Unjuk Rasa yang Anarkis, Ini Penyebabnya

Sejak kemarin, berita media online maupun media visual sarat dengan berita mengenai unjuk rasa mahasiswa menolak kenaikan harga BBM akibat pengurangan subsidi BBM, yang katanya hanya menguntungkan kalangan atas saja.

Jika ingin melihat fakta unjuk rasa hari ini dan masa lalu, nyaris tak ada unjuk rasa tanpa anarkisme. Unjuk rasa dan anarkisme, seakan telah ditakdirkan “hidup” berpasangan. Dimana ada unjuk rasa, di situ ada tindakan anarkis.

Tiga tahun lalu, unjuk rasa terakhir yang saya ikuti juga berlangsung anarkis. Dan yang paling disesalkan, ketika dalam pemberitaan apalagi pemberitaan yang pro pemerintah hanya mengungguh berita tentang anarkismenya saja, unjuk rasa hanya kemasan yang mengikuti. Padahal jika ingin merunut jauh ke belakang, unjuk rasa sebenarnya hanya efek, efek dari ketidakpuasan terhadap sesuatu, dan tertutupnya kran aspirasi yang semestinya dilakukan oleh anggota legislataif.

Jangankan kalangan media atau orang terpelajar sekalipun, masyarakat umum sekalipun bertanya-tanya, adakah unjuk rasa yang tidak berbarengan dengan tindakan anarkis?. Untuk menjawab hal ini, tentunya kita harus melihat konteks unjuk rasa secara proporsional, apa penyebabnya, di mana, dan siapa yang melakukan unjuk rasa.

Peristiwa unjuk rasa yang anarkis sesungguhnya adalah pertanda tentang alpa-nya pemerintah sebagai penggerak roda pemerintahan, dan hadir terkesan hanya membawa perintah.

Lahirnya unjuk rasa umumnya berawal dari pemerintahan (government) yang tidak berfungsi sebagai penggerak roda pemerintahan (governance) oleh aparat kekuasaan. Penyebab inilah yang kemudian diterjemahkan oleh para pendemo untuk melakukan unjuk rasa yang anarkis.

Sebenarnya jika melihat tujuan akhir dari sebuah unjuk rasa, hanyalah penyampaian aspirasi kepada objek unjuk rasa dalam banyak kasus adalah pemerintah. Unjuk rasa yang anarkis muncul bukan tanpa sebab, ibarat membangunkan harimau tuli yang lagi tidur, sangat sulit, membutuhkan tenaga ekstra dan tindakan di luar nalar, dan itulah anarkisme.

Mungkin sudah menjadi apriori, jika unjuk rasa yang dilakukan tanpa tindakan anarkis, tak akan mampu menarik perhatian pemerintah. Hal ini kemudian diperparah dengan sikap pemerintah yang seakan memegang prinsip, “biarkan kafilah menggonggong, anjing tetap berlalu.”

demo mahasiswa

Tindakan unjuk rasa yang anarkis juga besar dipengaruhi oleh karakter dan budaya suatu daerah. Di Makassar misalnya, kota yang berasal dari bahasa Bugis-Makassar berarti ‘kasar,’ tindakan anarkis adalah bukan hal baru lagi dalam setiap unjuk rasa.

Masyarakat pun tahu dan sudah terbiasa, jika ada unjuk rasa, maka bersiaplah memilih alternatif, karena unjuk rasa itu kerap anarkis. Pengaruh lain unjuk rasa yang adalah pelakon yang rata-rata berjiwa muda, darah masih panas, dan sulit menggunakan rasio atau kepala dingin mereka.

Dengan memperhatikan hal penting di atas, dialog akan menjadi pilihan pengganti unjuk rasa, jika semua pihak bisa memendam rasa ke-ego-an masing-masing. Pemerintah harus rajin mendengar dan memperhatikan kondisi riil masyarakat di bawah, dan anggota legislatif tidak menutup kran dalam menyampaikan aspirasi.

Pemerintah tak perlu gentar dengan teriakan dan batu di tangan para pengunjuk rasa, proaktif melihat, mendengar apa yang disampaikan dan melakoni dialog dengan rasa cinta dan kemanusiaan, hasilnya pun harus dipertimbangkan. Dengan ini, saya yakin penyebab unjuk rasa yang anarkis akan bisa diatasi.

Tinggalkan Balasan