Saya Hanya Takut Kepada …

Takut adalah rasa yang bersumber dari bayang-bayang pikiran. Rasa takut muncul karena perkiraan kehilangan terhadap sesuatu yang dimiliki atau merasa dimiliki. Pada konteks abstrak, saya contohkan, saat punya harapan, lalu muncul pikiran harapan itu akan hilang, maka rasa takut muncul kepada penyebab harapan itu hilang. Apalagi dalam hal nyata, rasa takut akan datang pada setiap klaim kepemilikan.

Waktu anak-anak dulu, kadang kita ditakut takuti dengan cerita-cerita fiksi sehingga muncul imajinasi menakutkan. “Ya, awas jangan lewat di situ, ada nene pakande.” Dalam pikiran kita macam-macam. Bisa saja pikiran hadirnya sosok nenek yang akan menerkam, menculik, memotong, menggigit, macam-macam. Intinya karena perlakuan nenek yang ada dalam pikiran itu kita akan kehilangan. Hilang nyawa, jika membunuh, hilang tangan jika nenek datang memotong tangan, dst.

Jadi, jika Beddu yang mengatakan “saya takut padamu,” berarti Beddu menganggap kehadiranmu melahirkan sesuatu yang dalam pikiran Beddu bisa membuatnya kehilangan. Apa yang hilang? Kita tidak tahu. Mungkin harta, reputasi, rasa, atau apalah. Beddu sudah mengkalkulasi dan hasilnya kamu bisa melakukan sesuatu yang membuatnya kehilangan.

“Saya takut hanya kepada ….” Artinya, kamu sudah mengkalkulasi lalu menganggap bahwa …. mampu membuatmu kehilangan. Jika itu diungkapkan dalam bentuk ucapan di depan …., maka titik itu tahu kamu takut padanya. Ketakutan itulah yang membuatmu akan melakukan segala hal yang diperintahkan …. jika ada perintahnya tidak kamu lakukan, artinya kamu takut hanya omong kosong.

“Saya takut hanya kepada Tuhan,” ucapan itu berarti yang bersangkutan sudah sadar bahwa Tuhan bisa membuatnya kehilangan, karena hanya Dialah pemilik segala sesuatu. Dia bisa mengambil miliknya kapan saja. Pangkat, jabatan, dll, Tuhan bisa mengambilnya kapan saja.

Jika ada orang marah-marah, ngamuk, lalu datang sosok yang berkata, “mendekatlah, saya tidak takut.” Menurut Anda apakah sosok itu benar-benar tidak takut? Saya menganggap, sosok itu takut, namun mencoba meyakinkan diri sendiri atau minimal memberi tahu orang marah-marah itu saja.

Ketakutan adalah pengetahuan yang tidak lengkap, kata Agatha Chriestie. Andai pengetahuan kita lengkap, maka takut mustahil hadir, karena kita tahu cara mengantisipasi, cara menghadapi, bahkan sebelumnya tahu menghindari.

Banyak filosof menyebut bahwa lahirnya agama, karena rasa takut. Manusia butuh sandaran terakhir yang menjadi pemilik segala yang ada, dan itu adalah x.[note]X dalam filsafat adalah simbol Tuhan[/note] Orang beragama disebabkan rasa takut berlebihan. Menurut mereka, andai manusia tidak merasa memiliki sesuatu maka agama tak perlu ada.

Segala sesuatu pada dasarnya tidak ada, yang ada ya ada itu sendiri. Ada hanya dalam diri. Dalam…. ucapan itu lahir dari aktualisasi pikiran yang dikejawantahkan oleh lisan. Ketika lisan tak ada, maka ucapan itu tidak ada. Berarti kata takut, jika diucapkan bukan lagi menjadi prinsip, karena mengabaikan kesadaran bahwa yang ada hanyalan ada itu sendiri. Itulah hakikat iman bahwa Tuhan Maha Pemilik segala sesuatu.

Manusia paripurna tidak akan merasakan takut, karena dia menganggap segala yang ada pasti akan musnah. Segala yang kita miliki pasti akan meninggalkan pemiliknya. Masalahnya hanya pada waktu, kapan yang kita miliki itu pergi. Jadi buat apa muncul pikiran takut? Ah, itu hanya dalam ucapan. Iya, itulah sebabnya, ucapan saya hanya takut kepada … adalah kalimat yang tak perlu diucapkan.

Dalam iman orang beragama, Tuhan sebagai pemilik mutlak tak perlu diperdebatkan lagi. Artinya, orang beriman tak perlu mengucapkan “saya hanya takut pada Tuhan,” buat apa? Dasar kita ber-Tuhan adalah keterbatasan kita sebagai makhluk ciptaan.

Pembuktian takut pada Tuhan adalah dengan melaksanakan segala perintahnya dan menjauhi larangannya. Selain itu bukan bukti, tapi masih batas klaim. Olehnya itu, akuilah bahwa kita takut kepada Tuhan dengan bukti bukan sekedar ucapan!