Presiden Pilihanku di 2019

“Siapa kita pilih presiden nanti?”

Pertanyaan dengan kalimat yang sama persis, saya temui 5 kali minggu ini. Di kampung jajanan tosagena, di tukang urut, sisanya di chat Whatsapp dan Faceebook messenger.

Tak ada jawaban serta merta dengan menyebut nama atas pertanyaan itu. Tapi ada satu pertanyaan via chat yang akan saya jawab dengan pertimbangan lengkap melalui tulisan. Itu janjiku kepadanya.

Presiden pilihanku di 2019 bisa jadi beda dengan presiden pilihan orang lain. Tak ada masalah. Namun tulisan ini akan memengaruhi penanya itu. Dia janji, apapun pilihanku dia ikuti. Dungu….

Laa ikraha fi pilpres. Tak ada pemaksaan dalam pilihan presiden (pilpres). Bahkan saya sangat senang dengan seorang yang menentukan pilihannya berdasarkan rasionalitas yang matang, berisi argumen padat, dan bukan karena ikut ikutan. Karena kader organisasi atau alasan mazhab.

Presiden pilihanku di 2019 adalah yang hidup dan berprilaku seperti sifat dan perilaku Rasulullah saw. Sempurna dong? Kalau tak bisa seluruhnya minimal sebagian, dan sebagian itu adalah jawaban atas kebutuhan masyarakat atas pemimpin saat ini.

Fathanah. Presiden pilihanku harus cerdas. Cerdas beda dengan pintar, apalagi culas. Cerdas itu mengaktifkan pengetahuan dengan tepat guna dengan cara baik untuk hasil positif. Sedangkan culas, caranya atau tujuan salah satunya pasti tidak baik. (Baca: perbedaan cerdas, jenius dan pintar)

Kecerdasan Presiden pilihanku terlihat saat berbicara. Dia menyampaikan sesuatu dengan berkelas, mudah dipahami serta lugas. Pun dalam mengabdi dia ikhlas.

Presiden pilihanku bersifat Siddiq artinya jujur, benar dan lurus. Saat berbicara sesuai dengan fakta. Tidak sekdar teriak koar-koar. Lembut tapi mengena. Janji tidak diobral untuk menghindari ingkar. Berani membenarkan yang salah, meski dia pelakunya.

Dia pun bersifat amanah. Dia dapat dipercaya. Karena takut tidak bersifat amanah dia sedikit berjanji. Itulah sebabnya, dia hampir tak punya celah kebohongan.

Terakhir, presiden pilihanku bersikap tabligh yang artinya menyampaikan.
selalu menyampaikan kebenaran dari Tuhan bukan membuat rakyat resah jadi kebingungan tapi selalu membuat ketentraman dan kedamaian.

Banyak orang termakan dengan sosok fisik yang terkesan merakyat, tapi sebenarnya dia vampire yang siap menghisap. Rakyat dibuat terbuai dengan janji manis tanpa bukti, dan pada akhirnya sibuk sendiri.

Ada juga sosok yang kelihatan kuat tapi punya masa lalu kelam karena lama menjadi oposisi. Dia lalu lupa saat duduk di kursi.

Masih banyak sosok lain yang bervariasi, tapi hari ini kita harus menentukan pilihan dalam pilihan yang sulit. Tiada jalan lain. Sifat Nabi saw itulah yang menjadi penunjuk utama dalam sejuta pertimbangan dan akhirnya menjadi jalan terakhir.

Manusia tak ada yang sempurna. Bisa jadi dia siddiq tapi tidak fathanah. Atau bahkan tak ada satupun dari sifat Nabi yang dimiliki. Apes… sebagai pemilih lita harus cerdas akan hal itu.

Presiden pilihanku tidak seperti itu. Presiden pilihanku di 2019 berinisial A. Hah? Iya, dialah Abdurrahman Wahid atau Gusdur. Karena dari 7 Presiden hanya dialah yang mensifati sifat Rasulullah saw. Sayang beliau di-impeach.

Jauh sebelum menjadi Presiden, dia sudah mengatakan itu ke kyai Hasyim Muzadi. “Kamu urus NU, saya akan urus PKB sekalian jadi Presiden.” Semua yang dikatakan terjadi. Karena dia seorang wali Allah.

Sampai kini Gusdur selalu dikenang kebaikannya. Makamnya tak pernah sepi pengunjung baik muslim maupun non-muslim. Dari sekian banyak presiden dialah presiden terbaik pilihanku sampai 2019.

Tinggalkan Balasan