Penafsiran al-Fatihah Ayat 6

Kata “ihdina” dalam surah al-Fatihah ayat 6 ini, adalah bentuk perintah, diambil dari kata hada, hidayah, yang biasa diterjemahkan dengan petunjuk. Oleh pakar-pakar bahasa kata ini diartikan sebagai “sesuatu yang menunjukkan kepada apa yang diharapkan.” Hidayat berkaitan erat dengan kelemah-lembutan. Hadiyah juga terambil dari akar kata yang sama dengan hadiyyah. Hadiyyah adalah sesuatu yang diberikan secara halus dan lemah lembut menuju apa yang diharapkan oleh si pemberi, yaitu persahabatan dan jalinan hubungan yang lebih erat.

“Ihdina ash-Shirath al-Mustaqim.” Tunjukanlah kami ke jalan yang lurus. Sebuah bentuk permohonan kepada Allah memperoleh petunjuk dan diantarkan ke jalan yang luas lagi lurus.” Jika diartika dengan konotasi lebih luas, bisa berarti, hidayahkanlah kami dengan hidayah menuju jalan yang lurus.

Lalau bagaimana bentuk hidayah yang diberikan Allah kepada hambaNya?. Hidayah terbagi dalam empat bagian. Pertama: yang meliputi seluruh manusia mukallaf, yaitu hidayah dalam arti akal, pengetahuan umum, sesuai dengan batas kemampuan masing-masing. sesuai dengan firman Allah dalam surah Thaha ayat 50; “(Musa) berkata:Tuhan kami adalah yang telah memberikan kepada tiap-tiap suatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.”

Kedua: Hidayah dalam arti ajakan kepada manusia melalui para nabiNya dan kitab suciNya, seperti firman Allah dalam surah al-Anbiya ayat 73; “Kami telah jadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami…”

Ketiga: Hidayah dalam arti taufiq atau persesuaian antar kehendak seseorang dengan kehendak Allah. Ini tentunya hanya khusus bagi mereka yg telah menerima secara baik hidayah kedua yang disebut di atas. Sesuai firman Allah pada surah Maryam ayat 76; “Dan Allah akan menambah petunjuk bagi mereka yang telah mendapat petunjuk.”

Keempat: Hidayah di akhirat nanti menuju surga seperti dalam firman Allah pada surah Muhammad ayat 4-5; “Orang-orang yang gugur dijalan Allah, maka Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. Allah akan memberi petunjuk kepada mereka dan memperbaiki keadaan mereka.”

Lalu apa yang dimaksud dengan jalan lurus dalam kalimat “shiratal mustaqim”? Hukum, aturan, akhlak, etika, dan pelajaran-pelajaran yang membawa segala sesuatu yang perlu untuk kebahagiaan hidup manusia di dunia dan akhirat itulah jalan yang lurus.

Dalam aplikasi keseharian, betapa sulitnya menemukan jalan yang lurus. Orang yang menemukan jalan yang lurus ini, dialah yang paling dicintai oleh Rasul saw. Dengan menyebut ayat ini seakan-akan kita memohon kepada Tuhan: “Bimbing dan beri taufiklah kami ya Allah dalam melaksanakan ajaran-ajaran agama kami. Betulkanlah kepercayaan kami. Bimbing dan beri taufiklah kami dalam melaksanakan kepercayaan kami. Jadikanlah kami mempunyai akhlak yang mulia, agar berbahagia hidup kami di dunia dan akhirat.”

Semakin sering seorang membaca ayat ini dalam shalat dan kesehariannya, maka semakin besar peluang jalan yang ditempuhnya adalah jalan yang lurus.

Semoga penafsiran al-Fatihah ayat 6 ini memberi manfaat…

[youtube width=”100%” height=”300″ src=”1A0H1-ejdzo”][/youtube]

Tinggalkan Balasan