Pepada, Lezat Namun Asing Bagiku | Kisah 9 Hari di Maluku Utara

Pepada, Lezat Namun Asing Bagiku (14 Mei 2013)

Siang sekitar pukul 2, makanan sedikit telat. Pihak official terlihat kesal, namun buyar ketika 6 tentengan rantang berlapis datang, isinya beragam. Tak pikir panjang, segera ditata, menyesuaikan lebar meja berlapis taplak biru bergaris, sedikit licin. Paling ujung kanan tempat nasi, terlihat kurang besar dibanding jumlah perut keroncongan hari itu.

Di tepi sebelah kiri, baskom besar berisi makanan liat kenyal seperti kanji, katanya terbuat dari sagu, dikelilingi Ubi dan pisang rebus yang masih mengepul, numpuk. Tak ada bagian meja yang kosong, terisi dengan gulai ikan laut, terpisah dengan kuah dalam wajan berbeda.

Berebut mungkin selain saya, menggulung makanan dari sagu itu, kalau tidak salah namanya Pepada. Nama makanan yang aneh. Bernafsu gulungan Pepada di letakan di atas piring yang sudah terisi dengan kuah ikan dan Ubi rebus. Lezat terlihat antara mengunyah dan menghisap, sesekali meringis, mungkin karena pedas.

“Ayo dicoba, enak kok.” Kata pak Haji
Aku terdiam, bukan tak suka, tapi makanan itu aneh atau lebih halus asing bagiku.
“Ini halal kok daeng.” Kata pak Haji ketika melihatku melirik nasi.

Benar yang dikatakan Tuhan, kategori makanan layak bukan 4 sehat 567, tapi halal dan baik. Penjabaran halal adalah bahasa agama, yang Maha Kuasa tahu, dalam kehalalan semua ciptaanya, ada pelarangan karena efek yang bisa saja membahayakan. Halal dan haram tidak abstrak, tapi nyata dan bukan masalah etika. Berbeda dengan baik. Baik lebih condong ke maslah etika dan kecocokan. Baik bukan norma. Seperti dalam KUHP, hanya penjelasan.

Gombloh tahun 60-an teriak dengan bait lagunya, “aku suka singkong, kau suka keju.. Oo.o.” Keduanya halal, namun tidak baik dalam sudut pandang berbeda.

Ukuran baik untuk makanan memiliki beberapa variabel pendukung. Kesehatan sudah pasti. Enak menjadi urusan lidah yang juga dipengaruhi oleh kadar enzim. Adaptasi makanan dalam perut terutama oleh usus yang dipengaruhi oleh kadar gula dan darah. Variabel eksternal, seperti bentuk makanan dan kelaziman mencicipi. Dan masih banyak lagi.

Pepada saya yakin memenuhi unsur halal dan baik, hanya asing bagiku. Toh bukan komuditi bagi saya dan tak perlu dipaksakan. Tak seperti ketika Obama dengan ejaan dipaksakan berteriak Nasi Goreng, dan Bakso di auditorium UI tahun lalu.

Bersambung

Tinggalkan Balasan