Awal Kalian Belajar Blog

Awal munculnya facebook sempat menjadi perdebatan. MUI terang-terangan menyatakan bahwa situs pertemanan ini haram. Asumsinya mudharat lebih besar daripada manfaatnya. Waktu demi waktu fakta tempat berkumpulnya ulama ini menjadi kenyataan. Ada saja hal mudharat yang berasal dari jejaring sosial dengan jutaan pengguna itu.

Kenyataan di sekolah-sekolah termasuk SMP 1 Belawa, facebook bagiku menjadi “penyakit”. Siswa menganggap bahwa online adalah pekerjaan ketika facebukan ria saja. Masuk ke ruang TIK, situs yang mereka buka pasti facebook. Muncul kekhawatiran besar dalam benakku, dengan formula dan posisi seorang facebooker sangat membuka peluang untuk berbohong.

Sistem verifikasi pengguna yang sangat lemah. Terbukti pengguna dapat mengganti identitasnya beberapa kali, tarmasuk nama, poto, tanggal lahir dan identitas lain. Banyak pengguna merayakan ulang tahunnya tiap hari, banyak akun yang pemiliknya berjenis kelamin pria (male), tapi picture profilenya seorang perempuan cantik.  “Perintah” menulis status berdasar dari apa yang pengguna pikirkan, dan masih banyak hal lain.

Sedikit demi sedikit pendekatan telah dilakukan. Tapi tampaknya, pengaruh jejaring sosial ini sudah menghipnotis penggunanya. Situs resmi sekolah yang berisi informasi penting dari pelajaran dan pembelajaran mereka tampaknya tidak mampu membuat meraka bergeming untuk berhadapan dengan PC tanpa facebook. Sampai suatu hari kucoba arahkan mereka untuk mebuat akun blog sendiri.

Sebagai langkah promosi, blog-blog yang layak menyita perhatian mereka kuperlihatkan. Hasilnya cukup lumayan.  4 kelompok dari mereka dengan jumlah masing-masing bervariasi bersedia ikut dalam bimbingan belajar blog tiap sore.

Tanpa sepengetahuan sekolah secara struktural (ini salahku), meraka kuajari bagaimana membuat blog sederhana, mengganti template, sampai mendatarkannya ke webmaster google. 19 siswa keseluruhan berhasil membuat blog yang cantik meski postingannnya kebanyakan copy paste. “Tak masalah, selama ananda menulis sumbernya” kataku.

Ada suka, ada duka dari semua proses itu. Pengorbanan material tak kalah. Tapi aku puas, mereka sedikit demi sedikit mulai mengenal arti mendalam dari sebuah akun. Mereka sadar facebook hanyalah salah satu akun dari ratusan juta bahkan milyaran akun yang ada di dunia.

Semoga kamu mengerti anak-anakku, kelak kalian bukan hanya konsumen yang bisa di “stir” kemana produsen inginkan, tapi kalian adalah produsen yang punya posisi sama dengan akun pengendali akun lain, meski kualitas masih sedikit berbeda.

Tinggalkan Balasan