Susahnya Mencari yang Halal

Saya sering mengatakan, kenapa yang dilarang itu mudah dilakukan? Karena sesuatu yang haram akan mendapat bantuan sugesti dari iblis, sedangkan yang halal akan mendapat halangan juga dari iblis. Persaingan mencari yang halal akan selalu dibayangi dengan yang haram. Contoh, Anda berdagang dengan cara halal, maka akan ada godaan berdagang dengan cara yang haram. Itulah sebabnya, seorang yang mencari nafkah halal akan dianggap berjihad oleh Allah swt.1

Perjuangan mencari yang halal adalah ujian terhadap tiga hal. Pertama, halal terhadap apa yang dicari. Misal pekerjaan. Apakah pekerjaan itu halal? Pekerjaan halal kriteria utamanya tidak merugikan orang, bukan bentuk kejahatan dan sesuai ketentuan syariat. Kedua, halal prosesnya. Misal, Anda bekerja di suatu lembaga, bagaimana proses mendapatkan melakukan pekerjaan itu? Karena terkadang pekerjaan itu halal, namun saat mengerjakan penuh dengan hal yang dilarang. Manipulasi data misalnya. Ketiga, halal cara mendapatkan pekerjaan itu? Menipu, berbohong, atau dengan sogok menyogok?

Saya punya web yang pembacanya mencapai 40 ribu perhari, pernah ditawarkan pemasangan iklan dengan pembayaran 2 juta perbulan. Iklannya mereka sediakan, saya hanya tinggal pasang saja. Berat memutuskan, karena iklan yang akan dipasang iklan perjudian. Mata serasa berkunang kunang sedih di saat lagi butuh-butuhnya. Ya Allah kenapa mencari yang halal susah begini….

“Mencari yang haram saja sulit, apalagi mencari yang halal.” Slogan ini muncul dari mereka yang menyerah terhadap ujian mencari yang halal. Penyebannya karena tidak bisa membedakan antara gaji, uang dan rezeki. Gaji, uang bisa banyak tapi belum tentu itu rezeki kita. Rezeki adalah anugerah, sumbernya dari yang Maha Kuasa. Anugerah dari yang Maha Kuasa hanya diperuntukan terhadap sesuatu yang halal. (Baca: uang, gaji dan rezeki)

Bagaimana mengantisipasi susahnya mencari yang halal? Pertama bangun kembali kesadaran kita bahwa hidup ini hanya sementara. Dunia hanya tempat persinggahan untuk menguji sejauh mana persaksian kita di hadapanNya. Sudah jelas, sesuatu yang haram dan masuk ke dalam tubuh, balasannya api neraka.2

Kedua, sesuatu yang tidak halal akan membuat kita betah dengannya. Hal ini juga dikarenakan andil iblis seperti yang sudah disebutkan di bagian awal. Sesuatu yang kita dapatkan namun itu haram, maka kita akan berlama lama dengan hal itu dan sangat sulit memulai dari awal. Akan selalu ada alasan pembenaran terhadap hal yang tak halal. Perhatikan Firaun, Abu Jahal, dll. Mereka tahu, yang mereka lakukan tidak halal, tapi mereka sulit meninggalkannya.

Ketiga, dalam beberapa riwayat, sedekah bisa jadi penghapus dosa-dosa yang telah dilakukan sebelumnya. Sayangnya, ada beberapa dosa tidak bisa dihapuskan dengan pahala sedekah bahkan haji, namun bisa dihapus dengan susahnya mencari sesuatu yang halal.3 Memang, dibutuhkankan kekuatan besar untuk melakukan itu. Karena terkadang kita membiasakan diri terhadap sesuatu yang tidak halal jika itu sedikit. Kita lupa, sedikit banyak efek terhadap diri sama saja.

Keempat, sesuatu yang halal akan menghasilkan keberkahan hidup. Keberkahan bukan cuma untuk diri sendiri tapi juga untuk keluarga, anak keturunan. Mudah mengharap anak keturunan jadi baik, tapi sulit memberikan yang halal kepada mereka. Saya pernah menemukan orang yang anaknya semua profesor, saya tanya resepnya apa? “Saya tak pernah memberikan sesuatu yang tidak halal kepada mereka. Samar pun tidak.”

halal

Kendala yang sering saya dapatkan pada mereka yang merasa susah mencari yang halal adalah rasa malu kepada sesuatu yang sebenarnya bukan hal memalukan. Banyak orang malu jualan padahal berjualan dengan cara dan proses yang halal sangat mulia. Malu mengajar, padahal mengajar dengan baik juga pekerjaan mulia. Ini terutama dialami oleh orang yang pernah jaya sebelumnya.

Mencari yang halal memang susah, tapi ada hikmah, ada berkah besar di baliknya. Lakukan sepanjang umurmu….

  1. “Sesungguhnya Allah menyukai hamba yang bekerja dan terampil. Siapa yang bersusah payah mencari nafkah untuk keluarganya maka ia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah.” (HR. Ahmad)
  2. Tidak akan masuk ke dalam surga sebuah jasad yang diberi makan dengan yang haram (HR. Abu Ya’la, al-Bazzar, Ath-Thabrani dalam Kitab Ausath dan al-Baihaqi)
  3. Sesungguhnya di antara dosa yang tidak bisa ditebus dengan pahala shalat, sedekah atau haji, maka bisa ditebus dengan kesusah-payahan dalam mencari nafkah. (HR. Thabrani)

Tinggalkan Balasan