Teror di Selandia Baru vs OTT Romi

Aksi brutal pembantaian terhadap ummat Islam yang hendak beribadah shalat Jumat di mesjid an-Nur, Selandia Baru dan penangkapan Ketum PPP dalam suatu giat OTT di Jawa Timur, sangat menyita perhatian seluruh masyarakat.

Sayangnya, kejadiannya berlangsung pada hari yang hampir bersamaan pula. Praktis, berita pembantaian lebih cepat tenggelam dibanding berita OTT.

Meski kasusnya sangat berbeda dan tempat kejadiannya juga terpisah jauh, tapi saya melihat ada benang merah sebagai pelajaran yang bisa kita tarik dari kejadian tersebut.

Terkait operasi tangkap tangan Romi, siapa sih Romi? Jujur saya tidak tahu banyak tentang track record-nya selama ini. Saya mengenal nama Rommahurmuzy baru beberapa tahun ini saja, ketika namanya muncul dalam konflik internal PPP dan selanjutnya dia ditetapkan sebagai Ketum PPP.

Belakangan ini, namanya kembali menarik perhatian saya ketika muncul dalam polemik penetapan cawapres pendamping petahana.

Nama Rommy disebut oleh Mahfud MD sebagai penyampai pesan soal persiapan pengukuran baju untuk deklarasi cawapres yang ternyata tidak benar.

Jokowi memilih KH. Ma’ruf Amien, bukan Mahfud MD. Saat itu kasusnya sempat ramai menjadi perbincangan publik, bahkan sempat diangkat menjadi topik dalam acara ILC di TV One.

Kemudian nama Romi muncul lagi dalam kasus “ralat doa” terhadap Mbah Maemun Zubair dan banyak disorot publik juga.

Konon katanya, Rommy disinyalir mengklaim dirinya sebagai sosok yang lebih millenial dibanding dengan Sandiaga Uno.

Saya juga sempat mendengar sepintas, katanya Rommy juga sedang melakukan pendekatan kepada AA Gym dan UAS supaya bersikap netral pada Pilpres 2019 ini.

Sekilas soal statemennya tentang lobby Pemerintah Indonesia terhadap PM Malaysia untuk menyelesaikan kasus Siti Aisyah, yang ternyata dibantah oleh Mahathir, juga cukup mengejutkan.

Saat itu, beberapa pihak malah sedang menunggu ralat Rommy untuk statemennya itu. Entahlah, apakah semua itu benar atau tidak.

Puncaknya, hari ini saat Romi tertangkap dalam sebuah giat OTT KPK di Sidoarjo Jawa Timur. Konon katanya, dia diduga menerima suap dalam kasus penempatan jabatan di lingkungan Kementrian Agama.

Saya secara pribadi terus terang merasa prihatin dengan kejadian tersebut. Terlepas seperti apa karakternya, bagaimana ucapan dan perbuatannya, serta berada di pihak mana dia sekarang, Rommy adalah perpanjangan tangan dari ummat Islam untuk memperjuangkan Agama Islam melalui Parpol Islam.

Kejadian ini mudah-mudahan bisa menyadarkan dirinya agar ke depan lebih berhati-hati lagi dalam berucap dan bertindak. Terlebih selama ini, Rommy dipandang oleh kubu lawan sebagai sosok yang (maaf) menyebalkan. Banyak saudara muslimin dan muslimat yang mungkin merasa tersakiti oleh ucapan dan tindakannya.

Begitu pun dengan kasus kedua, kejadian teror di Selandia baru. Sebagai sesama muslim, saya merasa sangat prihatin, sedih, marah dan mengecam kejadian tersebut. Teriring ucapan rasa prihatin, bela sungkawa dan doa semoga semua korban ditempatkan dalam surga-Nya.

Dua kejadian, korbannya sama, islam. PPP adalah partai berlambang kabah dan kabah adalah salah satu simbol islam. Romi bukan korban, tapi mengorbankan islam secara umum karena pandangan negatif terhadap islam akan mudah disematkan dengan kejadian ini.

Teror Selandia Baru bukan hanya menewaskan 49 orang yang notabene adalah umat musli, namun ditambah lagi dengan tuduhan oleh senator Ausi, Anning bahwa itu disebabkan oleh umat Islam sendiri. Menyakitkan!

Ibarat pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga pula

Di balik semua ini, ada hikmah, ada benang merah yang dapat kita ambil sebagai pelajaran dengan dua kejadian ini.

Pertama, untuk kejadian OTT Romi, Tuhan menunjukan bahwa kebenaran tak mungkin tertukar. Salah akan tetap salah, dan akibat dari kesalahan akan menimpa siapa yang berbuat salah.

Kedua, orang baik tidak dilihat dari caranya menggiring opini, bukan dilihat dari teriakan sendiri, tapi dilihat dari apa yang diperbuat. Dilihat dari keikhlasan dan keadilannya.

Banyak orang teriak, orang baik bersama orang baik, teriak saya NKRI saya pancasila, tapi kelakuannya jauh dari cerminan pancasilais sejati.

Ketiga, kejadian brutal teroris Selandia Baru membuka mata dunia, bahwa teroris itu tidak identik dengan Islam. Selama ini setiap ada kejadian teror, Ummat Islam selalu menjadi tertuduh. Bahkan Islam selama ini sering diidentikan dengan terorisme. Padahal siapapun yang tidak beriman dan tidak berhati nurani, bisa melakukannya.

Keempat, sepandai pandai manusia membuat skenario, Allah lah pembuat skenario terbaik. Mungkin beginilah cara Allah swt menunjukkan kebenaran-Nya, meski harus ditebus dengan puluhan nyawa para syuhada. Innalillahi wainnailaihi raaji’uun.

Akhirnya, sebagai umat islam, kita harus yakin seyakin-yakinnya bahwa yang haq dan bathil, tidak akan pernah tertukar. Allah swt punya banyak cara untuk membuktikan kebenaran-Nya, meski mungkin tidak disukai oleh sebagian hamba-Nya.

Tinggalkan Balasan