Nyinyir Tingkat Nasional

Cerewet, itulah arti utama dari nyinyir. Seiring waktu, nyinyir bermakna luas; komentar sana sini, suka kritisi tanpa solusi, selalu tak setuju dengan pandangan orang lain, ngoceh buang waktu. Masih banyak makna lain dari nyinyir. Kesemuanya konotasi negatif. Nyinyir menjadi kata kerja yang memiliki kekuatan tersendiri. Entah kekuatan itu untuk pelaku nyinyir, atau efek dari nyinyir itu sendiri. (Baca: The power of nyinyir)

Suatu perilaku yang cakupannya berdasarkan wilayah, biasanya diberi batasan istilah. Misalnya lomba melukis yang terbuka untuk satu desa/ kelurahan, maka diistilahkan lomba lukis tingkat desa/ kelurahan. Kadang juga, pelabelan itu berdasarkan objeknya bukan pesertanya. Misal, penelitian yang objek penelitiannya nasional, maka diistilahkan penelitian tingkat nasional. Demikian seterusnya. Nah, istilah nyinyir tingkat nasional ini adalah istilah yang berdasarkan objeknya.

Akhir tahun 2018 menuju tahun 2019 biasa disebut tahun politik. Momen inilah muncul skuad nyinyir nasional. Mereka yang nyinyir, cerewet, ngoceh sana sini, kiritik tanpa solusi dengan objek nyinyir nasional, entah itu tokoh, program, atau apa saja sumber nyinyir nya. Menarik, karena nyinyir ini bergeser dari perilaku menjadi sifat. Tiada hari tanpa nyinyir. Medianya kalau bukan lingkungan nyata, media sosial. Uniknya, tahun politik memecah skuad nyinyir ini menjadi dua bagian; skuad nyinyir pertama objeknya penantang. Skuad kedua objeknya petahana. Seruu…

Saya pernah berada di tengah-tengah anggota skuad nyinyir ini. Namanya nyinyir bertemu nyinyir, ributnya minta ampun. Tentu apa yang dikatakan tak perlu didengar, karena jauh dari tabayyun dan validasi data. Toh nyinyir sudah jadi sifat. Mereka merasa kurang sehat jika tak nyinyir. Begini sebagian percakapan mereka. Sebagian saya pangkas. Saya mengambil topik yang sudah familiar saja.
nyinyir

“Eh, kamu tahu nggak? Prof Mahfud itu sekarang dikecewakan. Bayangkan sudah ngukur baju, hanya karena tekanan tak bisa mengambil keputusan. Berarti, calonmu itu tak bisa bekerja dalam tekanan. Payah…” Nyinyir satu bersemangat.

“Itu masih mending, apalah arti ngukur baju dibanding uang satu kardus. jendral kardus” Jawab lawannya dengan nyinyir suara yang tak kalah tingginya.

Lanjut, “Jokowi enggak bisa ngaji, Masa al-Fatihah masak jadi Alpateka.” Dibalas”Emang Prabowo bisa? Sollullohiwalaiahiiwassalam ini apa? Kacau.”

Lagi, “Prabowo itu sepertinya kalau jadi presiden akan diktator mirip mertuanya, Pak Harto.” Balasan, “Mending, dibanding Jokowi lemah orangnya. Repot jadinya semua disetir Cina. Nanti jangan-jangan negara ini dijual ke pihak asing-aseng.”

Bosan menyerang dua capres sebagai putra terbaik Nasional, mereka bergeser ke wakil masing-masing.

“Tau nggak, kalau pak Kiyai dikerjain, sudah tua. Penggantinya sudah siap” Berapi api.

Tak mau kalah, “Dengan sandi sulit, setiap melakukan sesuatu masa minta sandi. Mending Amin, cepat.”

Bosan mendengar nyinyir mereka, saya menyela. “Pernah nggak kalian nyinyir terhadap diri sendiri?” Keduanya diam. Semua manusia punya kekurangan, dan salah satu pekerjaan yang mudah adalah mencari kekurangan orang lain. Namun semakin kalian mencari kekurangan orang lain, maka semakin rapat pintu tertutup untukmu menemukan kekurangan sendiri. Bagaimana kalian bisa lebih baik, kalau mencoba menemukan kekurangan sendiri saja tidak pernah.

“Tahu nggak kekurangan kalian sekarang?” Nyinyir Tingkat Nasional!!!

Tinggalkan Balasan