Surat Buat Cebong dan Kampret

To:
Terbangkan ke jari insan cita Cebong dan Kampret Di_ Beludru Peraduannya

Cebong dan Kampret

Dear cebong dan kampret!

Kumulai surat ini dengan mengajak pikiran kita ke belakang. Jauh…. Pernahkah kita membayangkan ibu meregang nyawa saat melahirkan kita? Ayah pusing tujuh keliling berusaha agar semua berjalan normal. Kita lahir lalu diberi nama yang baik, keren, artinya bagus, menarik perhatian, dan paling penting pada nama itu ada harapan kelak kita seperti dari arti nama yang diberikan. Namun hari ini usaha ibu dan ayah kita tak hargai, karena kita memberi nama orang lain cebong dan atau kampret.

Kita bisa mengelak, itu bukan nama. Cebong dan kampret hanyalah gelar. Iya, dan itu gelar tak baik. ولاتنابزواباالالقاب “Janganlah kalian saling memberi gelar yang buruk” QS. al-Hujarat ayat 11. Ah itu bukan gelar, itu hanya sinisme, ungkapan sinis yang mewakili perasaan. Iya, tapi kita memberi label pada manusia bukan sekedar orang atau orang-orangan.

Kamu cebong dia kampret, dia cebong atau kamu kampret! Sepertinya tak ada gelar lain. Serendah itukah mutu kemanusiaan sehingga sinis kepada hal baik? Jika dia mendukung ini dan kamu mendukung itu, maka salah satu harus dipilih, cebong atau kampret. Baiklah, dia cebong berarti kamu kampret. Bukan! Dia kampret dan kamu cebong!

Hai para cebong dan kampret yang mulia! Ini hanya kompetisi sementara. Kalian hanya mendukung satu dari dua pasangan terbaik. Mereka putra terbaik bangsa. Mereka manusia, makhluk terbaik Tuhan. Manusia yang juga punya akal budi, pengalaman, punya kelebihan, pun punya kekurangan. Cebong dan kampret juga punya kelebihan. Cebong dan kampret punya kekurangan. Tak elok memberi nama, gelar, label kepada manusia dengan sesuatu yang kurang pantas.

Cebong dan Kampret! Apa yang kalian kejar? Akankah kalian tetap jadi cebong dan kampret? Lalu sampai kapan? Jika dukungan cebong menang, dia tak akan berubah jadi kampret. Sebaliknya jika dukungan kampret menang, juga tak akan berubah jadi cebong. Namun, istilah cebong dan kampret akan melekat erat. Selama cebong masih ada, kampret akan tetap eksis. Sebaliknya juga demikian.

Jangan katakan kalian berjuang demi sosok yang kalian cintai. Tidak! Putra terbaik pasti tak ingin diperjuangkan dengan cara tak baik. Jangan kira kalian berjuang agar pendukung makin bertambah. Tidak! Karena pendukung akan mendukung sesuatu yang dianggapnya baik. Bukan cebong atau kampret.

“Hai cebong mari makan!” “Hai kampret ayo jalan jalan!” Cebong dan Kampret tak akan beranjak. Bukan tak mau diajak makan, bukan tak suka jalan-jalan. Mereka enggan, karena mencoreng perasaan dengan sebutan tak layak. Cebong tak akan bisa mengajak kampret memihak ke sosok yang didukung, pun demikian dengan kampret. Bisa jadi bukan karena tak suka, tapi kalian telah memanggil dengan panggilan tak layak.

Cebong dan Kampret yang saya sayangi. Tentu kita tak mau dipanggil anak cucu dengan nama cebong dan kampret. Karena kita tahu itu panggilan tak baik. Tapi cebong masih tega berbuat memanggil yang lain dengan kampret, dan kampret juga sama. Kalian agois terhadap anak cucu sendiri!

Cebong dan Kampret yang saya cintai. Hanya kalian yang bisa menghentikan semua ini. Para cebong, hentikan memanggil manusia dengan kampret. Para kampret hentikan memanggil manusia dengan cebong. Siapa yang harus memulai? Mereka yang akal budinya berfungsi dengan baik. Mereka yang jiwanya masih sadar. Mereka yang menghargai kemanusiaan. Mereka yang paham bahwa manusia adalah tuhan (dengan t kecil) yang kuasa tapi tidak Maha Kuasa.

Sebagai untaian kalimat terakhir, saya haturkan permohonan maaf kepada orang tuamu, ibu bapakmu. Karena memanggilmu cebong dan kampret di surat ini. Kalau surat ini bisa menggerakan hatimu, abaikan sebutannya, karena saya tahu yang suka membaca bukan dari golongan cebong dan kampret.

Indonesia 15 Februari 2019 Saudara kemanusiaan; lihin

 

*Image credit: blog.unes.ac.id

Tinggalkan Balasan