Sulawesi atau Sulabesi; Aku Jadi Ongol-Ongol | Kisah 9 Hari di Maluku Utara

Aku jadi Ongol-Ongol (12 Mei 2013)

Bosan di kamar, saya memilih duduk di beranda penginapan. Ingatanku jatuh pada sambutan Wakil Bupati kemaren. Katanya di Kabupaten Sula ini ada kecamatan yang namanya Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Timur, dan Sulawesi Tengah. Seribu satu macam perkiraan di kepalaku mengingat kebanyakan penduduk Kabupaten Sula adalah pendatang. Apa iya, penamaan daerah didasarkan dari asal penduduk pendatang yang bermukim?.

Secara kebetulan, tiga perempuan separuh baya, yang tampaknya masyarakat lokal, juga duduk di kursi sebelah. Segera kutanyakan. Ketiganya, terbahak. “bukan Sulawesi daeng, tapi Sulabesi.” Ketawa mereka seakan membuatku menjadi Ongol-Ongol. Aku jadi tertawa sendiri.

“Terus, asal mula dikatakan sulabesi dengan pembagian selatan, timur, barat, dan tengah sepeti pulau sulawesi apa?” tanyaku penasaran. Aha, kini mereka yang menjadi Ongol-Ongol, tak tahu jawabanya. “Besi dari kata Sulabesi apa?”, tanyaku lagi. Mereka saling pandang. “kita sama-sama Ongol-Ongol,” kataku dengan riang. Tampaknya kata Ongol-Ongol pun mereka tidak mengerti.

Dalam kamus, kata Ongol-Ongol memang sejenis penganan, kue yang terbuat dari sagu. Umumnya berbentuk segi tiga. Ada kaitannya dengan makanan khas Maluku Utara, yang terbuat dari sagu. Namun tak sedikit kata Ongol-Ongol meski tak ada dalam kamus online sekalipun, berarti perpaduan dari sikap bodoh, tolol, atau kelihatan bodoh dan tolol. Saya tak tahu asal kata Ongol-Ongol berarti demikian, mungkin diambil dari bentuk kue Ongol-Ongol. Entah.

 

Tiga wanita paruh baya itu kemudian menjelaskan, kalau di Kabupaten Kepulauan Sula ada tiga pulau di mana Pulau Sulabesi yang merupakan ibukota kabupaten memiliki jumlah penduduk 47.191 jiwa (37%). Terdiri dari 19 Kecamatan Difinitif, 124 desa. Luas Pulau Sulabesi sekitar 1.476,152 Kmpersegi.

Hebat benar wanita ini menjelaskan. Apa mereka mengerti makna kata Ongol-Ongol?

Bersambung

Tinggalkan Balasan