Penafsiran Surah al-Fatihah Ayat 4

Mari kita berpindah ke penafsiran surah al-Fatihah ayat 4, melanjutkan penafsiran al-Fatihah ayat 3 kemarin. Kita baca bersama dalam hati, “Maaliki yaumiddiin.” Ada beberapa qiraat (bacaan) dari qiraat mutawatir memendekan maliki, namun yang masyhur adalah maaliki. Makna maalik (dengan bacaan panjang) adalah pemilik, sedangkan makna malik (dengan bacaan “ma” pendek) adalah raja. Meski kedua makna memiliki keterkaitan bahwa Allah adalah penguasa.

Kalimat “yaumiddin”, berarti hari pembalasan, yaitu hari akhir dimana semua amal ibadah manusia dimintai pertanggungjawaban. Penggabungan dua kata tersebut menunjukkan makna bahwasanya kekuasaan Allah adalah hakiki.

Ibn Abbas ra menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan yaumiddin itu adalah hari perhitungan (hisab) terhadap seluruh makhluk. Ketika pada hari itu, setiap orang akan mendapatkan balasan yang impas dan sesuai dengan amalannya. Jika amalannya baik maka balasannya tentu saja akan baik. Namun jika amalannya tidak sesuai dengan syariat Allah maka balasannya pun akan setimpal.

Di kehidupan dunia, bisa saja ada raja-raja lain, ada penguasa lain, namun di hari kemudian, semua raja-raja bahkan yang mengakui raja sekalipun tidak kuasa lagi untuk itu. Di sana, hanya Dia yang berlabel raja, tapi pada hakikatnya kekuasaan tidak di tangannya.

Jika dikaitkan dengan ayat sebelumya, yaitu al-Fatihah ayat 3 dan 2, tersirat bahwa sifat rahman Allah dikhususkan pada hari pembalasan karena pada ayat sebelumnya juga telah ditegaskan kekuasaan Allah yang mencakup seluruh alam semesta

Rasulullah saw bersabda: “(Pada hari akhir itu) Allah akan menggenggam bumi dan menggulung langit dengan Tangan KananNya, lalu Ia berkata : “Akulah Sang Penguasa. Ke mana itu para penguasa/ raja-raja di bumi ? Ke mana itu orang-orang yang berkuasa ? Ke mana itu orang-orang yang angkuh?” (HR. Bukhari dan Muslim)

Perlu disebutkan bahwa yaumiddin dapat menjadi obyek bagi maliki dan juga bisa menjadi keterangan tempat. Ini mengindikasikan bahwa penghitungan di hari kiamat dan balasan segala perbuatan berada pada Allah. Hari Kiamat menjadi hari pembalasan bagi seluruh manusia sebagai manifestasi rahmat Allah, hari kiamat merupakan bagian dari kepengaturan Allah atas alam semesta, dan kepemilikan Allah atas Hari Pembalasan merupakan dalil lain pujian kepada Allah swt.

Ilustrasi

Pelajaran terpenting dari ayat ini adalah bahwa pada hari kiamat nanti akan terbuktilah siapa sesungguh Sang Penguasa yang hakiki itu. Para raja dan penguasa yang sombong dan merasa seolah-olah tidak ada yang mengalahkan kekuasaannya, pada hari itu bahkan berbicarapun ia tidak bisa melakukanya.

Penafsiran surah al-Fatihah ayat 4 ini sejatinya mengusik kesadaran kita sebagai hamba, sudah sejauh mana kesombongan kita, keingkaran kita sebagai manusia. Seolah-olah Allah menegur manusia, sebesar apa keingkaranmu di dunia ini, kalau di akhirat kelak kamu tidak bisa berbuat apa-apa…

Semoga bermanfaat..

Tinggalkan Balasan

Send this to a friend