Penafsiran Surah al-Fatihah Ayat 3

Melanjutkan edisi tafsir harian kita satu hari satu ayat, kali ini akan kita ulas secara sederhana surah al-Fatihah ayat 3, mari kita baca bersama-sama; “al-Rahman al-Rahim.” Surah al-Fatihah ayat 3 ini hanya terdiri dari dua kata, dan pengertiannya pun hampir sama.

Kata al-Rahman berarti pengasih, penyayan, adalah makna sifat yang hanya dipakai untuk Tuhan. Sedangkan al-Rahim juga berarti penyayang namun penggunaannya bisa juga dipakai untuk manusia. Al-Rahman tidak mengkhusus kepada orang tertentu tapi makna penyayang pada al-Rahman adalah kepada seluruh makhluk yang ada di muka bumi. Berbeda dengan al-Rahim, makna penyayang ditujukan kepada orang-orang mukmin dan menjalankan perintah Allah swt saja.

Berdasarkan penafsiran hadis Nabi saw, sifat al-Rahman, bertalian dengan kehidupan dunia. Sebaliknya makna al-Rahim bertalian dengan kehidupan akhirat. Sifat penyayang Tuhan dengan al-Rahman, tidak memandang keimanan, dan al-Rahim sebaliknya. Artinya karena dunia ini pada umumnya adalah dunia perbuatan, dan karena alam akhirat adalah alam ganjaran, maka sifat Tuhan dengan al-Rahman menganugerahi manusia alat dan bahan untuk melaksanakan pekerjaannya dalam kehidupan di dunia ini, dan sifat Tuhan al-Rahim mendatangkan hasil dalam kehidupan yang akan datang.

Dalam ungkapan bismillahirrahmanirrahim, sifat al-Rahman dan al-Rahim berlaku sebagai kunci arti seluruh Surah. Pada ayat dua ayat sebelumnya, yakni al-Fatihah ayat 1 dan al-Fatihah ayat 2, Allah swt menerangkan bahwa Dia adalah Tuhan semesta alam. Maka untuk mengingatkan hamba kepada nikmat dan karunia yang berganda-ganda, yang telah dilimpahkan-Nya, serta sifat dan cinta kasih sayang yang abadi pada diri-Nya, diulang-Nya sekali lagi menyebut “al-Rahmanir al-Rahim”. Tujuannya agar sikap buruk lenyap dari pikiran yang bersifat sewenang-wenang.

Dapat pula dipahami bahwa urutan “al-Rahman dan al-Rahim” sebagai ilustrasi bahwa penjagaan, pemeliharaan dan asuhan Tuhan terhadap semesta alam, bukanlah lantaran mengharapkan sesuatu dari alam itu, hanya semata-mata karena rahmat dan belas kasihan daripada-Nya.

Dalam kehidupan keseharian, terkadang kita merasa Tuhan tidak adil. Mereka yang rajin beribadah, seakan tidak mendapatkan kenikmatan dunia dalam pandangan kita. Sebaliknya, mereka yang ingkar, justru hidup mewah dan bergelimang harta. Di sinilah berlaku makna al-Rahman, yang didalamnya mencakup usaha dan sebab akibat. Dalam kacamata akhirat, sifat penyayang Tuhan dengan al-Rahim, adalah ganjaran perbuatan.

Alangkah bahagianya, jika seorang hamba mendapat al-Rahman dari Tuhan di dunia sekaligus mendapat al-Rahim di kehidupan nantinya.

Semoga bermanfaat.

[youtube width=”100%” height=”300″ src=”t97ybGU1iSM”][/youtube]

Tinggalkan Balasan