Terima Kasih Duhai Wanita Tangguh | Penutup Kisah 9 Hari di Maluku Utara

Terima Kasih Duhai Wanita Tangguh (Penutup)

Tak ada yang menarik dari sosok perempuan ini awalnya selama 5 hari di Kepulauan Sula. Sosok yang paling sering bertanya tentang sudah makan atau belum. Tak pernah terdengar kata perintah dari kalimatnya. Semua dikemas dalam kalimat saran. Gerakannya gesit, setiap hal yang berkaitan dengan peserta.

Aura berbeda terlihat ketika merasa bersalah berniat pergi sebelum saya tampil. Rela menunggu tentunya mengabaikan tugas lain. Saya melihat, beliau bukan sekedar official. Ada motivasi nurani, dan iman melakukan bakti itu. Tak mudah melayani orang lain seperti anak dan keluarga sendiri. Gerakannya cepat, gesit dan tepat. Lebih memilih mengeluarkan energi sendiri daripada merepotkan orang lain.

Umurnya kisaran 40-an, memiliki empat orang putra putri. Istri dari ketua Fraksi PPP di DPRD Provinsi Maluku Utara ini, merupakan pegawai kantor Walikota Ternate, bagian Kesejahteraan. Rumahnya besar namun merakyat. Dua hari menginap di sana, tampak nuansa Islami yang kental dan anti neoliberalisme. Gemar membaca terlihat dari deretan buku tiap lemari di ruas dinding rumah, kusut tanda keseringan disentuh tiap lembarnya.

Karakter berbeda dengan perempuan satu ini. Masih lajang. Hapal al-Quran, di sela kesibukannya sebagai guru di sekolah Islam Atirah milik JK. Kenal dengannya sudah puluhan tahun. Tegas, namun tidak kasar. Tindakannya penuh perhitungan, dan suka menolong. Jika suka dia katakan suka, jika tidak suka tak segan pula dia ucapkan.

Perhatiannya terhadap fisik jauh lebih kecil dari perhatianya terhadap jiwanya sendiri. Hanya sekali selama kenal, dia bertanya terkait dengan fisiknya. “Apa hukumnya, memakai behel gigi?. Saya ingin memakainya. #Congkakka.” Saya tersenyum, dan berkata, “penilaian orang lain terhadap diri, lebih bernilai daripada penilaian diri kita sendiri.”

Karena 2 wanita tangguh inilah, kisah 9 hari di Maluku Utara kutulis. Dua bulan sebelum berangkat, saya diajak via telepon. “Kamu mengajar, saya juga mengajar.” Ucapnya menangkis alasan penolakanku. Karena dukungan keduanya, kesedihan akan hilangnya Blackberry kesayanganku hilang senyap meski masih berbekas. Bu Hajjah yang lihai memoles kekalutan, menarik benang merah masalah tim dengan sentuhan ajakan dan saran ringan, sederhana, namun bermanfaat. Kedermawanan sikap dan materi memenuhi syarat bagi manusia untuk berumur panjang.

Dua hamba Allah, wanita namun inspiratif. Dari mereka saya berpikir, “masih ada manusia baik di Negeri ini.” Semoga Tuhan merahmati kalian.

(The End)

Tinggalkan Balasan