Tukang Cukur dan Tukang Syukur

Masa pak Harto dulu, beliau dikenal sangat ditakuti. Sampai sampai ada teka teki, “siapa orang yang bebas pegang kepala pak Harto?”. Isterinya, anaknya, cucunya, semua jawaban salah. Yang benar adalah tukang cukur. Ya, tukang cukur adalah pekerjaan yang bebas pegang kepala orang yang dicukurnya, meski orang itu jendral, atau kanibal sekalipun. Tukang cukur tak memerlukan ijazah. Asal punya bakat dan keberanian, punya alat, dan legitimasi bahwa dia tukang cukur, maka jadilah dia tukang cukur.

230 juta penduduk Indonesia, anggaplah laki-laki 100 juta, 80 juta berambut tidak botak, maka pasar tukang cukur adalah 80 juta orang. Karena perempuan biasanya tidak potong rambut di tukang cukur, tapi di salon. Beda ya… pekerja salon kecantikan biasanya mengikuti minimal pelatihan sebelum menekuni pekerjaan di salon. Sedangkan tukang cukur, pernah ikut keterampilan atau tidak, asal ada legitimasi sebagai tukang cukur, maka dia boleh melakukannya.

Kalau penjual es paling tak suka musim hujan, maka tukang cukur tak suka orang botak. Dan yang paling menarik, hampir tak ada tukang cukur yang mencukur dirinya sendiri. Artinya, tukang cukur bakal tak kehilangan pasar. Minimal dia mencukur tukang cukur yang lain asal tukang cukur itu tidak botak.

Lalu apa hubungannya dengan tukang cukur dengan tukang syukur? Beda beda dikit kok… tukang syukur adalah sifat, yaitu orang yang senantiasa bersyukur. Bisa saja dia tukang cukur tapi bukan tukang syukur. Misal, sudah punya tempat bagus masih saja mencukur di tempat terbuka agar dilihat orang. Atau masih saja suka mengambil lahan pekerjaan orang lain.

tukang cukur

Tukang cukur dan tukang syukur juga punya banyak kesamaan. Tukang cukur paling sering menunduk melihat objek. Demikian juga tukang syukur. Ciri orang yang suka bersyukur, dia sering menunduk. Menunduk dalam artian teks dan konteks. Menunduk saat bersyukur, khusyu berdoa, bermunajat, berterima kasih kepadaNya. Pun menunduk karena tukang syukur selalu melihat masih ada orang yang di bawah dari dia. Punya mobil, dia menunduk, masih banyak di bawah hanya punya motor, dst. Itulah sebabnya tukang syukur tak suka pamer saat dicukur tukang cukur.

Meski sifat, tukang syukur mesti punya keahlian bersyukur seperti tukang cukur. Keahlian bersyukur itulah yang membuat istiqamah dan selalu bersyukur. Namun tukang syukur tak perlu legitimasi dari siapapun. Orang mengakui dia ahli syukur atau bukan, tak ada masalah baginya. Tukang syukur tak akan marah jika dituduh tidak bersyukur, karena bersyukur bukan lagi pekerjaan baginya.

Buat tukang cukur, bersyukurlah…