Sabar Itu Sulit; Bapak-ku Sakit (Bag. 3)

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar,..” (QS. al-Baqarah, ayat 153)

Sabar adalah batas penerimaan seseorang terhadap apa yang dialaminya. Setiap orang, pasti akan mengalami masa, dimana waktu itu kesabarannya akan diuji. Semua manusia pasti memiliki harapan. Saat kenyataan datang, saat itulah kesabaran akan diuji, mampukah dia menerima kenyataan itu jika kenyataan itu adalah musibah (al-Shabru Ala Musibah), atau mampukah dia bertahan pada ketaatan, jika kenyataan itu adalah nikmat (al-Shabru Ala Ni’mah).

Memasuki hari ke-2 di Rumah Sakit mentereng, kesabaran sebagai hamba betul-betul diuji. Itu tidak mudah, seperti dalam naskah teori kesabaran dari mereka yang sudah lulus dalam uji kesabaran dalam hidup mereka, atau sekedar teori belaka. Rumah Sakit luas dengan tempat ibadah di sudut area, membutuhkan kesabaran untuk beribadah. Hidup bersama dengan penjenguk pasien lain, dari berbagai suku dan agama, juga membutuhkan kesabaran. Masih banyak hal lain, dengan menghadirkan kenyataan berbeda, semua membutuhkan kesabaran.

Suara motivasi dari kepala sekolah dan rekan guru, cukup memberiku ruang untuk sabar dalam kenikmatan. Berbakti kepada orangtua adalah wajib, bekerja sesuai dengan sumpah pengabdian juga wajib. “Anak-anak masih ujian tengah semester, tugas kamu diambil oleh guru lain untuk sementara”. Kalimat yang membuatku termenung cukup lama.

Aku Bermimpi

Banyak yang mengatakan mimpi adalah bunga tidur. Dalam al-Quran, ditegaskan dalam kisah Nabi Yusuf as, kalau mimpi bukan sekedar bunga tidur. Dalam mimpi ada pelajaran, dan dalam mimpi ada hikmah. Dalam kondisi bapak yang tak pernah sadar, saya berharap ada komunikasi melalui jalur lain, yah mungkin saja dengan mimpi.

Sore, 12 Maret, saya berharap mimpi itu menjadi media komunikasi dengan bapak. Sebelum tidur harapan itu besar sakali. Benar!… kulihat dalam tidur bapak berada di tengah lapangan, memakai kaos panjang warna putih kesukaanya, peci hitam yang memang jarang lepas dari kepalanya, berdiri dan meminta agar saya bersaudara banyak membacakan al-Quran untuknya. Tatkala, saya ingin menanyakan apa lagi permintaannya, suara perawat terdengar memanggil.

“Mursalin (maksudnya penjaga pasien atas nama itu)”

Saya bergegas, dan ternyata disuruh mengambil obat di apotik gedung berbeda. Buyarlah mimpi itu, atau mungkin Tuhan telah menakdirkan komunikasi melalui mimpi cukup sampai di situ, harap dipahami, dan tak perlu menafsirkan macam-macam. Semakin logikamu bermain, semakin jauh maksud hikmah yang akan kamu dapat.

Cukup merangkai kejadian dari awal, saya menarik kesimpulan kalau bapak butuh kekuatan, bukan hanya dari kekuatan pengobatan dari keahlian dokter yang luar biasa, bukan hanya kecakapan perawat dengan suara lantang memanggil penjaga pasien, tapi juga kekuatan supra natural dari bacaan al-Quran, karena al-Quran adalah mukjizat. Bisa juga kekuatan dari kesabaran para keluarga, bahwa jalur meminta itu ada dua dalam sabar dan shalat. Sabarlah meski engkau berharap mimpi berlanjut, namun harus segera mengambil obat saran perawat.

Detik demi detik, harus kulalui duduk di depan ruang inkubasi yang tak boleh dimasuki kecuali pada jam besuk, satu demi satu penjenguk. Ruang sempit dengan dingin AC menusuk tulang. Berbaring pasti sulit, tidur harus dengan duduk, sembari menunggu kalau ada kabar dan “perintah” baru dari perawat. Tak ada barang masuk, cemilan, apatah lagi rokok. Sabar itu sulit …

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. al-Kahfi, ayat 28).

Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Pengen Chat?
LihinWhatsApp

Send this to a friend