Please, Hormati Ulama…

Islam dari Arab sampai ke indonesia tidak seperti aliran listrik, apa di ujung sana, itu pula yang sampai di ujung sini. Ajaran islam ibarat sesuatu yang dialirkan. Terkadang apa yang dialirkan dari ujung sana, itu pula yang sampai di ujung sini. Tak tertutup kemungkinan yang sampai hanya sebagian, bahkan bisa juga tak ada yang sampai. Kita berharap ajaran islam yang dari Muhammad saw itu juga yang sampai ke kita. Di sinilah peran penting ulama. Ulama sebagai pewaris Nabi saw melakukan penyampaian itu sekuat dia mampu. Kuat fisik dan kuat batin.

Ulama sangat telaten menjaga kemurnian islam. Bisa dilihat dari cara mereka menjaga keotentikan hadis misalnya. Bagaimana mereka menfilter ribuan hadis sehingga melahirkan derajat hadis yang berbeda-beda. Ini terjadi bukan hanya di masa tabiin dan salaf, tapi sampai sekarang. Karya ulama disyarah, hasil syarah itu disyarah lagi. Petikan-petikan syarah berlapis itulah menjadi referensi pengetahuan islam hari ini. Sampai di sini, apalah kita dihadapan para ulama? Makanya, dungu bagi mereka yang berani mengatakan, “ah ulama juga manusia, saya juga manusia.” Iya, tapi mereka para ulama bukan manusia jadi-jadian.

Belum lagi jika melihat cara ulama mendekatkan diri kepada Allah swt. Mereka sudah ber-tajalli, kita masih susah ber-takhalli,1 makanya seorang ulama akan kelihatan tampil sederhana, kelihatan lemah, pelan, dan banyak lagi sifat-sifat ke-basyariah-an yang hilang. Itu efek sifat Tajalli. Jangan heran, jika apa yang dikatakan seorang ulama akan terjadi, karena hijab basyariah-lah yang membatasi manusia dari sirr.

Menghormati ulama tak perlu perintah, karena kebenaran akan selalu bersahabat dengan kebenaran. Seorang yang tak pernah mengenal pondok pesantren sekalipun akan menghormati ulama karena alasan itu. Menghormati ulama tidak seperti hormat kepada komandan upacara. Acuan penghormatan dalam kemanusiaan adalah akhlak dan adab. Artinya, hormati ulama dengan berakhlak kepadanya. Hormati ulama dengan beradab di depannya. Karena orang yang yakin dengan ulama akan menganggap ulama tak pernah salah. Menghormati ulama berarti menganggap kesalahan ulama menyimpan hikmah kebaikan di baliknya. Itulah sebabnya, kadang sosok ulama dipandang berprilaku salah, tapi yang yakin akan menganggap itu bukan salah, itu benar hanya berbeda dengan pemahaman kita.

Saya pernah jalan bareng dengan salah seorang mantan siswaku yang kebetulan seorang pemilik warung makan di kota. Di tengah jalan saya bertemu dengan guru saya hendak turun dari mobil, seorang kyai sepuh di pondok. Saya samperin lalu mencium tangannya. Mantan siswa ku melongo. “Siapa dia. Kenapa sampai cium tangan?” “Dia seorang ulama. Santrinya sudah banyak yang professor lho. Semua santri dididik berkhidmat kepada ulama. Bentuk yang paling sederhana dengan mencium tangannya. Kami mengharap berkah. Karena ulama adalah pewaris Nabi.” Jawabku panjang.

Mungkin karena naluri bisnisnya tinggi, terpikir olehnya sesuatu bentuk promosi. “Bagaimana kalau beliau kita ajak makan sekali saja. Nanti divideokan, nah video itu disebar.” Benar-benar naluri bisnis yang luar biasa. Ulama pun dia ingin kerjain. Langsung saya tolak. “Bagaimana kalau minta ijin?” Tanyanya ngebet. “Meski minta ijin. Karena beliau sangat bijak, beliau tidak melihat apalagi ingin merasakan duniamu saat ini. Bukan dunia beliau mengenai dampak promosi, digitalisasi, dll, kamulah yang harus mengerti.” Jawabanku dan dia terdiam.

Ada banyak orang seperti mantan siswaku tadi. Saya bisa maklumi karena backgroundnya sekolah umum. Miris jika mantan santri rela mengerjain ulama hanya demi kepentingan sesaat. Ulama disuruh, divideokan. Ada lagi yang aneh bin ajaib, tega meralat apa yang sudah dilakukan ulama di depan publik. Meralat artinya membetulkan. Hanya yang salah yang dibetulkan. Artinya ulama dianggap salah, atau dengan kata lain dia tak yakin dengan apa yang dilakukan sang ulama. Dia tak yakin bahwa ada hikmah besar dari sesuatu yang diralat itu. Bukankah ulama pewaris Nabi saw. Ulama bertajalli. Sedangkan kamu yang meralat, bertakhalli saja belum tentu.

Bolehkah memberitahu ulama, boleh. Tapi sekali lagi dengan adab. Melihat ulama yang tak qunut di tempat yang terbiasa melakukan qunut misalnya, maka seorang yang menghormati ulama akan memberitahu bukan meralat. Caranya pun penuh dengan adab. Misalnya bertanya tentang pandangan ulama lain mengenai qunut, atau dengan cara lain. Intinya hormati ulama… sekali lagi, please hormati ulama!

  1. Dalam tasawwuf dikenal tiga istilah; Takhalli, Tahalli, dan Tajalli. Takhalli berarti membersihkan diri dari sifat sifat tercela, dari maksiat lahir dan maksiat bathin. Tahalli berarti upaya menghiasi diri dengan akhlak terpuji. Sedangkan Tajalli adalah hilangnya tirai atau hijab dari sifat kemanusiaan