Uang, Gaji dan Rezeki

“Tak ada orang yang tak butuh uang,” doktrin dungukrasi yang banyak merusak nalar banyak orang. Uang akhirnya menjadi target, karena semua orang membutuhkannya. Padahal tidak! Dalam kasus tertentu ada banyak orang memilih membuang uang dibanding pelampung, seperti orang yang berada di tengah lautan dan akan tenggelam. Berikan uang sekarung, dia tak membutuhkannya. Tapi berikan pelampung. Demikian pula saat terjebak kebakaran misalnya, berikan uang sekarung atau air seember. Maka orang gila akan lebih memilih uang seember…. hehe

Beberapa ulama besar membuktikan itu. Ada ulama memiliki ribuan santri ditampung, dan diberi makan gratis. Padahal ulama itu tak bekerja dan tak memiliki gaji. Anak keturunannya semua melanjutkan pendidikan sampai jenjang tertinggi yang biaya nya tidak murah. Kok bisa? Iya bisa… karena ulama tersebut mengharap rezeki tidak mengharap gaji. Antara gaji dan rezeki itu sangat jauh berbeda.

Gaji wujudnya uang sedangkan rezeki wujudnya anugerah. Anugrah bisa berupa kesehatan, ketentraman, kebahagiaan dll, yang mana uang tidak bisa membeli itu. Uang hanya bisa membeli perangkat-perangkat menuju hal itu, dan tujuan itu kadang tidak tercapai. Masih banyak cara bahagia tanpa uang, banyak cara sehat tanpa uang, pun masih banyak cara tentram tanpa uang.

Gaji sumbernya dari siapa yang mempekerjakan kita, sedangkan rezeki sumbernya dari Tuhan. Artinya, gaji karena bayaran karana usaha terhadap siapa yang menggaji kita, sedangkan rezeki karena iman, kepercayaan dan keyakinan. Itulah sebabnya rezeki kadang datangnya tak terduga. Beda dengan gaji yang terjadwal. Berharaplah akan rezeki karena itu pasti beda dengan gaji. Gaji akan mandek jika yang menggaji kita juga mandek. Tak ada kepastian akan gaji meski itu dari negara. Amerika negara adidaya saja pernah tidak membayar gaji aparatur sipilnya.

Gaji akan selalu terasa tidak cukup jika gaji itu tak bisa kita rasakan sebagai rezeki dari Tuhan. Beda dengan rezeki. Gaji akan menghadirkan kalkulasi, tapi rezeki menghadirkan wujud syukur. Jika anda menerima gaji lalu sibuk mengkalkulasi, saat itu Anda belum bisa menjadikan gaji sebagai rezeki

Seorang ibu yang bergaji dan memiliki keyakinan akan rezeki tak akan takut berbeda dengan atasannya, tak takut mengkritik dan menyampaikan kebenaran di depan atasannya. Karena dia tahu gaji itu hanyalah sebagian dari rezeki, sebagian dari anugrah yang diberikan Tuhan. Sebaliknya, orang kaya yang bisa menggaji ribuan orang, tapi sombong dan semena mena, tidak paham bahwa yang dia berikan kepada pekerjanya bukan rezeki tapi hanya uang. Dia tidak bisa membeli nurani pekerjanya, pun dia tak bisa memberikan jaminan kebahagiaan karena gaji yang diberikan.

Siapa yang menggaji anda? Adalah pertanyaan aneh kepada pekerja. Pertanyaan itu nilainya sangat rendah, karena jawabannya yang menggaji itu pasti bukan Tuhan. Siapa yang memberi rezeki kepada Anda? Inilah pertanyaan yang mengingatkan. Jika ada atasan bertanya seperti ini, nilainya sangat tinggi, karena banyak orang yang kurang bersyukur hari ini.