Ringkasan Kehidupan Fatimah az-Zahra (Bag. 3)

Rasulullah adalah guru pertama yang mengajarkan perikemanusiaan kepada umat manusia dan mendidik semua bangsa, mempunyai kewibawaan dan disegani oleh orang-orang Arab Musyrik. Meski demikian, kaum musyrikin melakukan perbuatan apa saja terhadap diri Rasul baik dengan ejekan, cemoohan, penghinaan, atau perbuatan jahat lainnya. Putrinya, Fatimah az-Zahra menyaksikan sendiri penganiayaan sekejam itu yang dialami oleh ayahnya. Hal ini tidak hanya diketahuinya tetapi Fatimah az-Zahra juga ikut merasakannya.

Partisipasi wanita shalihah atau peranannya yang bersifat edukatif dapat dilihat dari sifat-sifat ketaqwaan yang dimilikinya. Sifat taqwa yang dimiliki wanita shalihah dapat melahirkan perbuatan atau tingkah laku yang sesuai dengan nilai-nilai moral, karena inti dari taqwa itu sendiri adalah taat kepada agama, sedangkan agama mengajarkan nilai-nilai moral. Fatimah az-Zahra telah memiliki sifat-sifat ketakwaan tersebut. Dia telah ikut memberikan teladan, dan senantiasa setia mendampingi ayahnya untuk menyelamatkan manusia dalam memberi petunjuk kepada umat manusia kepada tujuan-tujuan yang suci.

Fatimah az-Zahra adalah seorang wanita yang sedemikian tinggi kemuliaan, agama dan kedudukannya di kalangan keluarga Nubuwwah. Jadi tidak mengherankan kalau tidak sedikit tokoh orang terkemuka yang mengemukakan keinginannya hendak mempersunting putri Rasulullah ini. Dimulai oleh Abu Bakar Ash Shidiq ra. Kemudian Umar bin Khatab, menyusul lainya lagi dari kalangan Quraisy terkemuka. Semua mengajukan lamaran untuk memperistri Fatimah Az-Zahra akan tetapi Rasulullah tidak mengabulkan keinginan mereka, dan hanya menjawab: “Belum tiba suratan takdirnya.” Akhirnya Abu Bakar menyarankan Ali bin Abi Thalib untuk meminang Fatimah.

Mendengar saran Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib, tidak segera memberi tanggapan. Baru beberapa saat kemudian ia berkata,

“Hai Abu Bakar, sesungguhnya engkau telah mengingatkanku pada sesutu yang sudah lama aku lupakan. Demi Allah memang minatku sangat besar kepada Fatimah, dan tidak ada yang menjadi penghalang bagiku kecuali kemiskinanku.” Setelah mendengarkan saran Abu Bakar akhirnya Imam Ali memberanikan diri dan bertekad menghadap Rasulullah.

Berikut ini riwayat yang menceritakan kedatangan Ali untuk melamar Fatimah az-Zahra:

Ali pun berbicara, “Engkau mengetahui bahwa engkau mengambilku dari Abu Thalib dan dari Fatimah binti Asad ketika aku masih kecil. Engkau memberiku makan dengan makananmu dan mendidikku dengan didikanmu. Demi Allah engkau adalah kekayaanku dan modalku di dunia dan akhirat. Wahai Rasulullah, di samping menjadi penolongmu seperti yang telah Allah kuatkan, aku ingin mempunyai rumah tangga dan mempunyai istri agar aku tenang dengannya. Aku datang kepadamu untuk melamar putrimu Fatimah. Maukah engkau menikahkanku, wahai Rasulullah?”

Berseri-serilah wajah Rasulullah saw karena senang dan gembira. Rasulullah mendatangi Fatimah dan berkata, “Sesungguhnya Ali telah menyebut-nyebutmu. Ia adalah orang yang telah kamu kenal.” Fatimah terdiam. Kemudian Rasulullah mengatakan, “Allahu Akbar.” Diamnya menunjukkan persetujuannya.”

Rumah tangga Ali dan Fatimah Az-Zahra, merupakan contoh yang mengagumkan dalam hal kemurnian, ketulusan dan kasih sayang. Mereka saling menolong dengan serasi dan tulus dalam mengatur urusan rumah tangga dan melaksanakan pekerjaan-pekerjaannya. Fatimah dalam kehidupan rumah tangganya bersikap sebagai ibu rumah tangga yang baik. Ia memperhatikan urusan rumah tangga sampai yang sekecil-kecilnya. Ia mengurus semua kebutuhan dengan jerih payahnya sendiri. Ia tidak mempunyai pembantu ataupun hamba sahaya. Ia tidak mengupah orang lain.

Salah satu riwayat tentang hal itu mengemukakan:

“Pada suatu hari Rasulullah datang ke rumah Fatimah. Saat itu puterinya sedang menggiling tepung sambil menangis, sedangkan pakaian yang dikenakannya sangat buruk dan kasar. Melihat itu Rasulullah ikut menangis dan kemudian berkata: “Hai Fatimah, terimalah kepahitan dunia sekarang ini untuk memperoleh kenikmatan di akhirat kelak.”

Putri Rasulullah ini tidak menganggap rendah pekerjaan di dalam rumah. Ia tidak pula menolak melaksanakannya walaupun ia anak manusia paling agung dalam Islam, bahkan di seluruh alam sampai Ali suaminya, merasa kasihan kepadanya dan memuji perbuatannya.

Fatimah az-Zahra hidup di rumah Ali dalam suasana yang sensitif dan sangat mengkhawatirkan, ketika pasukan Islam senantiasa dalam keadaan siaga dan terlibat dalam peperangan-peperangan yang membinasakan setiap tahun, di mana suaminya ikut pada sebagian besarnya. Fatimah juga sangat mengerti tentang tanggung jawabnya yang berat dan peranan serta pengaruhnya terhadap suaminya.

Fatimah az-Zahra hidup di samping suaminya dengan perasaan bangga dan penuh ketentraman. Ia selalu riang. Tak ada perselisihan yang tak dapat diselesaikannya dengan baik. Ia menyadari dirinya sebagai istri seorang pejuang Islam yang senantiasa sanggup berkorban. Seorang yang selalu mengibarkan panji-panji perjuangan. Fatimah sadar bahwa dirinya harus dapat menjadi istri yang sepadan dengan kedudukan suaminya sebagai pejuang Islam.Riwayat hidup fathimah azzahra

Fatimah senantiasa memberikan semangat kepada suaminya, memuji keberanian dan pengorbanannya, dan membantunya menyiapkan diri untuk menghadapi peperangan berikutnya.

Tidak pernah Fatimah az-Zahra keluar rumah tanpa izin suaminya. Tidak pernah ia membuat suaminya marah. Ia sadar betul bahwa Allah tidak akan menerima perbuatan seorang istri yang membuat marah suaminya sampai si suami ridha terhadapnya. Sebaliknya, Fatimah az-Zahra juga tidak pernah marah terhadap suaminya. Ia tidak pernah berdusta di rumahnya, tidak pernah berkhianat terhadapnya dan tidak pernah melawannya dalam urusan apapun. “Demi Allah,” kata Ali, “aku tidak pernah marah kepadanya dan tidak pernah menyusahkannya sampai ia wafat. Ia juga tidak pernah membuatku marah dan tidak pernah menentangku dalam urusan apapun.”

Dengan sifat taqwa yang dimilikinya, Fatimah az-Zahra telah memberikan teladan kepada masyarakat untuk membentuk sebuah keluarga yang sakinah demi terwujudnya masyarakat yang bermoral. Di sinilah letak peran Fatimah az-Zahra sebagai seorang istri yang menjadi teladan untuk menciptakan masyarakat yang bermoral.

Tinggalkan Balasan