Percaya, Yakin, Iman Itu Beda; Pengertian Iman Menurut Saya

Ulama berbeda pendapat mengenai pengertian iman, tapi perbedaan itu bukanlah perbedaan substansial. Ada titik temu dari berbagai macam perbedaan iman itu (baca: pengertian iman menurut bahasa dan istilah). Titik temunya adalah keyakinan, al-Itba’ (keikutsertaan), dan ta’ah (ketaatan). Orang yang beriman, akan senantiasa mengikuti (ajaran) siapa yang diimaninya.

Kenapa iman itu penting? Karena hal paling krusial dalam beragama adalah iman. Itulah sebabnya, dalam materi pelajaran Pendidikan Agama Islam SMP, materi pelajaran iman ada di tiap semester, karena anak usia baligh adalah masa perhitungan amal yang dilakukannya. Sedangkan amal, licensinya adalah iman. Olehnya, untuk merombak, mengacaukan, membuat bercerai berai kelompok agama, mulailah dengan merombak pemahaman iman penganutnya.

Mencoba bertanya “apa itu iman?”, jawaban paling banyak, “iman adalah yakin dan percaya bla bla bla…” ada benarnya, meski tidak tepat. Karena antara percaya, yakin, dan iman sedikit berbeda. Jika ingin diurutkan, maka percaya pada tingkatan pertama, yakin pada tingkatan kedua, dan iman pada timgkatan paling tinggi. Tidak semua yang yakin pada A, dia beriman pada A. Tapi yang beriman pada A, adalah mereka yang sekaligus yakin pada A (baca: bukti Tuhan itu ada).

Bukti lain, dalam ajaran Islam hal yang diimani hanya ada 6; Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Qiamat, dan Qadha Qadar. Membuktikan perbedaan percaya, yakin dan iman, sangat sederhana. “apakah Anda percaya sama orang tua?”. Jawabannya mungkin iya. Tapi apakah Anda beriman kepada orang tua. Jawabannya pasti tidak.

Mari kita lihat apa itu percaya, yakin, dan iman, untuk mengetahui posisi kita sebenarnya terhadap Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Qiamat, dan Qadha qadar sampai di mana. Sumber utamanya adalah pengetahuan. Jadi stepnya adalah tahu, percaya, yakin, dan beriman.

Dalam filsafat, ada istilah pohon pengetahuan. Pohon pengetahuan yang akarnya dari indera yang diistilahkan empirisme. Sumber kitab, yang diistilahkan dengan skriptualisme. Dan sumber akal, yang diistilahkan dengan rasionalisme. Dari sinilah akar pengetahuan. Manusia tahu Tuhan sumbernya dari salah satu akar pengetahuan tadi. (baca: dengan cara apa manusia menemukan Tuhannya)

Pengetahuan yang menghasilkan kepercayaan, adalah pengetahuan terbukti kebenarannya, karena tidak semua pengetahuan itu terbukti. Kepercayaan dari hasil pengetahuan, juga bisa berasal dari kepercayaan orang yang kita percayai. Misalnya, kita percaya Tuhan, karena orangtua yang kita percayai, juga percaya Tuhan. Demikian seterusnya.

Tanda yang paling sederhana dari kepercayaan adalah mengikuti, taat, patuh kepada siapa yang kita percayai. Misal, percaya sama kakak, maka apapun yang disarankan oleh kakak, akan kita turuti, meski dalam pikiran ada tanda tanya besar, akan saran itu.

Dari kepercayaan itu melahirkan keyakinan. Banyak hal yang kita percayai, tapi kita tak yakini. Keyakinan letaknya di hati. Keyakinan tidak bisa diklaim pada seseorang. Keyakinan adalah keteguhan hati terhadap apa yang kita percayai. Misal, percaya sama oragtua berarti mengikuti apa yang disarankan orangtua, meski hati bertanya-tanya. Yakin terhadap orang tua, berarti melaksanakan saran orangtua, tanpa ada lagi usaha mencari jawaban kenapa ada saran seperti itu.

Berarti rumus sebuah keyakinan adalah: tahu (empiris/ skriptualis/ rasionalis) + percaya (adanya bukti benar dari apa yang kita tahu) + keteguhan hati. Meski keyakinan letaknya di hati, namun dapat dilihat dari gejala perilaku, yaitu melaksanakan apa yang diyakini dan tak peduli apapun yang diakatakan orang lain dari yang dilaksanakan itu.

Step terakhir adalah iman. Inilah posisi terakhir yang tentu letaknya di atas dari keyakinan. Iman adalah keyakinan teguh terhadap yang diyakini dan nilainya lebih dari siapa yang meyakini. Susah dimengerti? Jika Beddu (nama orang) yakin terhadap Tuhan A, maka nilai keyakinannya lebih mahal dari diri Beddu sendiri. Itulah sebabnya, orang yang beriman akan rela berkorban apapun, rela berkorban harta meski akan memiskinkan dirinya. Bahkan rela berkorban nyawa, meski mengancam dirinya.

Jadi rumus keimanan adalah tahu (empiris/ skriptualis/ rasionalis) + percaya (adanya bukti benar dari apa yang kita tahu) + yakin (keteguhan hati) + menetapkan nilai yakin lebih besar dari dirinya, atau rela mempertahankan keyakinannya lebih dari mempertahankan dirinya sendiri. Itulah sebabnya dalam agama, seorang hamba dituntut rela berkorban, bahkan akan harta dan nyawa (anfus).

iman dan percaya

Mari kita lihat contoh kasusnya. Beri tahu pada A bahwa 2 x 2 itu = 4. A akan tahu. Jika terbukti, dia akan percaya. Jika dia yakin dan tak perlu bertanya lagi adanya teori selain 2 x 2 = 4, maka dia yakin, kalau benar 2 x 2 itu 4. Tapi apakah A beriman kepada 2 x 2 = 4? Tentu tidak. Karena nilai tahu, kepercayaan, keyakinan atas pengetahuannya itu tak sebanding dengan nilai dirinya. Buat apa berkorban harta hanya untuk 2 x 2? Coba ganti (2 x 2) dengan Tuhan. Jika A sudah rela atas keyakinannya terhadap Tuhan, maka A beriman. (baca: cara membuktikan wujud Tuhan)

Kalau dalam keyakinan saja sudah tidak ada lagi perdebatan yang membutuhkan jawaban dari apa yang diyakini, maka dalam iman semua itu akan dipertahankan. Pengertian Iman atau beriman berarti menganggap apa yang diyakini orang lain selain yang diyakini dirinya, adalah salah. Itulah iman. Lalu di mana letak tasamuh, atau toleransi?

Toleransi bukan berarti membenarkan keyakinan penganut yang lain, tapi membiarkan sebagai penghormatan atas manusia yang memiliki hak memilih. Toleransi dalam iman, adalah pembiaran. Artinya boleh bersama-sama melakukan sesuatu dengan penganut agama lain, dengan perbedaan keimanan, karena apa yang dilakukan itu tidak terkait iman.

Salam bahagia

Tinggalkan Balasan