Sekolah di Bulan Suci Ramadhan, Iya atau Tidak?

Celoteh saya kali ini iseng saja, terkait dengan masalah lama, yaitu “sekolah di bulan suci Ramadhan.” Selalu saja ada sepakat dan tidak sepakat pada sebuah kebijakan, dan terkadang ketidaksepakatan itu umumnya berdasarkan ukuran kita untuk melakukannya. Seperti halnya sekolah di bulan suci Ramadhan, banyak orang tidak sepakat tidak mampu melaksanakannya, demikian pula sebaliknya.

32 tahun Soeharto berkuasa, pada bulan suci Ramadhan sekolah diliburkan. Masa Gusdur juga demikian. Kalau tak salah, program sekolah di bulan suci Ramadhan dihentikan sejak zaman Megawati, dan kemudian aturan tentang itu hari ini lebih fleksibel, tergantung kebijakan pemerintah daerah setempat.

Jika melihat berbagai alasan kenapa sekolah diliburkan pada bulan suci Ramadhan, alasan yang paling rasional dan tidak terkait dengan sepakat dan tidak sepakat adalah memuliakan bulan yang hanya datang sekali diantara 12 bulan dalam setahun. Seperti hari besar yang dimuliakan dengan libur, bulan Ramadhan dimuliakan dengan meliburkan sekolah. Selain faktor memuliakan ini, antisipasi kekuatan anak sekolah usia baligh dan latihan berpuasa bagi yang belum baligh juga menjadi pertimbangan. Tak heran, ditemukan lebih banyak anak yang tidak berpuasa jika sekolah diliburkan, dibanding sekolah di bulan suci Ramadhan.

Semua hal memiliki sisi buruk. Kebijakan beberapa pemerintah daerah meliburkan sekolah di bulan suci Ramadhan, selain membantu subsidi kekuatan free kepada siswa, ternyata siswa yang libur juga terjebak kepada hal negatif. Banyak siswa yang tidak sekolah di bulan suci Ramadhan lebih banyak bermain dibanding mengulangi pelajaran sekolahnya.

Selain itu, subuh hari, program jalan-jalan subuh sekaligus wakuncar (waktu kunjung pacar) bagi yang tidak sekolah di bulan suci Ramadhan memiliki waktu lebih luang di banding yang sekolah. Tentu hal ini akan mudah diantisipasi, jika waktu subuh mereka diperpendek dengan persiapan berangkat sekolah.

Jika dikerolesaikan dengan masalah ibadah, belajar adalah ibadah. Kurangnya animo belajar dengan tidak memberikan ruang anak sekolah di bulan suci Ramadhan otomatis mengurangi nilai ibadahnya kecuali, yang bersangkutan tetap belajar di rumah.

Bagi saya, sekolah di bulan suci Ramadhan atau tidak, memiliki porsi kebaikan dan keburukan yang masih debatebel, dan tergantung bagaimana kita menyikapinya. Anda?

Tinggalkan Balasan