Putri Indonesia 2015 Itu Warga Negara, Mesti Sama di Depan Hukum !

Jangan sembarangan memakai, memiliki atribut sebuah kelompok yang dilarang oleh negara. Bisa-bisa diperlakukan seperti Firman, warga depok yang ditangkap 2014 lalu karena memakai baju bertuliskan kalimat tauhid. Yang bersangkutan mengidolakan ISIS, dia tidak ditahan, namun akan tetap dipantau. (baca: ISIS militan yang paling berbahaya)

Apa yang salah dari mengidolakan sesuatu? Perhatikan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 27 tahun 1999 Tentang Perubahan kitab undang-undang hukum pidana yang berkaitan dengan kejahatan terhadap keamanan negara, Pasal 107 a, “Barangsiapa yang secara melawan hukum di muka umum dengan lisan, tulisan dan atau melalui media apa pun, menyebarkan atau mengembangkan ajaran Komunisme/ Marxisme-Leninisme dalam segala bentuk dan perwujudannya, di-pidana dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun.”

Ada anekdot lucu, “semua warga negara sama di depan hukum, tapi sayang tidak sama di depan penegak hukum.” Anekdot yang tentu sulit membuktikan kebenarannya. Namun, terkadang perlakuan berbeda oleh aparat, kerap terjadi. Seperti halnya pada kasus yang jelas-jelas melanggar, Anindya Kusuma Putri, Putri Indonesia 2015, mempublish poto di akun instagramnya yang memakai kaos berlambang palu arit. Diketahui Palu Arit adalah lambang partai komunis.

Dua motif kasus yang sama, namun penanganannya berbeda. Memakai kaos bertuliskan kalimat tauhid, berimbas pada penangkapan. Kekejaman ISIS menjadi momok mengancam, maka segala hal kecil terkait itu harus segera diantisipasi, termasuk hanya sekadar memakai kaos yang identik dengan atributnya. Sayang, berbeda dengan kaos berlambang Palu Arit, lambang komunis yang pada tahun 1965 menjadi sejarah tragis menakutkan, perilaku kejam partai komunis yang akhirnya ditetapkan sebagai paham terlarang di negeri ini, serta dianggap berbahaya. Sayang, pelaku dimintai keterangan pun tidak.

Apakah ketika memakai atribut, lambang, logo suatu paham, maka pemakai adalah bagian dari paham itu? Tentu tidak bisa langsung diklaim demikian, bisa jadi iya, dan bisa jadi tidak. Ada kemungkinan, kebetulan saja. Konsep kehati-hatian berlaku. Memakai atribut, bisa juga memang bagian dari gerakan atau agennya. Terlepas dari semua itu, tidak boleh ada perlakuan ganda. Saat putri Indonesia, aparat seakan diam, beda dengan Firman, seorang warga biasa yang langsung dicekoki dan dimintai keterangan. Semua warga negara sama di depan hukum.

Tanpa bermaksud menyudutkan Anindya Kusuma Putri, Putri Indonesia 2015, tapi sepertinya ada yang membuat penulis berpikir, merasa aneh dari kronologi pemakaian kaos berlambang Palu Arit tersebut, apalagi setelah dia mencoba mengklarifikasi. Rumus “membenarkan kesalahan diperlukan kesalahan baru,” sepertinya berlaku.

Dari pernyataanya tersirat, si Putri tidak mengerti apa itu Palu Arit sebagai lambang komunis. Perhatikan pernyataan klarifikasinya yang saya kutip dari liputan6. “Aku mau klarifikasi fotoku menggunakan baju palu arit pada 2013. Sebelumnya aku ikut organisasi president AIESEC Local Committee, selama kegiatan itu aku sering bertukar t-shirt dengan 130 negara lainnya. Aku berikan kaus lambang garuda, mereka kasih masing-masing lambang negara. Termasuk dari Vietnam dengan kaus palu aritnya, aku kasih baju batik atau garuda. Di situ nggak cuma kaus dari Vietnam saja, ada baju yang aku pakai dari Amerika juga.

Tak ada kesan rasa bersalah yang ditunjukan. Parahnya, klarifikasi itu seakan menganggap bahwa lambang Palu Arit adalah lambang negara Vietnam, seperti Indonesia dengan Garudanya. Padahal keliru, meski Vietnam berideologi sosialis komunis, namun Palu Arti bukanlah lambang negara seperti Indonesia dengan burung Garuda. Lambang negara Vietnam disebut Nevada, sedangkan Palu Arit adalah simbol sebuah gerakan yang dibalut visi misi perjuangan yang jelas dan terarah.

Perbedaan besar antara gambar palu arit dan lambang negara Vietnam

Dengan demikian, alasan pertukaran baju untuk saling menghargai masing-masing negara adalah keliru. Lambang Palu Arti di Vietnam mungkin biasa, tapi tetap jadi lambang PKI di Indonesia, dan itu dilarang. Putri Indonesia memakai lambang partai komunis, dan bukan lambang negara Vietnam. Palu Arit adalah lambang salah partai di Vietnam, seperti Kepala Banteng yang juga lambang salah satu partai di Indonesia, sayangnya Palu Arit dilarang di Indonesia. Lalu kenapa dipakai?

Tak sedikit pembelaan buat Andika. Akan tetapi, satu pertanyaan besar, jika sekiranya memang berideologi pancasila kenapa memakai kaos belambang komunis? “Kan sekedar memakai.” Jawaban seperti itu tentu tidak cukup menjelaskan unsur hukum, pelanggaran Undang-undang yang ada. Kita tidak pernah melihat putri Jerman memakai atribut Nazi, karena Nazi dilarang di Jerman, seperti Komunis yang dilarang di Indonesia.

Sebenarnya mudah saja, jika memang tidak tahu, untuk sekedar menghormati. Cukup meminta maaf di depan publik, bahwa apa yang dilakukan (memakai atribut paham yang dilarang), itu salah, tidak sengaja, atau alasan yang rasional lainnya. Demikian pula dengan aparat penegak hukum. Tak elok memerlihatkan standar ganda karena semua warga negara sama di depan hukum. Jangan karena Putri Indonesia, justru aparat seakan memerlihatkan pembiaran atas pelanggaran Undang-undang.

Jangan biarkan publik mengira-ngira, mencocokan tanpa dasar atau bukti yang sahih. Publik hanya melihat fakta yang nyata, bukan yang kebetulan. Putri Indonesia lahir tanggal 03 Februari 1992 dan Partai Komunis Vietnam didirikan 03 Februari 1930, adalah sebuah kebetulan. Ada dua orang memakai kaos dengan gambar identik dari lambang suatu paham yang dilarang. Tentu tak adil, jika satu ditangkap, dimintai keterangan, yang satu dibiarkan, karena itu fakta yang nyata. Undang-undang Dasar pasal 27 ayat 1 menjamin itu!.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Anti Spam. Akismet.