Nostalgia Anak Bugis Era 70 dan 80-an

Entah, apakah hanya sekedar klaim kebahagiaan berdasarkan masa, atau memang ada benarnya. Orang paling bahagia adalah yang hidup akhir tahun 70, dan tahun 80-an. Lahir akhir tahun 70-an berarti berusia 40-an. Lahir tahun 80-an, berarti usia 30-an. Wah, matang matangnya berooo…

Penulis masuk era 80-an. Udah tua yeaa… Waktui itu pergi sekolah jalan kaki. Jangan harap diantar apalagi dijemput. Pulang sekolah tak ada tidur siang, karena harus pergi mengaji. Sebelum mengaji harus angkat air di rumah guru mengaji. Terlambat mengaji dihukum dengan “ di epe”
(jari dijepit diantara rangkaian rotan). Selesai ngaji berlomba cepat pulang lalu inggah di sungai, berenang sembari tangan ke atas bawa sepatu
Meski kotor tapi tak pernah kita gatal-gatal. Main hujan tak pernah influenza, karena kita sangat bersahabat dengan alam.

Dulu sakit kita obatnya seragam. Sakit kita tak pernah dibawa ke dokter. Palingan ditempeli saja ramuan berupa daun-daunan di jidat, dengan sedikit mantera entah betulan atau hanya sugesti. Kalau parah sedikit paling ke puskesmas. Obatnya hanya antalgin dan paracetamol. Sama, tak peduli sakit apa. Orang tua sepertinya menganggap tak ada penyakit yang membahayakan. Berdarah paling karena ketusuk paku di jalan, atau jatuh karena kajili-jili saat bermain.

Senangnya mengerjai teman sekolah. Menyimpan gula karet di tempat duduknya, atau menempel kertas dibelakang bajunya
Bertulis, “saya orang gila”. Kadang juga menyimpan barang “aneh” dibangkunya, misalnya jangkrik atau kecoa. Kalau Guru tahu, dicambuk satu kelas, atau dijewer sampai merah.

Model pukulan beragam kita rasakan; dipukul guru di sekolah, atau dijemur di depan kelas, disuruh berdiri dengan satu kaki, dilempar penghapus sampai kapur nampol sehingga memutih muka. Macam-macam… Namun, tak pernah kita mengadu ke orang tua. Kita takut sekali sama bapak dan ibu guru. Coba mengadu ke orang tua, pasti kita yang salah. Habis dipukul, mengadu, malah ditambahin

Jajanan di sekolah tidak ada yang berbahaya. Paling permen gula merah yang dialirkan dipelepah pisang, Roti Pawa, Taripang, Sanggara utti (pisang goreng), Sanggara Lame (ubi goreng), Gorengan pake tai minyak (Endapan minyak goreng), Minum es lilin atau minuman khas warna merah jambu prambosen atau sirup DHT. Dosanya, kadang sampai tamat masih punya utang di kantin

Nakal kadang, misal tidak sampai ke sekolah ataukah bolos (cili). Paling senang kalau guru ada acara atau rapat, kita cepat pulang tapi tak sampai di rumah. Namun, tidak tawuran apalagi narkoba. Sejauh itu, singgah menonton penjual obat di pasar

Masalah pakaian? pakai baju dan sepatu sendiri, bahkan kadang hanya pakai sandal. Baju disterika pakai arang, kadang melekat di baju sisa arangnya. Hujan? tak ada payung hanya pakai daun pisang. Tak ada jas hujan, tapi biasanya pakai kantong plastik dan tidak pakai tas, hanya pakai kresek atau kantong plastik bekas bungkus sarung.

Mainan bukan gadget, bukan mibile legend atau Pubg. Perempuan Bermain pakai karet, maddanda (melompati gambar di tanah), mammini (Melompati talian karet), mabbekkele (main dengan bola dan bantal-bantal kecil). Kalau laki-laki ma enggo (dikejar, dengan target sentuh tiang), mang asing asing (menghadang), maggolo (main bola), mattingko (umpet), ma pagoli (main kelereng), Kalau gabung laki perempuan palingan makkasti, mabboi, maccukke. Permainan paling mengasyikkan adalah main layang-layang
disertai pitu-pitu (suara pita yang dipasang dilayangan)

Semua teman sama. Laki perempuan sama, tak ada rasa aneh. Tak ada pacar-pacaran. Bermain berbaur laki perempuan jarang. Kita takut dan malu diejek sama orang dewasa, “yanu pacaran sama si anu”. Wajah kita memerah karena malu. Kadang kita menangis karena tidak terima diejek. Pulang “mappicceng” (mengadu) ke orang tua. Tapi orang tua cuma ketawa.

Saat remaja atau dewasa, kita menyukai teman namun malu bilang, sampai tak pernah berani mengatakan. Dingin semua tubuh saat bertemu. Paling nekat hanya pakai surat cinta, warna merah jambu, harumnya khas. Kalau ada acara mau juga foto-foto tapi bukan selfie. Masih pakai rol 10, 24 atau 36. Kalau “klise” nya terbakar…ampun deh… “cucinya” hanya tempat tertentu, hanya ada di kota, ditunggu sampai bermalam, bahkan sampai berhari-hari. Saat itu namanya Kodak. Jadi kalau minta di foto bilang
“Kodak ka dulu”. Karena rol yang dipake hanya dua; kodak (kuning) atau fuji film (hijau).

Televisi belum banyak. Kalau ada, itu warna hitam putih pakai lemari. Mau dengar musik pakai radio transistor kalungan, dengan music di radio RRI
atau kaset pakai pita yang diputar pakai pinsil atau korek api. Kalau gulungan kaset sikota-kota (kusut), ribetnya minta ampun. Tontonan favorit saat itu adalah….TVRI; Si Unyil, Aneka Ria Safari, Kamera Ria, Dunia, Dalam Berita, Cerdas cermat (SD), Tebak Tepat (SMP), Cepat Tepat (SMA)
Filmnya Oshin, atau malam minggu Combat starring Vic Morrow and Rick Jasson. Kuisnya berpacu dalam melodi.

Begitulah sebagian nostalgia mereka yang lahir tahun 70 dan 80-an ke atas. Kalau Anda pernah merasakan ini semua, pasti tersenyum sendiri, atau mungkin terharu. Saking terharunya terasa air mata menetes, mengenang betapa indahnya hidup kita yang lalu. Terasa ingin kembali

Tinggalkan Balasan

Pengen Chat?
LihinWhatsApp

Send this to a friend