Musafir Tak Perlu Puasa, Kata Ulama Ini

Mayoritas ulama sepakat bahwa bahwa seorang yang berpuasa kemudian menempuh perjalanan dengan jarak yang telah ditentukan, maka keputusan membatalkan puasa dan menggantinya pada hari lain, berada di tangan orang yang berpuasa. Namun berbeda dengan pendapat Ibnu Hazm, dia mengatakan:

Barang siapa yang bepergian dibulan Ramadhan bepergiannya karena taat atau karena maksiat atau tidak taat dan tidak maksiat, maka baginya wajib berbuka puasa apabila telah menempuh jarak satu mil atau lebih atau sepadan dan seketika itu juga batal puasanya, seketika itu dan baginya mengganti (qadha) puasa yang ditinggalkan pada hari yang lain.Ibnu Hazm

Menurut pendapat Ibnu Hazm, musafir diharuskan atau diwajibkan berbuka, karena bukan adanya masyakat, akan tetapi safar (bepergian) yang menjadi illat diharuskannya berbuka puasa bagi musafir.

Perbedaan mendasarnya terletak pada kewajiban berbuka atau membatalkan puasanya, dan tidak ada hak orang berpuasa melanjutkan, baik dia itu kuasa menjalankan puasa maupun tidak, baik puasa itu membe ratkannya atau tidak, bahkan sekalipun bepergiannya itu dengan nyaman membawa air lengkap dengan pelayanannya baginya tetap dipebolehkan berbuka dan mengqasar shalat.

puasa musafir

Pendapat Ibnu Hazm ini juga didasari oleh hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim :

“Menceritakan kepada saya Ja’far dari ayahnya, dari Jabir bin Abdullah ra. Sesungguhnya Rasul saw berangkat menuju Makkah pada tahun kemenagan dalam bulan Ramadhan, maka beliau tetap puasa hingga sampai di Qura’ul Ghamim. Orang-orang pun berpuasa, kemudian beliau meminta sebuah wadah berisi air maka diangkatnya air itu, sehingga orang-orang melihatnya, kemudian Nabi meminumnya diberitahukan kepada beliau bahwa sebagian orang tetap berpauasa, maka beliau bersabda: mereka adalah orang-orang yang durhaka, mereka adalah orang-orang yang durhaka.” (HR. Muslim).

Tinggalkan Balasan