The Power of Nyinyir …

Suka ngeritik terus menerus. Ngeritik nya tanpa solusi. Ribut, bawel, pokoknya celah negatif dari orang lain mudah sekali ditemukan tanpa mau melihat celah diri sendiri. Itulah nyinyir. Nyinyir tak sebatas menyinggung, tak sebatas mengkritik, tak sebatas menjelekan, tapi jauh dari itu. Salah satu power nyinyir adalah rutinitas. Yah, nyinyir sifatnya berulang.

Di mata seorang ahli nyinyir tak ada yang baik. Dasarnya sederhana. Semua bisa dialasankan. Salah saja bisa mereka alasankan apalagi yang Benar. Kekuatan ahli nyinyir adalah mampu menemukan celah negatif dari objek nyinyir nya dan keahliannya mengargumentasikan temuan itu lalu memperdengarkan kepada yang lain atau membuat orang lain tahu.

Ahli nyinyir memiliki kesamaan dengan tukang gosip. Saat bergosip hanya ada dua kemungkinan; yang digosipin salah, maka itu fitnah. Namun jika yang digosipin benar, maka itu gibah. Fitnah dan gibah keduanya adalah perbuatan yang dilarang dalam agama. Nyinyir lebih dari sekedar gosip. Tukang gosip jika sudah menyampaikan narasi gosipnya biasanya akan berpindah ke narasi gosip lain. Beda dengan nyinyir. Ahli nyinyir akan terus mengulang narasi nyinyirnya sambil terus mencari celah baru dari objek yang dinyinyir.

Saat melihat suami isteri menaiki keledai tungganganya, ahli nyinyir berkata, “dasar tak ada rasa kasihan pada binatang, masa dua orang, kan berat, kasihan keledai itu”. Saat hanya suami yang naik, ahli nyinyir berkata, “dasar suami tak sayang isteri, masa dia naik kuda isterinya dibiarkan jalan”. Saat isteri yang naik keledai, ahli nyinyir berkata, “dasar suami takut isteri. Masa rela jalan sedangkan isterinya asyik naik keledai”. Nah, saat keduanya tak ada yang menunggangi hewan itu, ahli nyinyir berkata, “dasar goblok, masa keledainya dianggurin. Lalu pelihara keledai buat apa?”. Kesemua argumen nyinyir tadi mereka sebar sekuat tenaga. Karena kepuasan ahli nyinyir terletak pada nynyiritas mereka diketahui orang banyak.

Seperti halnya tukang gosip, nyinyir hampir tak ditemukan solusi menguranginya. Era media sosial, justeru menjadi wadah terbentuknya ahli nyinyir baru. Nyinyir semakin berkembang tak terkendali. Apalagi didukung makin banyaknya objek nyinyir yang membuka ruang untuk dinyinyir. Lalu bagaimana mengatasi hal itu? Entah manjur atau tidak, saya melihat mengurangi jumlah nyinyir hanya dengan satu trik. Yaitu; setiap nyinyir yang datang, jangan sama sekali digubris, tak usah dihiraukan, cuek, alihkan, jangan sama sekali direspon langsung. Semakin direspon, ahli nyinyir akan menemukan kepuasan lalu berpikir nyinyir dalam konteks berbeda. Nah, untuk menjawab objek nynyirnya, cukup sampaikan yang benar kepada orang lain dalam konteks berbeda. Misal, dalam contoh nyinyir tadi, jangan layani ahli nyinyir yang memperdengarkan nyinyiritas nya. Tapi sampaikan manfaat hewan piaraan di tempat lain.

Dalam konteks politis seperti saat sekarang ini, ahli nyinyir mewabah. Bukan hanya dari satu kubu saja. Ahli nyinyir kubu penantang, akan menyebarkan nyinyiritas nya mengenai kekurangan lawan. Sebaliknya ahli nyinyir yang bertahan, melakukan nyinyir terhadap ahli nyinyir. Siklus hitam yang merusak. Ingat, nyinyir itu satu tingkat di atas gosip. Kalau gosip saja potensi dosa, apalagi nyinyir.

Stop nyinyir !!!

1 Comment

  1. HarlinReplySeptember 7, 2018 at 00:46 

    Mantap opininya

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Anti Spam. Akismet.