Pelanggaran Sosial Terhadap Peserta Didik, Sampai Kapan ?

Dalam relung hati saya, terkadang mempertanyakan kondisi pendidikan di Indonesia. Sudah banyak sekali pelanggaran sosial terhadap peserta didik yang terjadi terutama di sekolah. Bukan hanya itu, pendidikan luar sekolah juga seakan telah terstruktur rapi “menjajah” penglihatan peserta didik. Entah, mau dibawa kemana pendidikan Indonesia ini.

Banyak orang tua yang cemas akan anaknya, mungkin karena sering melihat kasus kasus terjadi di Televisi atau berita online. Bagaimana tidak cemas, jika anaknya diperlakukan tidak elok oleh pihak sekolah dalam hal ini oknum guru, ataupun anaknya tidak diberikan hak yang harusnya diberikan oleh pihak sekolah. Anda sebagai orangtua, mereka dan mungkin kita sebagai pelaku.

Pelanggaran sosial saya maksudkan sebagai pelanggaran yang memiliki efek langsung terhadap kehidupan bermasayarakat baik peserta didik, maupun oknum guru. Beberapa pelanggaran sosial terhadap peserta didik yang sering kita temui di sekolah.

Pertama: Deskriminasi. Anak didik rentan mendapat perlakuan tidak adil disekolah, lebih tepatnya guru membeda- bedakan setiap murid dengan murid lainnya. Posisi peserta didik sama di mata satuan pendidikan hanya ada pada seragam sekolah. Tentu, kita tidak bisa menghilangkan deskriminasi hanya dengan seragam sekolah. Banyak sekali hal yang membuat kita terdeskriminasi. Seperti; kendaraan yang dipakai, Gadget yang dipakai ataupun bahan seragam yang kita beli.

Kedua: Pelecehan seksual. Entah sudah berapa oknum guru dengan labelm kasus pelecehan yang terjadi di Negara kita tercinta, Indonesia. Oknum guru yang tidak bermoral sekarang mulai merusak harga diri siswanya sendiri. Kita sering melihat ataupun mendengar tentang guru yang sudah “keterlaluan”. Melakukan tindakan asusila kepada anak didiknya sendiri, anak didik yang mendapatkan kekerasan dari Gurunya dan berakhir dengan hukuman tak setimpal.

Ketiga: SARA. Sara adalah kasus dimana seseorang melecehkan atau membeda bedakan kepercayaan seseorang. Beberapa waktu lalu ada kasus didenpasar tentang “Dikeluarkannya murid karena memakai jilbab” Sangat disayangkan sekali. Negara kita ini mayoritas muslim sekaligus termasuk Negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia. Tapi, mengapa siswa dilarang memakai jilbab.

deskriminasi pendidikan

Tiga bentuk pelanggaran sosial terhadap peserta didik di atas, hanya sampel saja. Masih banyak bentuk pelanggaran lain. Semua yang berharap besar terhadap pendidikan tentu bercita-cita Negara kita maju seperti finlandia. Finlandia termasuk Negara yang pendidikannya paling maju dibandingkan Amerika Serikat. Hebatnya juga, Finlandia termasuk Negara pendidikan Tanpa Sistem Ujian nasional.

Hanya yang hidup yang masih bisa berharap, kita juga bisa seperti Finlandia. Tapi, jika sekarang, mungkin tidak. Kita harus bisa menetralisir pelanggaran dalam dunia pendidikan. Memang tidak mudah untuk itu, tapi jika pemerintah berusaha untuk itu, dan Guru guru sadar akan kesalahannya. Mungkin itu akan sangat mudah untuk dilakukan. Bahkan, kita bisa lebih maju dari finlandia.

“Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi.” (Soe Hok Gie)

Semoga celoteh ini bisa membangunkan kita dari tidur panjang dan sedikit banyak membantu pendidikan kita yang sedang terpuruk di dasar kehancuran. Akhir kata; salam bahagia.

Tinggalkan Balasan