Remis dan Remisi

Mendengar kata remis dan remisi, mungkin Anda akan berpikir tentang permainan catur dan pembebasan narapidana karena pemotongan masa tahanan. Di kuningan Jawa Barat sana, terdapat telaga yang dinamakan telaga remis. Konon, telaga ini terbentuk dari harapan Prabu Siliwangi. Ceritanya, Prabu Siliwangi bertapa di daerah tandus tak berair kecuali tetesan air embun dari ujung daun. Embun itu diistilahkan “reumis.” Embun itulah yang menghilangkan dahaga sang Prabu. Usai bertapa, dia berharap agar kelak reumis itu menjadi telaga, dan benar. Telaga itu kemudian dinamakan telaga remis.

Embun reumis menolong sang prabu dari kehausan. Harapan sang prabu reumis itu akan menjadi penolong bagi orang banyak. Telaga remis kini hadir sebagai objek wisata yang menyenangkan. Telaga remis airnya sangat bening, bahkan bisa langsung diminum. Bahkan, sebagian masyarakat menjadikan air telaga remis sebagai obat. Meski demikian, sore sampai malam hari, masih ada kesan angker di telaga itu.

Berbeda dengan remis dalam permainan catur. Remis adalah draw karena beberapa kemungkinan. Remis bisa terjadi, jika salah satu pemain menawarkan remis dan lawannya menerima. Jadi meski hanya sekali langkah, ada tawaran remis dan diterima, maka draw. Remis juga terjadi jika tak ada jalan lagi bagi salah satu di antara pemain bisa skakmat lawannya. Misal, putih menyisakan kuda dan raja, sedangkan hitam hanya raja. Kuda dan raja tak bisa skakmat. Intinya remis dalam catur adalah seri, draw, atau tak ada yang menang tak ada yang kalah.

Remisi sejatinya hadir untuk memenuhi harapan pemberi remisi. Dan penerima remisi semestinya kelak bermanfaat bagi orang banyak, seperti filosofi telaga remis. Jika tujuan remisi untuk mengurangi jumlah penghuni lapas, maka jangan sampai karena kebijakan remisi, banyak yang tak terima lantas melakukan tindak pidana yang justeru akan menambah isi lapas kelak. Misal, koruptor 30 triliun mendapat remisi. Kurungan hanya 10 tahun karena mendapat remisi. Itu artinya, yang bersangkutan mendapatkan penghasilan 3 trilun pertahun. Potong sana potong sini. Ini perhitungan penjahat ya… tapi dengan pemikiran seperti ini justeru para koruptor tak akan jera.

Seperti dalam permainan catur, remis jangan serta merta diterima. Kalau pemain bidak hitam merasa unggul, jangan terima tawaran remis. Kalau negara merasa tak diuntungkan, jangan terima permohonan remisi Saya berharap Remisi itu remis. Remisi itu draw. Tak ada yang menang tak ada yang kalah. Negara tak boleh kalah oleh narapidana yang mendapatkan remisi. Bolehlah negara bisa lebih irit karena lepas dari tanggungjawab pembiayaan warga lapas yang berkurang karena mendapat remisi. Tapi tak elok jika negara harus membayar mahal akibat ketidakpercayaan masyarakat yang gak ternilai. Itu tak seri. Itu bukan remis. Kerugian masyarakat akibat koruptor, harus dibalas seri. Kalau negara rugi 30 Triliun dari koruptor, semestinya pemberian remisi menguntungkan negara dengan nilai yang sama.

Ada harapan besar dari pemberian remisi, yaitu perubahan perilaku bagi yang mendapatkan. Namun, itu bukan jaminan. Ada hal yang menakutkan saat koruptor memohon remisi dengan melakukan sogokan, itu adalah proses pemberian remisi yang lebih menakutkan seperti nenakutkannya telaga remis di malam hari. Semoga tidak….

Tinggalkan Balasan