Mengintip Strategi Ahok Memenangkan Pilgub DKI 2017

Bagaimana caranya? Malam lalu, tim Teman Ahok konon mendatangi Ahok dirumahnya, untuk mendapatkan kepastian. Di sana ada pilih A atau B. Pilih Djarot yang tersandera kepentingan PDIP atau pilih calon wakil lain, yang jelas Tim Teman Ahok butuh kepastian, waktu sudah mepet. Lalu Ahok memutuskan keputusan yang menurut dia sendiri “berada di ujung tanduk.” Bisa-bisa tidak ikut Pilgub. Baca beritanya di sini. Benarkah demikian? Hehehehe

Ingat pemain sulap punya dua tangan. Benarkah hanya karena tim Teman Ahok, Ahok lalu berani ambil keputusan yang membahayakan target DKI 1 karena bisa jadi gagal nyalon? Ingat di luar sana, banyak partai menunggu. Sangat aneh, jika kepastian menjadi calon yang pasti diubah menjadi tidak pasti hanya karena tim Teman Ahok. Bagi saya tidak. Tapi itulah cara agar membuat pendukungnya yang ada saat ini ikut merasakan bahwa keadaan sudah genting. Mereka harus merasa sadar bahwa “ Ahok sudah di ujung tanduk, ayo bantu dia. Ayo kita bahu membahu dalam satu komando, jangan sampai karena kita begini, Ahok gagal maju…” jika strategi ini berhasil, akan ada ratusan ribu pendukung Ahok yang super militan.

Analisa saya ini bisa kita lihat beberapa hari, minggu, bulan ke depan, sejauh mana intensitas pergerakan tim Teman Ahok, dan bagaimana media pendukungnya menjadi perisai untuk itu. Saya prediksi akan ada verifikasi pendukung, akan ada pembagian korlap, akan ada perhitungan titik, dll. Kalau yang lebih seram, nanti ada intimidasi, kesan mereka dizhalimi, dll. Biasalah dalam pergerakan pembentukan militansi komunitas.

(baca juga: perkataan Ahok “Ngaco”)

Strategi Ahok kedua, bahwa kelemahannya karena dia non muslim di daerah muslim terbesar. Karena ideologi dan keimanan adalah salah satu alasan keberpihakan di antara beberapa alasan keberpihakan dalam menentukan pilihan lainnya, olehnya itu kisruh dan hiruk pikuk Pilgub DKI harus makin ramai. Semakin ramai berita tentang Pilgub DKI terdengar, maka semakin menguntungkan bagi Ahok dan timnya.

Pengamatan dan penilaian pemilih harus dipecah, kalau perlu diurai. Keberuntungan akan jauh dari Ahok jika calon hanya ada dua pasang, karena kesan muslim vs non muslim akan muncul. Penulis tidak tahu siapa wanita emas, dan bahkan sedikit heran kenapa Ahmad Dani tiba-tiba bersikukuh ingin maju di pilkada. Kenapa baru sekarang gitchu lho? Saya juga heran dengan Yusril yang rela turun status memperebutkan kue di piring gubernur bukan kelas presiden. Disengaja atau tidak, ini adalah harapan dan strategi Ahok dan timnya menurut saya.

strategi-ahokAhok dan timnya akan menang cetar membahana jika strategi ini berhasil. Publik akan dibuat terpecah. Pusing menentukan pilihan. Yang muslim dan akan memilih muslim bukan lagi bahaya bagi Ahok, karena ada 4 atau 5 pilihan. Sisi lain pendukung super militan yang sudah disebutkan tadi akan memainkan perannya. Jika 1 juta KTP adalah pendukung militan, maka nilai paling buruk di sesi akhir adalah kisaran 3 juta suara.

Strategi Ahok dan timnya yang ketiga, menyimpan partai sebagai kuda hitam dalam permainan catur. Nasdem mendukung, yang lain belum. Ada partai pendukung yang akan terlihat bermusuhan dengannnya, tapi sebenarnya tidak. Sepertinya akan panjang membahas strategi Ahok yang ketiga ini. Saya juga capek menulis.

Selamat menikmati analisa saya. Jangan percaya dengan analisa ini, karena saya bukan praktisi politik apalagi tim kampanye. No !!!

Tinggalkan Balasan