Penafsiran Surah al-Fatihah Ayat 7

Kita lanjutkan edisi tafsir kita satu hari satu ayat untuk kali ini, yaitu penafsiran surah al-Fatihah ayat 7. Surah al-Fatihah ayat 7 ini sangat berkaitan erat dari sisi kelanjutan makna bahasa dengan surah al-Fatihah ayat 6 lalu. Ayat lalu menyebutkan, “Tunjukanlah kami jalan yang lurus,” lalu dilanjutkan dengan “Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”

Sera tekstual, ayat ini menyebutkan tiga golongan manusia, yaitu golongan berada diatas jalan yang lurus dan mendapat nikmat dari Allah swt, mereka berada di jalan yang menyimpang dan mendapat murka Allah swt, serta golongan orang yang berada dalam kesesatan yang nyata.

Mereka yang mendapat anugerah taufik berupa jalan yang lurus, yaitu para Nabi, para Shiddiqin, para Syuhada (mati di jalan Allah), dan para Shalihin (senantiasa berbuat baik). Lalu, mereka yang dimurkai, adalah orang-orang yang mengetahui ilmu, akan tetapi mereka tidak mengamalkan ilmu nya dan memilih jalan kekafiran daripada Islam, memilih jalan kesesatan daripada jalan keselamatan. sedangkan mereka yang berada di jalan yang sesat adalah mereka mengamalkan sesuatu tanpa ilmu, mereka beribadah kepada Allah swt dengan tata cara mereka sendiri, tidak mau belajar terhadap ulama dan ahli agama, suka menafsirkan Ayat Allah dengan cara mereka sendiri, sehingga mereka beribadah dengan kebodohan.

Jika dikaitkan dengan permohonan jalan lurus dalam surah al-Fatihah ayat 6, maka hal paling penting sebagai aplikasi dari penutup surah al-Fatihah adalah upaya manusia menyimpang dari jalan yang lurus adalah karena kebodohan yang ada pada diri nya akibat mengikuti hawa nafsu sehingga dia membangkang terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya.

Ajaran Nabi Muhammad saw adalah ajaran menyeluruh. Misi Rasul selain bersifat perjuangan membebaskan diri dari belenggu empirisme juga bebas dari hijab spiritualisme. Yang berarti bagaimana konsentrasi pada Wajah Ilahi, sehingga menimbulkan interaksi horisontal dan sekaligus vertikal.

Selesai membaca surah al-Fatihah disunnahkan bagi seseorang untuk mengucapkan “Amin” yang artinya Ya Allah kabulkanlah. Ketika Rasulullah saw membaca, “Ghairilmaghdhubi’alaihim waladhdhalin”, maka beliau mengucapkan “Amin” sehingga terdengar orang-orang yang dibelakangnya pada barisan pertama. Hadis riwayat Abu Dawud dan Ibnu Majah. Begitu pentingnya pengetahuan agar terhindar dari kesesatan sebagai manusia.

Semoga bermanfaat…

Tinggalkan Balasan

Send this to a friend