Nama dan Kaidah Memilih Nama dalam Islam

Dalam diri manusia ada identitas paten dan identitas tak paten. Identitas paten, yaitu identitas manusia yang berbeda dengan orang lain, seperti sisik jari, wajah, bau badan dan DNA. Berbeda dengan identitas tak paten, bisa saja sama, namun pemilik pasti berbeda, seperti nama. Semua manusia pasti memiliki nama. Namalah yang menjadi identitas pertamanya sebagai makhluk sosial. Akan kacau jika nama sampai terlupakan seperti Jacky Chan di filmnya ‘Who am I.’

Bagi seorang muslim, nama memiliki makna dalam jauh berbeda dengan pernyataan Shakespeare. Nama adalah sesuatu yang berharga. Penegasan pentingnya nama diilustrasikan Allah kepada Nabi Isa as. “Akan datang seorang yang umatnya lebih mulia dari umatmu, NAMANYA Ahmad.” Demikian pula nama menjadi sedemikian penting karena menjadi doa kepada Allah terhadap pemilik nama.

Sebagai muslim memberikan nama kepada anak adalah hal penting, selain karena kepentingan doa tadi, nama dijadikan pertimbangan masa depan. Tak heran, memilih nama bisa memakan waktu lama. Pertimbangan pergaulan, trend, sampai jumlah bulatan dalam LJK. Nama yang dipilih seharusnya Islami, artinya mengandung kata yang maknanya bisa disesuaikan denga ajaran Islam. Namun penting menjadi catatan, meski nama islami, namun ada kaidah nama dalam batasan haram dan makruh. Untuk menghindari dan memperbaiki kesalahan dalam memberikan nama, berikut ulasannya.

Ulama sepakat haram menggunakan nama-nama penghambaan kepada selain Allah baik dari matahari, patung-patung, manusia atau selainnya, misalnya: Abdur Rasul artinya hambanya Rasul, Abdun Nabi artinya hambanya Nabi, Abdul Mulk artinya hambanya Raja, Abdus Syamsu yang artinya hambanya Matahari dst. Demikan pula ulama sepakat, haram hukumnya nama dan sifat Allah, seperti Rahim, Rahman, Kholiq dsb, sebagai nama tunggal, tanpa kata lanjutan sebelum atau sesudah yang sesuai.

Pengharaman ulama juga pada nama-nama asing atau nama-nama orang kafir, nama sesembahan  selain Allah, seperti Uzza. Nama syaithan yang sudah disebutkan dalam al-Quran dan hadis, dan nama pujian terhadap diri sendiri berdasarkan hadis Nabi saw: “Sesungguhnya  nama  yang  paling  dibenci  oleh  Allah  adalah  seseorang  yang  bernama Malak al-Amlak (raja diraja),” (HR. Bukhori dan Muslim).

Adapun nama yang diimakruhkan berdasarkan kesepakatan ulama adalah nama orang fasiq, penzina, dan pelaku dosa lain. Nama anak yang artinya perbuatan maksiat. Makruh pula memakai nama orang jahat yang disebut dalam al-Quran, meski artinya bagus, seperti  Firaun, Qarun, dan Haman, nama hewan, nama berulang denga arti sama Muhammad Ahmad, serta nama dengan nama-nama surah dalam al-Quran, seperti Thoha, Yasin, kecuali nama dikaitkan dengan kata lain dan artinya baik.

Memang sebuah pekerjaan baru, jika nama yang sudah ada akan diubah. Proses administrasi dan interaksi lingkungan, menghadang. Namun jika disadari akan fungsi dan tujuan nama, maka proses tersebut akan menjadi usaha yang diusahakan semaksimal mungkin. Apalagi mengikut akan sunnah Nabi saw. Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Rasulullah saw,  merubah nama-nama yang jelek menjadi nama-nama yang baik,” (HR. Tirmidzi).

Kaidah memilih nama dalam Islam, bukan hanya celoteh belaka. Seorang pernah membuktikan kedahsyatan arti sebuah nama, dengan memberi nama seorang anak “Wildan Mukhalladun” artinya anak yang kekal (kekal di hari kemudian, atau kematian). Nama islami dan terdengar bagus. Entah kebetulan atau tidak, anak tersebut dipanggil kehadiratNya. Apakah doa dari namanya?, wallahu a’lam.