Sahabat Nabi saw, yang Masih Hidup

Jumhur ulama sepakat, bahwa sahabat Nabi saw, adalah orang yang telah bertemu dengan Nabi, Islam dan mati dalam keadaan muslim. Berbeda dengan definisi sahabat secara umum. Sahabat biasa didefinisikan sebagai yang dekat, dan atau menemani. Dengan definisi sahabat secara umum, maka sahabat Nabi saw adalah yang pernah dekat dan menemani Nabi saw.

Abu Zur’ah Ar-Razi berkata, “Saat Nabi saw wafat, jumlah orang yang pernah melihat beliau dan mendengar dari beliau itu lebih dari 100.000 orang, baik laki-laki atau perempuan. mereka semua meriwayatkan dari beliau lewat pendengaran atau pengamatan. Meski ulama tak menyebutkan jumlah pastinya, namun dipastikan jumlah sahabat dalam definisi mati dalam keadaan muslim puluhan ribu. Bagaimana dengan sahabat nabi yang bukan manusia dan tentunya tak cocok dengan predikat muslim?

Dalam sejarah, sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rasul, Rasulullah pernah ikut paman beliau, Abu Thalib pergi berdagang ke Syam. Dalam perjalanan, mereka berhenti sebentar untuk beristirahat berteduh dibawah sebuah pohon. Tidak jauh dari tempat istirahat itu, ada sebuah biara yang dihunu oleh para pendeta Nasrani bernama Buhaira.

Pendeta itu bergegas keluar dan menuju ke arah mereka beristirahat, dan meminta izin untuk bertemu dan memeriksa Rasulullah. Diamati satu persatu tubuh Rasulullah, lalu memegang tangan Rasulullah dan berkata: “Aku bersumpah kepadamu, dan demi Tuhan yang Esa, agar engkau menjawab pertanyaanku dengan jujur!”.

Rasulullah menjawab: “Bertanyalah!”

Pendeta Buhaira bertanya: “Apakah yang paling kau suka perhatikan? ”

Rasulullah menjawab, “Langit dan bintang-bintangnya.”

“Apakah kau juga bermimpi? ”

“Ya, dan apa saja yang aku lihat dalam mimpi, aku lihat juga dalam keadaan berjaga.”

“Boleh aku melihat di antara kedua bahumu ? ”

“Ya, silakan!”

Buhaira mendekati Rasulullah dan menyingkap jubah yang dipakainya, diantara kedua bahunya ia melihat cap kenabian (Khatamun Nubuwah) sebesar buah apel, lalu berkata: “Sama!”.

Abu Thalib bertanya, “Apa maksudmu? Sama dengan apa? ”

Buhaira menarik lengan Abu Thalib dan membawanya jauh dari rombongan dan bertanya: “Katakan kepadaku. Apa hubungan kamu dengan anak ini?”

Abu Thalib menjawab: “Dia anakku!”.

Buhaira menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidak mungkin! Sepengetahuanku, ayah anak ini telah meninggal dunia. ”

Abu Thalib terkejut dengan apa yang dikatakan Buhaira. “Benar! Dia adalah anak saudaraku. Ayahnya adalah adikku. Ia meninggal dunia sebelum dia dilahirkan, dan aku sangat mencintainya seperti mana aku mencintai anakku sendiri”

Buhaira berkata kepada Abu Thalib, “Anak ini akan menjalani kehidupan yang gemilang dan luar biasa di kemudian hari. Aku khawatir, jika orang lain mengetahui apa yang telah aku lihat dan mereka mengenalinya, mereka akan membunuh anak ini. Sembunyikan dan lindungi dia. Dialah penghulu dan utusan Tuhan semesta alam, dia diutus oleh Allah sebagai rahmat bagi alam”.

“Bagaimana kamu ketahui tentang hal ini?”Tanya Abu Thalib

“Ketika rombongan kamu muncul dan berhenti berteduh, aku melihat pohon bersujud kepadanya dan pohon ini tidak akan bersujud kecuali kepada seorang Nabi. Dialah Nabi yang ditunggu-tunggu. Aku dapat mengetahuinya melalui tanda-tanda yang dinyatakan dalam Kitab-kitab Taurat dan Injil. Tanda kenabian yang terletak pada bagian bawah tulang rawan diantara kedua bahunya, menguatkan lagi kepercayaan aku tentang dia”

Setelah itu, Rasulullah pun dipanggil untuk menemui Buhaira. Ketika Rasulullah berjalan, tiba-tiba saja awan menaungi beliau. Dan ketika ke bawah pohon, pohon itu pun menaunginya. Semua rombongan termasuk Abu Thalib, takjub dengan apa yang terjadi.

Buhairah kembali berkata: “Tidak ada seorang pun yang datang berteduh dan pohon itu menaunginya, kecuali dia seorang nabi”.

Inilah as-Syajarah al-Mubarakah (pohon yang diberkati) dan merupakan satu-satunya sahabat Nabi saw yang masih hidup sampai saat ini. Ia tumbuh di tengah-tengah gurun pasir tandus Buqa’awiyya, namun tetap tumbuh subur dan berbuah. Secara geografis, pohon ini dekat dengan kota Bosra di Syria.

Pemerintah setempat berusaha menjaga kelestarian Pohon Nabi ini tetap terjaga, dan semoga aman dari tangan jahil orang orang yang mengatas namakan syirik kemudian dengan kekuasaannya menebangnya, karena pohon itu adalah sahabat Nabi yang masih hidup.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.