Perhatikan Akibat Lidah Munafik Berikut Ini !

Jaman Rasulullah saw, seorang bernama Ibnu Ubay bin Salul, di depan Rasulullah saw, dia mengaku beriman. Penampilannya seperti sahabat sahabat Rasulullah saw pada umumnya. Bersorban, ikut berjamaah, pokoknya semua yang dilakukan sahabat, juga dia lakukan. Ada satu kelebihan sahabat ini, Ubay bin Salul sangat pandai dalam berkomunikasi lisan. Lidahnya piawai merangkai kata. Sehingga apapun yang diucapkan lidahnya akan menjadi perhatian bagi pendengar. Ini juga didukung dengan penampilan fisik si munafik Ubay. Dia tinggi besar, gagah, pelak sangat mendukung retorika berbicaranya. Dalam sejarah dia piawai mengibulin orang.

Pernah sekali, Ubay bin Salul menebar berita yang membuat umat islam ribut waktu itu. Tak main main, dia menebar hoax yang menyerang isteri Nabi saw, Aisyah ra. Dengan keindahan bahasa plus retorika mumpuni Ubay menuduh Safwan seorang sahabat dari keluarga terhormat berbuat serong dengan ibunda kaum muslimin, Aisyah ra. Andai bukan dari lidah Ubay, pasti umat islam kala itu tidak terpengaruh. Saya membayangkan kepiawaian Ubay sampai pada kemampuan me lisan kan opini seakan akan itu fakta.

Para sahabat dekat Rasulullah saw, bukan tak tahu kalau Ubay adalah gembong munafik yang berbahaya. Mereka tahu. Bahkan Umar bin Khattab ingin menghabisi orang itu. Cuma Rasulullah melarang. Rasylullah saw bersabda, “Jangan sampai orang mengatakan bahwa Muhammad membunuh shahabatnya sendiri”, jawab beliau. Saking marahnya sahabat kepada Ubay, mereka bersyukur dengan kematiannya. Ubay meninggal dalam keadaan terhina. Rasulullah saw sempat mensolatkan, namun ditegur oleh Allah swt. Dari momen inilah menjadi dasar larangan mensolati orang munafik.

Inilah sebab turunnya ayat surah at-Taubah, ayat 84:

“Dan janganlah engkau sembahyangkan seorang pun yang mati dari orang-orang munafik itu selama-lamanya, dan janganlah engkau berada di (tepi) kuburnya, kerana sesungguhnya mereka telah kufur kepada Allah dan RasulNya, dan mereka mati sedang mereka dalam keadaan fasik.

Berbeda dengan sahabat Rasulullah saw Hassan bin Tsabit. Seorang sahabat yang juga pandai merangkai kata. Pandai menggunakan lidahnya meski tak sehebat retorika Ubay. Namun, sindiran dari kalimat Hassan mampu membuat musuh musuh Rasulullah saw terpengaruh. Sindirannya menyengat bak ular berbisa. Lidahnya tajam melalu syair mencabik musuh bak pedang. Rasulullah saw bahkan memerintahkan Hassan;

“Serang mereka dengan ketajaman lidahmu wahai Hassan, sungguh Malaikat Jibril pasti membantumu”, sabda Rasululullah kepadanya.

Di sekitar kita, mungkin banyak yang piawai merangkai kalimat, menyampaikan ke audiens sampai sampai kalimat sederhana tapi mampu mempengaruhi pendengaran apalagi perbuatan. Anda? Iya, mungkin Anda juga seperti itu. Lidah mempunyai kekuatan sendiri. Ketajaman lidah, gunakan dengan baik dan untuk kebaikan. Lidah itu tak bertulang, tapi kedahsyatan sayatannya kadang-kadang melebihi ledakan rudal. Tergantung untuk apa digunakan. Bisa untuk membela kebenaran, pun juga bisa sebaliknya.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Anti Spam. Akismet.