Semalaman di Atas Laut | Kisah 9 Hari di Maluku Utara

Semalaman di Atas Laut (11 Mei 2013)

Sedikit riskan dengan kaos bertuliskan official besar di punggung. “Biar kredibilitasnya kelihatan,” kata Pak Haji. Menenteng tas dengan tenaga penuh ke sisi pelabuhan kota Ternate. Maklum sudah mendapat tambahan kostum 4 pasang. Sesuai rencana perjalanan dilanjutkan semalaman menggunakan kapal laut ukuran sedang.

Sudah banyak yang menunggu ketika memasuki dek 2 kapal yang katanya dibuat di Kabupaten Buton. Dengan wajah dan kostum berbeda, peserta lain menuju dan memilih tempat istirahat mereka di ruangan lebar, dan ranjang bertingkat yang cukup gerah itu. Aku sendiri memilih tempat tidur di bagian atas. Biar lebih leluasa tentunya.

Kepulauan Sula tujuan kami. Sebuah kabupaten pemekaran pada tanggal 31 Mei 2003 sesuai dengan Undang-undang Nomor 1 Tahun 2003. Saya sendiri tak tahu banyak mendengar tentang kabupaten ini pada awalnya, kecuali tentang pengusutan tiga dugaan korupsi yang melibatkan Bupati Sula, yaitu pembangunan kantor Bupati Sula sebesar 48 miliar tahun anggaran 2008-2010, kasus pembangunan Mesjid Raya Sula sebesar Rp 23,5 miliar tahun anggaran 2010, dan kasus pembangunan Jembatan Waikolbota senilai Rp 4,7 miliar tahun anggaran 2009. Ini saya kutip dari majalah tempe, kata trio macan 2000.

Sebenarnya untuk menuju ke Kabupaten Kepulauan Sula dengan jarak sekitar 284 dari kota Ternate ini, dapat ditempuh melalui penerbangan udara dan pelayaran laut. Namun, masyarakat di sana memblokir landasan pesawat dengan alasan pembebasan tanah yang tak kunjung selesai. Akhirnya dengan kapal laut semalaman, menjadi pilihan satu-satunya ke kepulauan ini.

Berbeda ketika menumpang di kapal laut lain, kali ini terkesan lebih islami dan tenang. Banyak hal yang sama, seperti kondisi kamar mandi kapal, makanan, dan tentunya hawa menggerahkan. Tapi perbedaan yang cukup mencolok disebabkan penumpang adalah para hamil al-Quran, juara dari masing-masing Kabupaten di Maluku Utara. Tak ada riuh tak berguna, percakapan terdengar berbau agama, sesekali terdengar musik kasidahan, dan suara sayup pembaca al-Quran.

Selepas maghrib, saya memilih tidur sampai tengah malam. Terbangun untuk menunggu datangnya subuh dengan matahari muncul diatas permukaan laut. Tak perlu dibangunkan, goyangan kapal akibat ombak sudah cukup. Semalam di atas kapal dengan ayunan ombak menjadikan waktu semakin lama. Kesadaran diri dihantarkan untuk senantiasa memposisikan diri sebagai hamba tak kuasa. Tak mengherankan pula, jika dalam al-Quran banyak sekali ayat membahas tentang kekuasaan Allah, dan kondisi laut.

Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan ni’mat Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebahagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur.

Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang yang tidak setia lagi ingkar.

Demikian firman Allah dalam surah al-Angkabut 31 dan 32. “Tuhan betul-betul Maha Kreatif.” Pikirku.

Bersambung

Tinggalkan Balasan