Muslim Itu Pengikut Bukan Follower Muhammad saw

Dengan menulis tweet “Saya pernah lupa dari mana kamu berasal,” kicauan ini di retweet lebih dari 50 ribu dan difavoritkan lebih dari 70 ribu followernya (Rabu/24/07).

Dengan 40 juta lebih follower, akun Justin B menjadi top rank akun twitter dengan follower terbanyak. Sistem twitter follower bisa membaca tweet siapa yang di follownya, maka terbuka kemungkinan, kalimat pendek penyanyi idola remaja ini akan dilihat 70 juta orang lebih (jika tidak double akun).

Sistem following follower ini secara alami membuka ruang tweet nasihat, informasi, atau sekedar kalimat melucu. Siapa yang bisa menarik perhatian pembaca tiap tweet, maka potensi di-follow akan semakin besar. Sayangnya tidak semua nasehat dari untaian tweet, kata motivasi, saran, dapat dilakukan oleh follower. Kebanyakan malah ‘menabungnya’ dalam pundi-pundi kalimat saran dan motivasi dan tidak sempat melaksanakannya.

Saya sendiri pernah mengikuti beberapa akun motivator, seperti pak Mario Teguh. Banyak saran dan motivasinya, namun seperti yang lain, saya akhirnya sepakat bahwa “hidup tak semudah Mario Teguh.” Meski terima kasih tak cukup sebagai bayaran buat mantan manager Bank terkenal ini, banyaknya motivasi yang di-kicaukan tak berbanding yang saya lakukan.

Itulah salah satu fenomena vital sistem follower di twitter. Follow artinya mengikuti, follower is pengikut. Di dunia Twitter, kata follower lebih kondang diucapkan dari kata pengikut, meski sebenarnya maksudnya itu juga. “Followermu berapa?,” lebih sering dibanding kalimat “pengikutmu berapa?.” Walau maksudnya sama, bisa jadi hanya masalah keseringan saja, atau trend gengsi bahasa dunia meeen… 🙂

Tapi ternyata memang berbeda makna jika kita mencoba mengatakan “sebagai muslim, saya adalah Follower Muhammad saw.” Dalam konteks ini pengikut tidak sama dengan follower. Lo kok?. Saya juga kurang ngerti, moga celoteh ini bisa menggambarkan meski sebenarnya bisa kita rasakan sendiri. 🙂

Follower terjadi karena beberapa sebab, diantaranya trik menambah following/ follower, salut, figuritas, idola, petemanan, rasa suka, terpaksa, atau tidak sengaja. Dari beberapa penyebab tersebut kesemuanya bisa membuat seseorang mengikuti (dalam artian malakukan), tapi kepastian untuk itu tidak ada.

Kenapa?. Jawabannya sederhana, IMAN. Tak seorangpun menjadi follower karena beriman dengan kita. Seperti kita ketika menjadi follower terhadap orang lain.

Kedua; Twitter adalah jejaring sosial sarana interaksi dunia maya. ‘Maya’-nya follower kita di twitter berbeda dengan ‘maya’-nya kanjeng Nabi saw. Kehadiran “Nur Muhammad” dalam kedirian manusia itu mutlak, dan inilah yang membuat manusia memiliki kekuatan untuk bergerak melakukan ajaran Muhammad yang tidak maya lagi.

Ketiga; mari melakukan perintahnya, dan rasakan bahwa pengikut Nabi Muhammad saw, tidak sekedar follower. Dengan melakukan, itu akan terjawab, bahwa sebenarnya Muslim adalah pengikut, bukan follower Muhammad saw.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.