Strategi Selamat dari Ujian Nasional; Kisah

Kakiku melangkah gontai ke sekolah. 5 hari lagi siswa kelas IX akan melaksanakan Ujian Nasional. Sebagai ketua pelaksana, banyak hal yang menjadi tanggungjawab, membebani perasaanku. Sangat berbeda ketika masih memimpin BEM waktu mahasiswa dulu. Seakan menjadi tradisi masa lalu, seorang ketua panitia bertanggungjawab atas pelaksanaan dan kelulusan siswa pada tahun pelajaran itu.

Strategi “curang” sebenarnya sudah kupersiapkan. Tujuannya satu, anak-anak lulus dan mereka tahu bahwa itu adalah usaha mereka sendiri. Dilema dalam lingkaran yang tidak safety, tak mampu menyeruak ditengah himpitan prinsip idealis dan sumpah jabatan.

“Tahun pertama saya di sini, idealisme masih berlaku, hasilnya 8 siswa tidak lulus”. Demikian kalimat Kepala Sekolah yang selalu terngiang menyumbat telingaku yang basah, tergesa dan tak sempat mengeringkannya sehabis mandi. “Saya serahkan sama ketua pelaksana, cara dan strateginya. Jabatan menjadi taruhan”. Tambahnya. “saya pasti mendengar pimpinan, dan taat aturan”. Kataku dalam hati. Harus ada strategi baru yang tidak populer, meski sedikit “curang”. Miris..

***

Kelas pertama kumasuki berhadapan dengan anak-anak dengan pandangan buram menatap masa depannya. “Hari ini ada informasi penting terkait yang ananda akan lakukan lima hari lagi. Tolong dengar dan pahami baik-baik. Jika ada pertanyaan di hati, meski berat sampaikan saja”. Kalimat pertamaku sambil berusaha menatap mereka tajam.

“Berapa hari yang lalu, saya mendengar ada bocoran kunci jawaban dibeli oleh kakakmu di SMA, jika dari kelas ini ada yang berniat menempuh langkah seperti itu, saya harap dihentikan. Tidak ada jaminan bocoran yang diperjualbelikan diakui keabsahannya”. Mendengar kalimat itu, mataku menangkap sebagian dari mereka gelisah, pertanda besar mereka sebagian telah merencanakan itu. Kutambah penjelasan yang bisa meyakinkan mereka mengenai sampul, jalur datangnya soal UN, sampai masalah pelanggaran hukum. Untuk yang ini, mereka tidak menanggapi.

“Taati peraturan yang sudah kalian baca sebelumnya. Jika dalam peraturan itu ada larangan tinggalkan, jika ada perintah laksanakan”. “Bagaimana dengan HP pak”?, seorang siswi menimpali. “Bukan Cuma HP, barang elektronik, mesin hitung dilarang dimasukkan dalam ruangan ujian”. Jawabku spontan. Ujung mataku menangkap kegelisahan menjadi-jadi dari siswi yang bertanya tadi.

“Kerjakan soal yang kalian mampu kerjakan. Kerjakan semaksimal mungkin. Satu soal selam 15 menit, tidak jadi masalah. Jika yang kalian mampu hanya 5 atau 10 nomor, itu saja !!!”. Sontak kelas jadi gaduh. Beberapa siswa bertanya secara bersamaan. “Bagaiman bisa lulus pak?”. Aku terdiam, bagaimana menjelaskan apa yang ada dalam peikiranku ke mereka. Haruskah aku bersikap otoriter, memaksa mereka melakukan tanpa alasan. Rasanya tak mungkin.

“Ananda semua, satu soal yang kalian kerjakan selama 30 menit dan benar lebih berharga daripada 40 soal tapi semua tidak benar”. Hanya itu alasanku menutup pertemuan dengan mereka. Aku tahu dalam pikiran mereka ada kebingungan besar, antara mendengar, melaksanakan atau kembali dengan rencana mereka semula.

Suara bel sekolah terdengar parau menandakan energi bateray sudah soak seperti soaknya perasaanku hari ini.

Spesial for ananda kelas IX 2012

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.