Poligami Bukan Syariat!

Muhammad saw diserang orientalis dalam berbagai sisi, salah satunya adalah poligami. Fakta bahwa Rasulullah memiliki banyak isteri kemudian digiring seolah beliau adalah orang yang suka gonta ganti pasangan, nafsu tinggi, dan konotasi negatif lainnya. Padahal banyak alasan yang membantah ahl tersebut. Sebut saja fakta sejarah mengatakan, Khadijah isteri Rasulullah yang pertama seorang janda beranak dua, wafat dalam usia 65 tahun, saat usia Rasulullah sekitar 50 tahun. Setelah Khadijah wafat barulah beliau memperisteri Sauda bint Sa’ma yang waktu itu usianya 65 tahun.

Andai Muhammad saw adalah sosok seperti yang digambarkan para pembenci islam, tak sulit baginya beristeri gadis sebelum memperisteri Khadijah. Atau meminang yang lebih muda meski usianya sudah 50 an tahun. Tapi itu tidak dilakukan. Padahal beliau adalah sosok yang disegani di kalangan Quraysh kala itu.

Dari fakta sejarah wanita yang dinikahi Rasulullah semuanya hampir dikatakan bukan karena alasan kesenangan terhadap wanita sebagai alasan utama. Dari sekian isteri Nabi saw, hanya satu yang perawan. Olehnya itu, berbicara poligami, maka poligami mestinya tidak didudukan sebagai syariat. Karena akan memberikan stigma bahwa itu adalah anjuran, bahkan mungkin dianggap sunnah. Poligami semestinya didudukan sebagai alternatif jalan pasangan hidup yang dibahas oleh syariat bukan sebagai syariat.


Dalam Islam, Memang benar poligami tak dilarang, bahkan secara hukum fikih pernikahan akan tetap dianggap sah walau tanpa seizin istri. Tapi tentu agama juga juga tidak merestui tindakan yang menyakiti hati orang lain, termasuk menyakiti perasaan Istri. Untuk itulah Fatimah binti Muhammad menolak untuk dipoligami oleh Ali bin Abu Thalib. Sehingga sebagaimana diketahui Rasulullah saw pun merestui penolakan anaknya karena tidak ingin anaknya tersakiti.

Poligami bukanlah sunnah anjuran syariat mutlak, apalagi menggapnya ibadah yang mulia. Islam tidak mendudukan praktek poligami sebagai ibadah mulia, juga tidak mendudukannya sebagai perbuatan tercela. Hukum poligami berisifat muqayyad (tergantung realitas), Poligami adalah alternatif dari sebuah kondisi tertentu untuk mengambil manfaat yang lebih besar.

Quraisy Shihab mengungkapkan bahwa poligami mirip pintu darurat dalam pesawat terbang yang hanya boleh dibuka dalam keadaan emergency tertentu.

 

Tinggalkan Balasan