Ringkasan Kehidupan Fatimah az-Zahra (Bag. 1)

Sulit menjadikan sosok wanita teladan di tengah keterpurukan moral masa kini. Tulisan tentang profile Fatimah az-Zahra binti Rasulullah diharapkan dapat menjadi motivasi dan panutan untuk memposisikan diri sebagai wanita yang tidak keluar dari jalur keislaman.

Pada masa Fatimah az-Zahra masih dalam kandungan, ibundanya Khadijah keluar dari kesendirian dan kesedihannya dengan bermain-main bersama janin yang dikandungnya. Meskipun ditinggal Rasulullah selama 40 hari untuk melaksanakan perintah Allah, Khadijah tetap bisa menghindarkan diri dari belenggu keterasingan dan ia merasa senang dengan janin yang dikandungnya.

Imam Ja’far ash shadiq mengatakan, “Sesungguhnya ketika Khadijah menikah dengan Rasulullah saw ia diejek oleh wanita-wanita Mekkah. Mereka tidak mau masuk ke tempatnya, tidak mengucapkan salam kepadanya, dan tidak membiarkan seorang wanita pun masuk ke tempatnya, sehingga Khadijah masuk ke tempatnya. Ia berduka dan bersedih hati jika Rasulullah keluar rumah. Maka ketika ia mengandung Fatimah, bayi dalam kandungannya itu menjadi temannya.”

Ketika Fatimah lahir, Nabi bersimpuh sujud, sebagai tanda syukur yang tak terhingga. Nabi tahu bahwa dari Fatimah kelak anak keturunannya yang menjadi suri tauladan wanita shalihah. Fatimah az-Zahra kemudian paling disayangi dan yang paling menyejukkan matanya. Ummu Salamah berkata: “Ketika Nabi menikahiku, ia menyerahkan putrinya kepadaku. Akulah yang membesarkannya dan mendidiknya. Demi Allah! Dia lebih beradab dan terdidik dibandingkan aku; dan dia lebih alim tentang segala hal dibanding diriku.”

Kala itu, wanita yang berada di hadapannya mengambilnya dan membersihkannya. Kemudian ia mengatakan “Ambillah bayi ini, Khadijah, bayi yang suci dan disucikan, yang cerdas dan diberkahi. Ia dan keturunannya diberkahi.” Khadijah mengambilnya dengan perasaan senang, gembira dan bahagia. Ia lalu menyusukannya.

Ketika orang-orang Quraisy melihat bahwa Islam mulai tersiar dan tersebar di kalangan kabilah dan mereka tidak mampu mencegahnya, mereka pun sepakat untuk membunuh Rasulullah. Ketika Abu Thalib merasakan hal itu, ia bertolak ke lembahnya (Lembah Abu Thalib).

Dalam suasana berbahaya itulah Fatimah menghabiskan masa penyusuan di lembah Abu Thalib. Ia disapih di sana dan belajar di tanah yang panas di lembah tersebut. Ia belajar bicara di tengah rintihan orang-orang yang kelaparan dan tangisan anak-anak yang tak mendapat makanan.

Demikianlah hal itu beiangsung selama kurang lebih tiga tahun. Ketika berusia lima tahun, ia kembali ke rumah bersama Rasulullah dan seluruh anggota Bani Hasyim setelah mereka meninggalkan lembah dan selamat dari kelaparan.

Fatimah belum lagi bernapas lega dan belum memperoleh kesenangan ketika ia harus bersedih lantaran kematian ibunya yang menyayanginya. Kejadian yang tiba-tiba itu sungguh menyakitkan jiwanya yang lembut. Perasaannya yang halus terluka.

Abu Thalib dan Khadijah wafat pada tahun ke sepuluh kenabian. Kejadian itu membuat Nabi menjadi sangat sedih. Tahun itu dinamakan tahun kesedihan (Am al-Huzn), karena Nabi kehilangan dua orang penolongnya dan penjaganya di Mekkah: pendamping hidupnya, ibu dari anak-anaknya (Khadijah) serta sandaran dan pembelanya (Abu Thalib). Maka berubahlah kehidupan Nabi di dalam dan di luar rumah. Orang-orang Quraisy menjadi sangat keras terhadapnya. Gangguan dan siksaan mereka sampai pada tingkatan yang tidak pernah mereka lakukan di saat Abu Thalib masih hidup. Sampai-sampai ada di antara mereka ada yang menebarkan tanah di atas kepalanya, dan ada pula yang melemparkan perut kambing kepadanya saat beliau sedang shalat.

Kaum musyrikin Quraisy melakukan perbuatan apa saja terhadap diri Rasul Allah baik dengan ejekan, cemoohan, penghinaan dan perbuatan jahat lainnya.

Fatimah mengalami kejadian-kejadian yang menyakitkan ini sejak masa kecilnya. Ia memberikan bantuan kepada ayahnya serta melayaninya, sampai-sampai orang memanggilnya Ummu Abiha (ibu dari ayahnya) sebab dia adalah putri Nabi yang paling kecil yang selalu menemani dan menjaga Nabi saw setelah wafat Siti Khadijah ra.

Sejarah telah melaporkan bahwa Nabi sering memanggil Fatimah dengan sebutan “Fatimah Ummu Abiha,” dan memperlakukan putrinya ini bagaikan ia memperlakukan ibunya sendiri. Nabi mencium tangannya dan berziarah khusus kepadanya setiap kali ia pulang ke kota Madinah. Nabi sangat manja bagaikan manjanya seorang anak kecil kepada ibunya. Ketika Nabi di masa kecilnya ditinggalkan ibunya Aminah binti Wahab, Nabi beralih kepada Fatimah binti Asad, ibu Imam Ali. Setiap kali ia melihat putrinya Fatimah, maka ia akan ingat pada Fatimah binti Asad yang merawatnya dan sangat sayang kepadanya.

Demikianlah beberapa cobaan berat terhadap ayahnya yang disaksikan sendiri di saat usianya masih sangat muda. Semua ini tidak hanya diketahui oleh Fatimah, akan tetapi juga ikut dirasakannya. Semua pengalaman yang serba berat dan keras itu turut membentuk kepribadian dan memberinya pelajaran kepadanya tentang bagaimana cara menghadapi kehidupan dan cobaan yang kelak mungkin akan dialaminya sendiri. Semua itu merupakan ujian iman untuk dapat dengan teguh menghadapi berbagai kesukaran dan kesulitan di masa yang akan datang.

Riwayat hidup fathimah azzahraSetiap kali bertambah perasaan kehilangan ibu pada diri Fatimah, bertambah pula kecintaan Nabi kepadanya dan beliau memberitahukan rasa cintanya itu kepadanya, karena beliau mengetahui apa yang dirasakan putrinya itu akibat kehilangan seorang ibu. Karena inilah, Rasulullah tidak tidur sebelum mencium tubuh dan pakaian Fatimah.

Inilah ringkasan delapan tahun usia putri Nabi, Fatimah Az-Zahra. (Bersambung ke bagian dua)

Tinggalkan Balasan