Naik Turun Nilai Dollar Berbahaya? Begini Memahaminya

Dollar naik, kenapa sih pada ribut? Kenapa harga naik?. Ada juga yang mengatakan, Dollar naik, negara untung. Ada juga mengatakan itu berbahaya. Mungkin masih ada yang bertanya tanya kenapa sih jika nilai Dollar naik terhadap rupiah, ada bahaya di dalamnya? Pahami narasi berikut:

Jika suatu hari Anda berada di luar negeri, lalu hendak membeli sebotol air, lalu membayar ke kasir. dengan Rupiah uang Anda ditolak. Uang Anda tidak berlaku, mohon tukar dulu ke mata uang yang berlaku di negeri ini. Harga sebotol air 5.000, meski Anda ingin membayar lebih, tetap saja tidak diterima. Uang Anda mungkin bernilai di negara sendiri tapi tidak di negara lain. Kan bisa ditukar uangnya, iya, tapi bisa jadi kasir tak ingin mengalami apa yang dikatakan sebagai ketidaklancaran arus (current) transaksi. Arus transaksi terhambat. Transaksi TIDAK current. Agar transaksi menjadi lancar, maka diperlukan PELANCAR atau Currency. Apa pelancarnya? Mata Uang yang berlaku di negerinya. Ini disebut Currency lokal.

Cerita di atas dalam kondisi anda berada di negeri orang. Sekarang, bagaimana saat anda berada dalam negeri sendiri tapi butuh barang atau bahan dari negeri orang? Katakanlah anda seorang pengusaha tempe. Anda butuh bahan baku kedelai dalam jumlah stabil dan terjamin pasokannya. Produksi kedelai dalam negeri tidak stabil dan kualitas tidak seperti yang anda harapkan. Anda harus beli dari negeri orang. Namanya: impor.

Sayang sekali, uang Rupiah yang anda pegang bukan pelancar transaksi yang dipersyaratkan negeri seberang adalah mata uang mereka sendiri atau mata uang yang berlaku di mana-mana, yaitu Dollar Amerika. Anda harus menukar dulu Rupiah anda ke Dollar. Jangan khawatir, di dalam negeri kita sendiri tersedia mata uang Dollar. Dari mana? Dari orang yang berusaha kebalikan dengan anda. Anda memproduksi barang dengan mendatangkan bahan baku dari negeri seberang, mereka memproduksi barang lalu menjualnya ke negeri seberang. Aktivitas mereka disebut ekspor. Hasilnya, berupa currency Dollar masuk ke dalam negeri kita.

Duit Dollar itu tetap milik para pelaku ekspor. Tentu setelah pajaknya disisihkan. Hanya saja, kehadiran fisik lembar-lembar Dollar itu memiliki makna lain, yakni sebagai ALAT atau Device atau Devisa yang dapat digunakan untuk mewujudkan kelancaran transaksi impor anda yang pengusaha tempe itu. Pelaku ekspor (eksportir) toh hidup dalam negerinya sendiri, yaitu Indonesia, maka dari itu pemenuhan kebutuhan hidupnya terjamin kelancarannya dengan Currency Rupiah, bukan? Mereka tinggal menukar uang Dollar-nya dengan uang Rupiah. Berapa Rupiah mereka dapatkan dari tiap Dollar yang mereka tukarkan? Tergantung. Tergantung nilai tukar atau kurs saat penukaran dilakukan. Kalau toh para eksportir mencairkan uang mereka langsung dalam bentuk Dollar, toh, dalam proses pembelanjaannya di dalam negeri, sepanjang apa pun lintasannya, tetap saja Dollar mereka akan kembali masuk ke dalam sistem perbankan kita. Kembali menjadi devisa.

Kebutuhan dalam negeri kita bukan hanya tempe. Ada ribuan kebutuhan warga negara negeri kita. Ada yang bisa dipenuhi dari dalam negeri kita sendiri. Ada (ada banyak) yang harus didatangkan dari negeri orang. Ini untuk mengatakan kegiatan ekspor dan impor adalah denyut kehidupan sehari-hari sebuah negeri. Tanpa kegiatan ekspor-impor, hampir mustahil sebuah negeri di era modern ini akan meningkat kualitas hidup warga negaranya. Kelebihan barang produksi dalam negeri akan membusuk begitu saja kalau tidak diupayakan ekspor ke negeri orang. Kekurangan pasokan barang kebutuhan yang belum mampu dihasilkan dalam negeri sendiri akan menimbulkan naiknya harga-harga kebutuhan hidup. Tak sanggup beli, berarti setengah atau seperempat hidup.

Oke, ada ribuan bahkan jutaan kegiatan ekspor-impor. Berapa diperoleh dari ekspor, berapa dikeluarkan untuk bayar impor? Tanding Ekspor Vs Impor ini disajikan ke dalam perhitungan sederhana yang disebut Neraca Dagang (trade balance). Ekspor yang lebih besar dari pada impor berarti surplus dagang. Berarti: menghasilkan Devisa. Sebaliknya, impor yang lebih besar dari pada ekspor berarti defisit dagang. Berarti: menguras Devisa.

Tidak selamanya defisit dagang berarti buruk. Ada kalanya sebuah negara lebih banyak impor ketimbang ekspor, namun yang diimpor adalah bahan baku yang akan diolah lalu diekspor. Defisitnya nanti akan terimbangi dengan surplus yang didapat dari ekspor tersebut. Defisit menjadi sangat berbahaya apabila barang yang diimpor sifatnya bukan untuk diolah lalu diekspor. Diolah lalu diekspor akan menghasilkan Devisa segera. Tetapi kalau impor berupa barang yang baru akan memberikan hasil setelah 2-3 proses pemberian nilai tambah, dan lagi hasilnya dalam bentuk Currency negeri sendiri, maka itu berbahaya.

Contoh: misalnya, kita mengimpor bijih besi lalu mengolahnya menjadi baja dan mengekspornya ke negeri orang. Walau di depan kita defisit karena impor bijih besi, di belakang itu akan segera terseimbangkan oleh ekspor baja-nya. Bahkan melebihi. Berarti surplus. Case closed. Sampai di sini paham kan, kalau Naik turunnya nilai Dollar sangat berbahaya?

Tinggalkan Balasan

Pengen Chat?
LihinWhatsApp

Send this to a friend