Say No to Kebetulan !

“Kebetulan” adalah kata multi fungsi yang sering kita dengar. Umumnya berfungsi bukan sebagai keyakinan, tapi hanya membela diri atau penyambung kata/ kalimat. “Kamu punya uang receh tidak?.” Tanya kepala sekolahku. Untuk menjawab, saya memakai kata penyambung sekedar memperhalus, “kebetulan tidak ada.” Yang berbahaya dari kata kebetulan, jika pemahaman kita menganggap kalau kebetulan itu benar-benar ada. Padahal tidak!. Setiap kalimat yang memakai kata kebetulan dan kebetulan itu adalah pembenaran dari pemahamannya, dipastikan tidak dapat dikatakan sebagai kalimat yang baik dan benar.

Abraham Lincoln menjadi presiden Amerika tahun 1860. John F. Kennedy jadi presiden Amerika tahun 1960. Pengganti Lincoln bernama Johnson (Andre) lahir tahun 1808. Sedangkan pengganti Kennedy juga Johnson (Lindon) lahir tahun 1908. Kedua presiden, Lincoln dan Kennedy tewas terbunuh. Pembunuh Lincoln lahir tahun 1839, pembunuh Kennedy lahir tahun 1939. Kedua pembunuh presiden ini terbunuh sebelum sempat diadili. Sekretaris Lincoln bernama Kennedy, sekretaris Kennedy bernama Lincoln. Kedua sekretaris menyarankan kepada presiden agar tidak pergi ke tempat dimana kemudian terjadi pembunuhan, namun keduanya menolak. Pembunuh Lincoln melakukan pembunuhan di teater kemudian bersembunyi di pasar swalayan. Pembunuh Kennedy, demikian pula sebaliknya.

Dalam kehidupan Rasulullah saw terdapat pula hal-hal yang dapat dinamai kebetulan-kebetulan. Beliau lahir, hijrah dan wafat pada hari Senin bulan Rabiul awal. Ayahnya bernama Abdullah (pengabdian kepada Allah), Ibunya Aminah (Kedamaian dan Keamanan). Bidan yang menangani kelahirannya bernama Asy-Syifa (kesembuhan, perolehan sempurna dan memuaskan). Sedangkan yang menyusukan beliau bernama Halimah (Yang Lapang Dada).

Melihat dua contoh dari jutaan kejadian yang diberi label kebetulan oleh manusia, mari kita coba melihat apa itu kebetulan. Kebetulan adalah suatu peristiwa yang tidak sejalan dengan kebiasaan atau terjadi secara tidak terduga. Kejadian yang tak terduga itu, kemudian didukung oleh keterbatasan kemampuan dan pengetahuan manusia, dan sampailah kita untuk menamainya demikian. Sebagai manusia yang percaya adanya Tuhan, maka tak ada kebetulan di sisi-Nya. Bukankah Dia Maha Mengetahui, Maha Berkuasa, serta Pengendali dan Pengatur alam ini?.

Keterbatasan akal menjangkau hubungan sebab akibat secara keseluruhan adalah pemicu munculnya istilah kebetulan. Tak ada sebab tanpa akibat, dan tak ada akibat danpa sebab. Keterbatasan akal menjangkau keseluruhan sebab akibat, karena hukum sebab akibat (kausalitas) adalah bagian dari sunnatullah. Hikmah manusia lahir dengan pilihan adalah bukti bahwa sunnatullah itu tersembunyi. Artinya, jika ada kejadian yang dianggap sebagai kebetulan, maka pada dasarnya hal itu hanyalah pandangan manusia sebagai makhluk yang terbatas saja.

Alasan lain bahwa kebetulan itu hanya ada dalam kata, adalah anjuran bagi manusia bertuhan untuk berdoa. Doa adalah meminta, di dalamnya ada harapan. Jika doa pasti akan diijabah oleh Maha Kuasa, maka keterbatasan manusia juga mutlak. Nah, keterbatasan manusia itulah yang kemudian akan melahirkan kata kebetulan ketika melihat kejadian tak biasa dan tak terduga.

Jika kita mencoba mencari kata kebetulan dalam terjemahan al-Quran, hasilnya pasti not found!. Kontras dengan lawan kata kebetulan; kepastian. “Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti datang, dan kamu sekali-kali tidak sanggup menolaknya.” (al-An’aam: 134). Dan masih banyak ayat yang memakai kata kepastian di surah lain.

Kalau demikian adanya, buat apa memakai kata yang tak bermakna?. Lebih baik “Say No to Kebetulan.”

Tinggalkan Balasan

Pengen Chat?
LihinWhatsApp

Send this to a friend