Mudik Bukan Udik

Ada sebuah quote yang bunyinya begini, “Sampai tiba di titik jauh dari keluarga dan ingin berkumpul, baru kamu akan merasakan bagaimana arti mudik yang dianggap konyol oleh sebagian orang.”

Istilah mudik dalam artikata.com punya dua makna: Makna pertama, “berlayar atau pergi ke udik (hulu sungai, pedalaman)”. Maknanya yang kedua, “pulang ke kampung halaman”.

Jadi istilah udik itu rupanya berarti hulu sungai, sumber, atau titik mula darimana kita berangkat. Karena ada istilah hulu sungai, sangat mungkin istilah udik lahir dari sebuah masyarakat yang menjadikan sungai sebagai tempat transportasi sebagaimana jalan darat di daratan.

Kalaupun istilah udik lalu berkonotasi negatif lantaran bersinonim dengan kampungan yang bermakna kurang gaul, kurang berkembang, dan stagnan, barangkali lantaran ia memiliki makna pedalaman, hal mana biasanya daerah yang kurang terjamah dan kadang kurang interaktif dengan daerah luar.

Akan tetapi dalam perjalanan hidup ini, dimana ada titik awal dan titik tujuan, dimana ada sejarah dan menyejarah, tentu saja suatu waktu, orang butuh kembali ke awal atau ke hulu lagi, sekadar untuk mengenang atau berdialektika mengenai masa lalu, masa kini, dan masa depannya.

Sebab di hulu itu bukan saja ada bantuan untuk mengenali masa lalunya lagi, melainkan juga sangat boleh jadi di situ ada keterangan mengenai siapa dirinya. Sehingga lalu, mungkin, semakin matanglah ia dalam memancangkan kemana berangkat dan menuju.

Mudik juga biasa dimaknai pulang ke kampung halaman. Kampung halaman bukan sembarang kampung. Ia adalah lokus tempat tinggal semula, rumah, asal, areal masa kecil, dan basis serta tempat leluhur dan handaitolan.

Karena itu mudik bukan abnormal, bukan irasional, bahkan bukan kampungan. Toh dengan istilah berbeda, masyarakat Amerika Serikat pun mengenal dan melakukan mudik. Mudik memang prosesi dalam festival perjalanan hidup ini. Dengannya orang mendialogkan masa lalu dengan masa depannya dan menjembatani daerah asalnya dengan daerahnya sekarang.

Penulis saat mudik bersama orangtua

Bahkan dalam terminologi eskatologi agama, seluruh manusia juga mengenal dan niscaya akan mudik. Ya mudik. Innalillahi wainna ilaihi rooji’uun. (Berasal) dari Alloh dan kembali kepada Alloh.

Dengan demikian, “Sampai tiba di titik jauh dari keluarga dan ingin berkumpul, baru kamu akan merasakan bagaimana arti mudik yang dianggap konyol oleh sebagian orang.”

Dalam konteks yang lain bisa pula dimaknai: “Sampai tiba di titik jauh dari Tuhan dan ingin berkumpul bersama ke-Maha-an dalam segalanya, baru kamu akan merasakan bagaimana arti mudik kepada Alloh, yang bisa saja dianggap konyol oleh sebagian orang.” ****

Tinggalkan Balasan

Pengen Chat?
LihinWhatsApp

Send this to a friend