Minuman Keras; Kini Menjadi Tantangan Baru Proses Pendidikan

Upaya pemerintah memberantas minuman keras sepertinya harus digenjot lagi. Bahayanya sudah jelas, dan parahnya sudah merambah di dunia pendidikan. Okelah kita terlalu bijak dan menganggap ada yang menjadikan minuman keras sebagai obat darurat, seperti juga ada yang memanfaatkan minuman keras buat enjoy bagi mereka yang tak waras di rumahnya masing-masing. Tapi bagaimana jika, minuman keras itu dikonsumsi seorang peserta didik usia SMP?, dan itu dilakukan sebelum berangkat sekolah. Awalnya saya tak pernah merasakan, melihat secara langsung hal seperti ini, tapi kamis, 5 Desember 2013, sebuah fakta yang akhirnya menjadi posting blog saya.

***

Setelah memberi salam, presensi dan absensi, pembelajaran saya mulai. 15 menit berselang, seorang siswa mengetuk pintu ruang kelas. Saya mempersilahkan duduk tentu sebelumnya meminta alasan keterlambatan dan mencatatnya. Karena terlihat kepala anak itu basah, akhirnya hal itu juga menjadi bagian dari interogasi saya. Pembelajaran berlanjut dan anak ini memperlihatkn gelagat aneh, selalu telungkup di meja, dengan tatapan sayu. Akhirnya saya sarankan dia pindah bangku sedikit ke depan. Perlu diketahui, bahwa orang tua anak ini adalah guru. Ayahnya sebagai pengawas pendidikan, dan ibunya seorang guru Sekolah Dasar.

Memasuki jam kedua anak ini mulai meracau. Sangat rajin bertanya tidak seperti hari biasa. Bahkan pertanyaan dari siswa lain, dia pula yang menjawabnya tanpa diminta. Sampai akhirnya sebuah ucapan berbau porno terlontar. Saya mendekat dan bertanya “kamu kenapa?”. Nah, saat itulah saya mencium bau menyengat minuman keras. Sebelum siswa itu menjawab saya kembali bertanya dia konsumsi minuman keras atau tidak. Tentu jawabnya tidak. Namun, dengan sedikit berbisik akhirnya anak itu mengakui kalau dia mengonsumsi barang haram itu di subuh hari.

Sesuai prosedur, anak ini saya keluarkan dari kelas, dan kemudian ditangani oleh guru BK. Sampai kepada pemberitahuan mendadak kepada orang tuanya via handphone. Namun yang paling mengejutkan, ketika orang tua anak yang notabene adalah seorang guru ini marah-marah di telepon dan tidak menerima perlakuan anaknya dikeluarkan dari kelas. Kepala sekolah, guru BK, wali kelas, dan saya selaku guru pelaku lama berembuk, dan yang membuat lama adalah posisi orang tua anak ini yang katanya dekat dengan penguasa daerah. Akhirnya diputuskan untuk memanggil orang tua anak ini secara resmi, untuk datang hari berikutnya.

Senin, ayah dari anak ini datang dengan memakai baju dinasnya. Dengan nada bicara tinggi membela anaknya. Giliran saya bicara, saya bertanya; “menurut bapak layakah anak kita mengkonsumsi minuman keras?. Kalau layak, layakah mabuk di kelas?. Kalau masih layak, layakah dia mengganggu teman-temannya belajar dan saya sebagai pembelajar saat itu?. “Sudahlah pak, tidak ada anak yang langsung tahu, tugas kita memberi tahu, bla bla bla…” Sampai akhirnya orang tuanya tertunduk, entah apa yang dipikirkan. Setelah itu saya pamit mengajar di kelas sesuai jadwal.

***

siswa

Celoteh ini saya tulis dengan berat hati, namun dengan niat semoga menjadi pelajaran berharga bagi guru. Ada banyak pelajaran dari kisah tadi. Pertama: tantangan keberhasilan pendidikan dan pengajaran, ternyata kini juga datang dari orang tua siswa sendiri. Mungkin sampelnya kurang. Justru pelaku pendidikan yang lebih paham seakan semena-mena terhadap proses pendidikan itu sendiri. Kedua: Nepotisme terbesar datangnya dari anak. Tidak ada yang lebih kita cintai selain diri kita sendiri, kemudian anak. Pantas saja nabi Nuh as, ditegur oleh Tuhan ketika memanggil anaknya saat banjir besar. Ketiga: masalah minuman keras perlu diperlukan upaya lebih dalam penanganannya. Buat apa mendukung atas nama ekonomi dan segelintir konsumen kalau efek yang ditimbulkan berlaku umum. Ini adalah PR bagi kita semua, terlebih pemerintah.

Semoga menjadi perhatian. Salam bahagia …