Sejak Kapan Saya NU?

Sejak kapan saya NU? Pernyataan yang dilontarkan salah seorang dosen di sela perkuliahan. “Saya kadang diajak masuk struktural organisasi NU.1 Saya bilang, saya di luar saja, karena saya tak tahu sejak kapan saya NU.” Ungkapnya. Pernyataan yang menyadarkan saya. Karena saya pun NU. Saya kadang marah. “Kamu bukan NU, kamu muktazilah.” Pokoknya, jika ada yang mengatakan saya bukan NU, saya marah, namun tak tahu sejak kapan saya NU.

Saya masih ingat dengan almarhum bapak saya. Dulu, beliau sangat tidak suka dengan salah seorang calon presiden. Namun ketika orang itu berpasangan dengan kyai Hasyim Muzadi yang ketua NU, dia berkata, “saya dukung pak Hasyim, karena dia NU.” Saya sempat heran dan bertanya. Namun tak ada jawaban kala itu. Saya hanya menduga itu bentuk ittiba’, bentuk keikutsertaan terhadap gurunya yang semua adalah ulama sepuh NU.

Banyak yang mengaku NU (mungkin termasuk saya), hanya melihat bahwa NU itu adalah ajaran. Ajaran para ulama sepuh beraliran ahlu sunnah yang berkumpul dan berserikat. Apa yang digagas oleh ulama2 diikuti oleh pengikutnya, santrinya, pengagumnya, sehingga jika ulama itu menyatakan bahwa beliau adalah bagian Nahdhatul Ulama, maka pengikutnya juga demikian.

Berbeda dengan organisasi kebanyakan yang warganya adalah mereka yang pernah mengikuti salah satu pengkaderan, pelatihan, dan dikukuhkan menjadi anggota organisasi yang dimaksud. Jika warga NU seperti itu, maka jumlahnya tidak sefantastis sekarang. Saat disebut bahwa pengikut NU di indonesia ada 91 jutaan, itu wajar. Karena warga NU yang seperti saya, yang tak tahu sejak kapan jadi NU, mungkin jumlahnya tidak sedikit.

NU

NU sebagai organisasi dengan model pengikut seperti ini, tak akan mudah dihancurkan. NU akan selalu kuat, karena banyak warganya yang tak terdeteksi dan membela NU sebagai ajaran dari rongrongan luar, bahkan dengan cara tak terstruktur. Intinya mereka membela ahlu sunnah. Menarik, karena warga NU seperti saya tak akan ada intervensi organisasi, tak ada yang bisa memecat saya sebagai warga NU. Selain itu warga NU yang tak tahu sejak kapan dia NU juga tak bisa dihitung secara secara pasti jumlahnya berapa.

Bukan sebuah keanehan jika ada acara NU, akan sukses tanpa kerja struktural organisasi. Ini terjadi di berbagai tempat, bahkan pernah diungkapkan KH. Sujadi, mustasyar PCNU Pringsewu. Menurutnya NU memiliki kekuatan kultur yang menjadi kekuatan tersendiri dalam jamiyyah NU. Kultur terbangun bukan karena kekuatan pelantikan, pengukuhan, dan sejenisnya, tapi ikatan ajaran ahlu sunnah wal jamaah. Andai yang disebut warga NU adalah yang pernah dikader atau dikukuhkan, maka saya bukan NU.

Selamat hari lahir Nahdhatul Ulama yang ke-93.

  1. Nahdlatul Ulama (Kebangkitan ‘Ulama atau Kebangkitan Cendekiawan Islam), disingkat NU, adalah sebuah organisasi Islam terbesar di Indonesia. Organisasi ini berdiri pada 31 Januari 1926 oleh KH. Hasyim Asyari dan bergerak di bidang keagamaan, pendidikan, sosial, dan ekonomi
  2. sengaja saya bold. Maksudnya ulama beneran

Tinggalkan Balasan