Selamat Datang Pak Amran!

Selamat Datang Pak Amran!. 15 Februari, hari bersejarah bagi masyarakat Wajo tanpa terkecuali. Pun hari ini menjadi sejarah hidup bagi duo Amran, Dr. Amran Mahmud dan Amran, SE. Pagi sekitar pukul 9.00, keduanya menerima amanat secara resmi memimpin kabupaten Wajo 5 tahun kedepan di aula kantor Gubernur Sulawesi Selatan.

Menang telak pada pilkada 27 Juni 2018 dengan pertarungan head to head, bukan kejadian biasa. Setidaknya duo Amran telah mengukir sejarah dan menghapus jejak dan kisah-kisah konon yang sudah menggurita sejak lama. Katanya, yang memimpin Wajo harus dari keturunan bangsawan. Katanya, yang menang pilkada harus punya banyak modal (duit). Katanya yang bisa jadi bupati di Wajo harus dari keturunan ini itu.

Pak Amran membuktikan, itu hanya “katanya.” Katanya yang bisa jadi benar bisa pula hanya fiksi untuk mengaktifkan imajinasi menakuti. Harus dari keturunan bangsawan, duo Amran akan membuktikan bahwa mereka memiliki sifat kebangsawanan. Harus punya modal, Amran Mahmud membuktikan, bahwa modal kepercayaan itu jauh lebih bernilai dibanding modal uang. Harus dari keturunan ini itu, duo Amran membuktikan dia keturunan ayah ibunya. Lahir dari tempat terhormat dan akan bertanggungjawab dalam hidup secara terhormat.

10 tahun sudah masyarakat Wajo menikmati hasil demokrasi one man one vote, satu orang satu suara. Setiap pilihan rakyat yang dilakukan di bilik suara, disertai harapan besar bagi masa depan kehidupan mereka dan anak cucunya. Patut disyukuri karena masyarakat masih punya harapan. Terutama harapan berubah ke arah yang lebih baik.

Saat masyarakat memilih duo Amran, pilihan itu bermakna memberikan kepercayaan agar mereka dibawa ke arah yang lebih baik. Masyarakat ingin maju, maju dengan definisi mereka. Bentuknya seperti apa, tergantung hidup yang mereka lakoni. Petani ingin pertanian meningkat, nelayan, ingin hasil tangkapan ikan meningkat, dst. Maju artinya ke depan bukan ke belakang atau jalan di tempat. Itulah amanah masyarakat yang harus dipegang bukan sekedar teriakan tagline, atau kata penghias baliho.

Semua pemimpin punya kelebihan dan punya pula kekurangan. Kita tak mungkin membahas kelebihan dan kekurangan itu. Kita tak perlu melihat ke belakang. Tataplah ke depan, karena di depanlah ada harapan. Waktu berjalan cepat, dan masyarakat menunggu solusi untuk mereka. Masalah pertanian, infrastruktur, pendidikan, candoleng ndoleng, pungli, sinergitas aparat, dan masih banyak masalah menunggu sentuhan pemimpin baru amanah masyarakat.

Duo Amran adalah pemimpin politis karena lahir dari kolaborasi piranti politik dan masyarakat. Dalam politik tak ada teman sejati, yang ada hanya kepentingan sejati. Tugas pertama, utama dan selama memimpin, duo Amran diharapkan bisa menghapus peran politis ini. Sebagai bupati dan wakil bupati yang menakhodai masyarakat Wajo, semoga kebijakan dilaksankan bukan dengan paradigma politik. Tak ada lagi lawan politik, semua butuh diayomo tak pandang bulu.

Poto pelantikan Duo Amran di Aula kantor Gubernur Sulawesi Selatan

Malam ini lapangan merdeka Sengkang penuh sesak, menjadi saksi menyambut kedatangan pemimpin mereka yang baru. Terlihat mereka hadir dengan wajah suka cita. Senyum mengembang sambil berteriak “pammase…” Lima tahun ke depan, semoga wajah itu masih tetap berseri, senyum mengembang meski mereka tak perlu lagi berteriak dengan ucapan yang sama. Insya Allah itu akan terjadi jika duo Amran bisa menjadi pemimpin seperti cara memimpin Nabi-Nabi terdahulu.

Pak Amran pasti tahu kisah Nabi Sulaiman as dengan ujian kekuasaan. Pak Amran tahu kisah Nabi Yusuf as yang gagah perkasa dengan ujian digoda wanita cantik. Apalagi kisah Nabi Daud yang memberikan pelajaran ketegasan dan keberanian mempertahankan kebenaran sambil memasang baju besi melawan musuh dalam selimut dan luar selimut. Kisah itu menjadi teladan dalam menjalankan roda pemerintahan yang amanah.

Mengakhiri opini ini, banyak yang menunggu pak Amran, menunggu kiprah Dr. Amran Mahmud dan Amran, SE. Pemilihnya, partisannya, masyarakat Wajo, bahkan mungkin musuh politiknya. Menunggu dengan konotasi berbeda dan beragam. Menunggu kiprah bupati baru seperti apa. Menunggu kiprah pengusaha jadi birokrat juga seperti apa. Itulah sebabnya saya menggunakan judul “Selamat datang pak Amran.”

ان تنصروا الله ينصركم ويثبت اقدامكم

Tinggalkan Balasan