Spekulasi Wacana Pencalonan Capres Ani Yudhoyono

Wacana Ani Yudhoyono bakal menjadi capres dari Partai Demokrat semakin santer belakangan ini. Meski pencalonan Ani belum diputuskan secara resmi oleh Demokrat, namun sinyal kemungkinan besar itu ada.

Beberapa fungsionaris partai berkuasa memilih setidaknya dua alasan untuk pencalonan Ibu negara ini. Pertama, karena amandemen konstitusi saat ini telah mengatur tegas bahwa seorang presiden tidak boleh lagi menjabat setelah dua periode kepemimpinannya. Kedua, sejumlah survei menyebut 50% rakyat masih menginginkan SBY menjabat kembali sebagai presiden. Artinya, kalau rakyat masih suka pak SBY, maka ibu Ani adalah orang terdekat representasi dari SBY. Atau dalam bahasa matematika, SBY = Ani.

Secara terpisah ibu negara menolak untuk berkomentar seputar kemungkinan beliau pencalonannya sebagai presiden. “No comment. Saya kira tidak tepat saatnya untuk bertanya-tanya seperti itu,” katanya.

Terlepas dari adanya peluang Ani Yudhoyono sebagai istri presiden untuk pemilihan presiden mendatang, bagi penulis, wacana ini hanyalah bentuk pengalihan isu, atau mungkin dalam rangka bersih-bersih partai yang mungkin sudah “kotor”. Ada beberapa hal yang perlu dicermati, setidaknya sebagai alasan bahwa wacana tersebut, bukanlah wacana yang menargetkan tujuan sebenarnya.

Pernyataan resmi SBY

Ketika menyampaikan kuliah umum pada Indonesian Young Leaders Forum 2011 di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, beliau (SBY) menegaskan bahwa keluarganya, baik istrinya, Ani Yudhoyono, ataupun kedua anaknya, Agus Harimurti dan Edhie Baskoro, tidak akan maju ke Pemilihan Presiden 2014.

SBY juga menegaskan bahwa semua orang Indonesia berhak maju dan memiliki peluang yang sama untuk maju dalam Pilpres 2014. Namun, siapa yang terpilih nanti haruslah sesuai kehendak rakyat. “Biarlah rakyat dan demokrasi yang berbicara pada 2014. Setiap orang memiliki hak dan peluang untuk running for RI-1”. Katanya. Pernyataan tersebut sekaligus memberikan signifikansi yang cukup penting untuk menjernihkan isu pencalonan ibu negara.

Jika selama ini bapak Presiden jujur, akankah pencalonan istrinya membantah kejujuran yang selama ini digembar-gemborkan oleh kader partai yang didirikannya sendiri?. Rasanya tidak mungkin. Alasan “jika rakyat menghendaki”, justru akan menjadi boomerang, dan menimbulkan pertanyaan, rakyat yang mana.

Politik dinasti

Pengaruh kekerabatan di dalam partai politik dalam definisi politik dinasti ini, bukan hanya bisa dilihat dalam posisinya di tubuh partai politik. Hasrat untuk mengekalkan diri adalah sifat alamiah mendasarnya. Berangkat dari pemahaman kekuasaan politik hendak dijalankan secara turun-temurun di atas garis dan kekerabatan, bukan didasarkan pada kualitas kepemimpinan, tujuan-tujuan bersama, keputusan dan kerja-kerja asosiatif.

Saat ini masyarakat di Indonesia belum dapat menerima dinasti politik pasca zaman pemerintahan otoriter Soeharto yang pernah memasukkan putri sulungnya Siti Hardiyanti Rukmana ke dalam kabinet. Untuk di Indonesia, political dinasty malah dianggap nepotisme dan sistem otoriter. Ketika, Habibie memasang Hikam anaknya sebagai MENRISTEK, pada zamannya, malah dinilai sebagai bentuk nepotisme. Meskipun sang anak memiliki kemampuan untuk itu.

Pengusungan nama Ani Yudhoyono dalam bursa pencapresan meskipun baru sekedar wacana, tentu menuai dampak miring dari pemahaman masyarakat yang bergeser ke arah keinginan presiden saat ini membentuk political dinasty. Sederhana, setelah Ibu Ani dua priode, siapa lagi kalau bukan anaknya.

Elektabilitas yang tak mendukung

Hasil survei CSIS yang dilakukan 16–24 Januari 2012 dengan melibatkan 2.117 responden menunjukkan bahwa tingkat elektabilitas Ani Yudhoyono berada di peringkat keenam (3,0%) di antara nama-nama tokoh nasional yang masuk bursa bakal capres 2014. Peringkat pertama hingga kelima berturut-turut Megawati (10%),Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto (6,7%), mantan Ketua Umum DPP Partai Golkar Jusuf Kalla (5,6%), Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie (5,2%), dan Sri Sultan Hamengku Buwono X (3,1%). Sumber

Apa penyebanya?. Salah satunya adalah nama Ani relatif sulit dijual kepada pemilih di luar basis utama Demokrat. Alasannya, Ani sangat identik dengan SBY dan sebagian masyarakat kecewa dengan pemerintahannya. SBY pun akan dinilai inkonsisten dengan ucapannya dan bisa ditanggapi nyinyir oleh kelompok rational voter. alasan lain beberap kalangan yang meragukan sosok Ani sebagai pemimpin., pemikiran-pemikiran kebangsaan Ani Yudhoyono dan jaringan internasionalnya selama ini tidak tampak selain sebagai pendamping SBY.

Jika selama ini partai penguasa kerap mengandalkan hasil survey sebagai langkah dari tiap kebijakannya, maka pencalonan ibu Ani tidak semestinya dibesar-besarkan. “Buat apa maju, kalau hanya untuk kalah”. Demikian prinsip politik yang kebanyakan dianut para politisi.

Tiga alasan faktual di atas, bagi penulis hanyalah spekulasi adanya dilema internal partai tersebut dengan krisis tokoh untuk pencalonan. Terlebih setelah SBY tidak mungkin dicalonkan kembali, sementara Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum partai Demokrat terimbas kasus terkait mantan Bendaharanya, Nazaruddin.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.