Tim Sepak Bola Piala Dunia dan Tim Capres Cawapres Pilpres

Ramadhan mubarak tahun 2014 kalah menarik oleh gegap gempita Piala Dunia dan Pilpres. Hikmahnya, kenaikan harga barang menyambut bulan nan suci, tidak menjadi bulan-bulanan media (baca: sekolah di bulan Ramadhan). Sebenarnya, apa yang membuat Ramadhan kalah oleh berita Piala Dunia? Ketiganya adalah kejadian besar, apalagi Ramadhan dialami oleh penduduk mayoritas muslim Indonesia. Ramadhan kalah karena masyarakat melihat harapan besar pada carut marut pilpres, dan masyarakat butuh hiburan, tontonan, dan itu dibayar oleh Piala Dunia.

Selain itu, antara Piala Dunia dan Pilpres 2014 ada kesamaan besar. Dibanding perbedaannya, sesungguhnya antara Piala Dunia dan Pilpres lebih banyak persamaannya. Persamaan inilah kemudian menyatu membuat sugesti besar terhdap masyarakat dan mengabaikan semarak Ramadhan yang itu-itu saja.

Pertama, keberadaan tim sepak bola sama-sama memiliki tujuan menang (baca: analisa awal pemenang Pilpres). Persis dengan pasangan calon Presiden dan Calon Wakil Presiden (Capres dan Cawapres) dalam Pilpres 2014 yang bersatu untuk satu tujuan, menjadi pemimpin. Dalam sepak bola, semua tim mengerahkan segala teknik dan strategi untuk tujuan menang. Sesekali pemain pura-pura jatuh, sengaja melumpuhkan lawan secara fisik, bahkan sampai menggigit. Dilarang dalam aturan, tapi itulah taktik untuk sukses menggapai tujuan, persis mirip para tim dalam Pilpres 2014.

Kedua, tim sepak bola Piala Dunia sama-sama diisi oleh banyak orang (setidaknya lebih dari dua orang). Ada kapten dan ada pelatih, ada pula pemain cadangan. Tim ini berada dalam satu camp, latihan bersama, dan memikirkan gerakan yang akan digunakan saat menghadapi lawan di lapangan. Tim Capres dan Cawapres juga demikian. Ada ketua tim, bendahara, dan ada markas pula. Pemain cadangan biasanya difungsikan sebagai lapis kedua, opsi B ketika opsi pertama dianggap gagal.

Ketiga, keberadaan tim sepak bola dalam Piala Dunia dan tim pemenangan Capres Cawapres bukan saja di dalam tempat dan waktu, namun juga dibatasi oleh tempat dan waktu. Saat Piala Dunia selesai, para pemain kembali menekuni skillnya meski dengan tim lain. Ada yang bermain di klub dalam Negeri mereka ada pula bermain di klub luar negaranya, bahkan terkadang menjadi seteru klub dari Negaranya sendiri di even antar klub. Persis saat Pilpres selesai nantinya, pemain dari masing-masing tim pun menyebar sesuai skill politiknya, bahkan tidak menutup kemungkinan akan menjadi lawan terhadap politikus satu timnya saat Pilpres.

Ilustrasi sepak bola dan pilpres

Keempat, aktifitasnya Piala Dunia dan Pilpres 2014 dibatasi aturan (hukum) yang diawasi terdapat elemen penegak aturan. Penonton terkadang kecewa terhadap keputusan wasit dalam sepak bola, seperti kecewanya masyarakat akan keputusan Bawaslu. Di akhir babak, pemain, pelatih, penonton menyalahkan wasit, seperti para simpatisan, tim pemenangan Capres Cawapres yang menyalahkan MK.

Kelima, supaya berhasil, tim Piala Dunia dan tim Capres Cawapres pada Pilpres sama-sama harus memiliki visi, misi, strategi, dan taktik. Seindah apapun strategi tiki taka, sehebat apapun total football, kalau tidak sanggup menceploskan gol dan kemasukan, visi misi, strategi, dan taktik tak ada gunanya dalam sepak bola. Sehebat apapun isu yang dimainkan, kalau tidak bisa membuat masyarakat ke TPS dan mencoblosnya, maka visi misi, strategi, dan teknik tim Capres Cawapres juga tak ada gunanya.

Keenam, tim sepak bola Piala Dunia dan tim Capres Cawapres Pilpres butuh figur-figur pemandu, tokoh idola minimal menjadi pelajaran berharga bagi tim. Seperti tandukan Zidane yang akhirnya membuat Italia menang. Demikian pula pemimpin atau guru dalam bernegara, seperti ungkapan Gusdur dan tokoh lainnya.

Ketujuh, sama-sama harus latihan dan berlatih agar melahirkan keyakinan (faith). Dalam pidato, dalam debat, dalam jumpa pers Capres Cawapres harus latihan dulu, agar tidak salah menyampaikan apalagi membawa contekan. Persis sama denganpemain dalam tim sepak bola, tentu agar antara sesama pemain lebih kompak.

Kedelapan, penonton lebih pintar menilai tim sepak bola Piala Dunia dan tim Capres Cawapres Pilpres (baca: jawaban unik debat Capres). Hanya dua kali 45 menit cukup menghabiskan waktu penonton sepak bola Piala Dunia untuk membahas apa yang terjadi. Hanya 2 jam debat capres, menggerus waktu penonton masing-masing pendukung tim menilai apa yang terjadi.

Kesembilan, saat tim sepak bola Piala Dunia dan tim Capres Cawapres Pilpres beraktifitas dalam bermain untuk tujuan mereka, rupanya selalu ada jarak atau batasan intensitas campur tangan pemimpin atau pelatih dalam proses aktifitas bernegara atau bermain. Dalam Piala Dunia, jangan sepelekan keputusan pelatih, dan Presiden. Persis dalam Pilpres, jangan abaikan keberpihakan Presiden waktu itu.

Kesepuluh, sebagai bagian dari tim, para warga dan para pemain tim sepak bola Piala Dunia dan tim Capres Cawapres Pilpres sama-sama mesti ditempatkan dalam posisinya masing-masing sesuai bakat (kemampuan) dan minatnya masing-masing dan mengacu ke kerangka visi, misi, strategi, dan taktik yang ditetapkan. Neymar jangan ditempatkan pada posisi bek, seperti Rhoma Irama, jangan ditempatkan di bidang logistik.

16 tim sepak bola Piala Duni yang lolos fase selanjutnya, cukup menjadi pelajaran. Bagaimana Kostarika, Chili sebagai tim yang tidak dinominasikan lolos fase group rupanya bisa menjadi tim yang sebenarnya. Penonton seperti saya cukup merasakan imbasnya, menyambut puasa tanpa berita miring Ramadhan.

Marhaban ya Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Pengen Chat?
LihinWhatsApp

Send this to a friend