Ustad Caleg yang Terjebak

“Jamaah yang berbahagia seiman dan sekeyakinan. Rasulullah saw mengajarkan agar kita menghindari musik-musik yang dilarang musik yang dilarang itu suara mendesah plus gerakan yang dilarang. Bagaimana gerakan yang dilarang itu? Andai ada gelang dipasang di kaki, maka gelang itu berbunyi gemerincing. Kira-kira Joget mencak-mencak yang dimaksud. Betul nggak?” Kata ceramah ustad di sebuah Dusun kecil namun padat penduduk

“Betullll” teriak jemaah kompak.

Penduduk setempat suka dengan ceramah Ustad tersebut meski ceramahnya keras dengan suara berapi api, namun contoh-contoh yang diberikan sangat sesuai dengan fakta yang ditemukan di masyarakat.

Enam bulan kemudian, siapa sangka Ustad tersebut mendaftar menjadi Calon Legislatif (caleg). Sepertinya partai memilihnya sebagai caleg melihat potensi popularitas dari sang ustad. Daerah pemilihannya adalah tempat yang sering dikunjungi berceramah.

Sebagai caleg, tentu dia harus rajin mensosialisasikan visi misi dan dirinya ke masyarakat. Hingga suatu malam dia akan berkampanye di salah satu rumah penduduk di dusun tersebut. Warga dan tim kampanyenya mempersiapkan segala hal untuk menyambut ustad idola. Masyarakat setempat menyediakan berbagai acara selain makan-makan bahkan sampai mengundang artis.

Malam hari sambil menunggu kedatangan ustad caleg, nyanyian kegembiraan warga plus joget-joget bersama artis berlangsung meriah. Lengkingan suara dan sesekali mendesah seirama musik dangdut menghentak khas dengan dentuman speaker mahal RMS Power.

Tak lama sang ustad datang dengan sorban putih dan peci hitamnya. Melihat acara seperti itu, matanya memerah marah. “Kenapa ada acara seperti ini? Bubar! Saya tak suka bersihkan alat musik itu, dan jangan ada artis seperti itu di sini.” Ujarnya marah ke tim kampanye.

Mendengar hal itu, masyarakat kecewa. Sebagian geleng geleng kepala. “Huuuuuuu…” teriak anak muda di sudut panggung.

Para panitia konser bergegas membereskan semua alat musik dengan muka dongkol. Sebagian warga berkemas hendak meninggalkan tempat padahal orasi kampanye belum dimulai.

Melihat gejala buruk itu, seorang tim berbisik ke ustad, “bahaya ustad. Warga pada pergi dan mereka akan membenci. Suara kita di sini akan hilang. Rugi usaha kita sosialisasi selama ini.”

Sang ustad terdiam. Dia dilema dan dipaksa memilih. Membiarkan sesuatu yang dilarang dan dia ceramahkan sendiri, atau suaranya hilang karena masyatakat kecewa.

“Sudah pak ustad, malam ini saja. Toh pulang nanti ustad bisa bertobat.” Bisik iblis silih berganti telinga kiri dan kanan.

“O iya, lanjutkan saja.” Kata sang ustad dengan suara tertahan kepada tim kampanyenya.

Tim kampanye memberi kode ke warga acara dilanjutkan, disambut dengan teriakan gembira. “Coblos pak ustaaaad.” Koor anak muda disambut histeris artis di atas panggung. Acara dulanjutkan. Lengkingan suara penyanyi makin menjadi jadi. Anak muda makin berani. Warga tidak duduk lagi, ada yang berdiri sambil mengangkat tangan plus jari telunjuk mengacung berputar.

ustad caleg terjebak

Masih banyak cerita ustad caleg yang terjebak. Terjebak antara keyakinan sendiri dengan keadaan yang dianggap mengancam jalan mulus menjadi wakil rakyat. Membenarkan sesuatu yang salah atau suara akan hilang? Ustad caleg terjebak.

Tentu tak semua ustad seperti itu. Toh banyak ustad yang konsisten dengan ajaran agama yang diyakini dan diceramahkan sendiri. Sehingga saat berkampanye, semua diatur dengan baik termasuk apa yang ingin disampaikan di depan calon pemilih.

Namun demikian, iblis pun tak akan tinggal diam. Kebohongan, janji berlebihan, manipulasi pencitraan, dan banyak hal yang akan menunggu sang ustad agar terjebak dan dilema pada pilihan yang sulit.

Ustad yang mengharapkan suara dari anak muda yang masih suka minum-minuman keras, jangan coba ceramah tentang haram dan bahaya minuman keras. Ustad yang mengharapkan suara dari artis, penyanyi dangdut vulgar, jangan coba coba ceramah mengenai jilbab dan kewajiban menutup aurat.

Pemilih rasional akan memilih ustad yang konsisten dan tidak terjebak. Masalahnya kemudian, berapa banyak pemilih rasional di kampung-kampung hari ini. Biasanya mereka akan condong kepada caleg yang membuatnya senang. Sayangnya, indikator kesenangan banyak dipengaruhi andil iblis.

Ustad yang menjadi caleg punya dua beban karena sudah kerap memberikan wejangan kepada masyarakat, dan masyarakat akan menilai mampukah sang ustad melaksanakan apa yang diucapkan sandiri. Beban kedua, terkadang syarat sosial sehingga masyarakat menjatuhkan pilihan, itu ternyata bertentangan dengan ajaran agama.

2 Comments

  1. FildanReplyFebruari 26, 2019 at 04:50 

    Kiyai juga banyak yang kejebak

    • Yengky ManolaReplyFebruari 26, 2019 at 04:52 

      Maksud kamu yai Makruf??? Awas lo!

Tinggalkan Balasan