waktu. Harapan masyarakat akan mendapat sesuatu dari apa yang disampaikan oleh “Ustadz” anggapannya, suatu saat tidak akan kesampaian. Sampai kapan seorang yang bukan Ustadz bisa bertahan atau mempertahankan diri tetap menjadi Ustadz sebenarnya? Tak ada jaminan, dan waktu akan menjawab.

Hariri adalah contoh bagi saya. Kalau toh dia adalah Ustadz beneran, masyarakat harus tahu, kalau itu adalah ujian. Ujian yang dampaknya sangat buruk. Ustadz berbeda dengan Nabi yang tidak ada kesalahan padanya. Hariri adalah oknum, dan kita harus adil terhadapnya. Seperti halnya, anggota polisi yang melakukan kesalahan, maka dikatakan “oknum” polisi. Celoteh sederhana ini semoga bisa mengembalikan kesalahpahaman publik akan posisi Ustadz.

Salam bahagia

Tinggalkan Balasan

Pengen Chat?
LihinWhatsApp

Send this to a friend