The Power of Dekkeng

Dekkeng dalam makna umum berarti teman akrab, sahabat baik seperti saudara sendiri. Dekkeng dalam bahasa Bugis Makassar sudah menjadi kata familiar. “Pega ki pole dekkeng?” Artinya kira kira, Kamu dari mana sahabat? Dekkeng dalam makna umum ini tentu mempunyai kekuatan tersendiri dalam interaksi sosial. Kekuatan Dekkeng disamakan dengan kekuatan dan manfaat silaturrahim. Semakin bagus silaturrahim, maka semakin bagus efek kehidupan sosial seseorang.

Dalam interaksi sosial, kadang kita membutuhkan bantuan orang lain untuk mendorong, membantu, memperkenalkan kita kepada orang lain. Kadang kita tidak mampu melakukan, dekkeng hadir membantu. Banyak hal, saat kita berada dalam posisi sulit memperkenalkan kelebihan kita kepada orang lain, dekkeng hadir membahasakan itu. Dalam contoh sederhana; Anda mendaftar di perusahaan. Anda punya skill agar perusahaan itu menjadi lebih baik. Namun, Anda tidak punya wadah menyampaikan skill Anda agar diketahui pihak perusahaan. Tanpa dekkeng, Anda bisa jadi tidak diterima. Logis karena perusahaan tidak mengetahui bahwa Anda mempunyai skill berbeda dengan pelamar lain. Berbeda dengan saingan Anda. Bisa jadi skillnya biasa saja, tapi dia punya dekkeng yang bisa membahasakan skill itu sehingga menarik bagi perusahaan, dia diterima.

Makin lama konotasi Dekkeng berubah. Dekkeng lebih condong bermakna negatif. Dekkeng kini dipahami bukan hanya sekedar menjadi teman pembantu dalam tatanan wajar, tapi dekkeng seakan menjadi pemain latar, pihak ketiga yang lebih menguntungkan. Seorang pemuda yang secara fisik tidak layak mendaftar menjadi polisi, namun lulus, dengan mudah masyarakat mengatakan the power of dekkeng. Itu kekuatan dekkeng. Posisi dekkeng sebagai pembantu, mendorong, mengomunikasikan, juga berubah menjadi pemain latar penentu. Bahkan kekuatan dekkeng berubah menjadi vampire penghisap dari objek yang didukungnya.

Contoh, Beddu Seorang yang sangat taat pada orang tuanya dimanfaatkan oleh dekkeng-ers menekan Beddu melalui pintu orang tuanya. Kebetulan Dekkeng-ers ini kenal baik dengan orang tua Beddu. Orang tua Beddu lalu bertindak mempengaruhi keputusan Beddu hasil dari komunikasi Dekkeng-ers. Ini hanya contoh yang sangat sederhana. Dalam kasus yang paling canggih, Dekkeng-ers akan mencari kelemahan penentu seperti Beddu. Bahwa seseorang biasanya punya kelemahan dari orang lain, atau hal lain, misalnya takluk dengan duit, atau wanita.

Alih-alih jika hal itu masih dalam tahap yang wajar. Terkadang ulah dekkeng mengabaikan kewajaran dan kelayakan. Sampai di sini, hanya ada dua yang bisa mengantisipasi gurita ulah dekkeng yang tidak wajar. Pertama, iman, dan kedua integritas yang mumpuni. Masih adakah orang yang berintegritas mumpuni melawan ulah dekkeng dari ketidakwajaran dan ketidaklayakan?

 

Tinggalkan Balasan

Pengen Chat?
LihinWhatsApp

Send this to a friend