Natal bagi Muslim? Nakal !

Sesekali tanya kepadamu saudaramu umat Kristiani, apa itu natal? Jawaban mereka suka cita, karena Yesus Kristus anak Alah sang juru selamat, sang penebus dosa, jalan satu satunya menuju surga, telah lahir sebagai Tuhan. Alah telah menjelmakan dirinya menjadi manusia, agar dia bisa berkorban, dengan cara disiksa dan disalib untuk menebus dosa manusia. Kemudian bangkit dari mati setelah dikubur tiga hari tiga malam lamanya. Tuhan Yesus bangkit dan pulang kembali menuju surga mendampingi Tuhan bapak… bla bla bla, dan seterunya.

Setelah itu, liriklah surah al-Ikhlas ayat 1-4 akan menegaskan bahwa Allah itu Esa, tidak beranak dan tidak diperanakkan dan tidak ada sesuatu apapun yang menyerupai Dia.
Juga al-Quran surat Maryam ayat 90-91 dengan indah dan terang menegaskan,
“Hampir hampir langit terbelah dan bumi pecah serta gunung gunung runtuh. Karena mereka mengklaim bahwa Allah yang Maha Pengasih mempunyai anak”. Allah Maha Pengampun segala dosa tanpa harus menjelma menjadi manusia dan disalib.

Dua keyakinan berbeda yang tak mungkin disatukan. Nabi saw telah mencontohkan hal tersebut. Tatkala kafir Quraisy menawarkan, “sudahlah Muhammad, nanti kalau tiba waktu beribadah agamaku, kamu ikut. Demikian pula sebaliknya”. Dengan tegas Rasulullah menjawab dengan surah al-Kafirun yang diakhiri “bagimu agamamu dan bagiku agamaku”. Apakah Rasulullah saw melarang mereka beribadah? Tidak!. Pun Rasululllah saw, tidak mengakui dan turut serta apa yang mereka yakini. Itulah toleransi.

Biarkanlah saudara kita dalam kemanusiaan ummat kristiani sesama anak bangsa berbahagia, beribadah dengan bebas merayakan natal dengan suka cita dan penuh kedamaian. Tunjukkan sikap kita sebagai mayoritas yang mengayomi dan mengasihi minoritas. Jangan ganggu mereka. Tetap toleran. Tapi tidak mengorbankan aqidah dengan mengucapkan selamat. Karena di balik ucapan selamat ada pengakuan

الاصل فى المعاملة الاباحة الا ما دل الدليل على تحريمه
والاصل فى العبادة التحريم الا ما دل الدليل على اباحته

Asas hukum setiap pergaulan adalah kebolehan, kecuali ada dalil yang mengharamkannya.
Dan asas hukum setiap peraktek ibadah dan keimanan adalah haram, kecuali ada dalil yang membolehkannya.

(Baca: argumen natal berdasarkan akal)

Mereka merayakan apa yang mereka yakini. Dan yang mereka yakini berbeda dengan yang kita yakini. Maka sesungguhnya bukanlah keyakinan jika kita juga mengakui keyakinan berbeda yang lain dan bertentangan dengan keyakinan kita. Contoh sederhana. Anda yakin 1+1=2. Orang lain yakin, 1+1=3, lalu Anda mengucapkan selamat atas keyakinan mereka, maka sesungguhnya Anda belumlah yakin pada keyakinan Anda. Mungkin saja hanya sebatas tahu dan percaya.

Olehnya, jika seorang muslim bahkan turut serta merayakan natal bersama penganut agama lain, mereka Nakal!

Tinggalkan Balasan

Send this to a friend