Merokok Membunuhmu; Sebuah Peringatan Dilematis ?

Bagi para perokok, para “penghisap racun” yang merugikan tubuh kata mereka yang tidak merokok (baca: rasionalisasi perokok), pasti sudah tidak asing lagi dengan ungkapan manis bernada ancaman pada pembungkus rokok. “Merokok membunuhmu”, ungkapan angker sekaligus berbau peringatan dilematis, setelah sebelumnya ungkapan dilematis itu tertulis kecil di samping pembungkus rokok dengan diksi berbeda.

Beda yang dikatakan beda pula yang dilakukan, pemikiran inilah yang tertangkap di benak perokok atas teguran ini. Kalau toh rokok bisa membahayakan kesehatan dengan gangguan kehamilan dan janin ala ancaman versi pertama, kenapa dijual? Kalau toh merokok akan membunuh-mu, kenapa susuatu yang bisa membunuh dipasarkan bebas. “Tak perlu takut dengan senjata, tapi takutlah kepada siapa yang menggunakan senjata itu”, mungkin prinsip inilah yang dianut pemerintah, sehingga silahkan Anda merokok meski merokok akan membunuhmu.

Merokok membunuhmu adalah kalimat peringatan dan ancaman, tapi sayangnya tujuan dari sebuah peringatan dan ancaman bermacam-macam. Ada peringatan bertujuan untuk memancing rasa penasaran. Seperti seorang anak yang diancam jangan mandi di sungai itu. Jika peringatan itu diungkapkan berulang, tanpa bentuk tindakan pelarangan sebagai pendukung, maka anak akan penasaran, ada apa gerangan dengan sungai itu? Lihat dulu ah, colek airnya, dan akhirnya, anak itu akan melompat, mandi.

Ada pula peringatan untuk memanas manasi. Misalnya tim sepakbola Brazil akan bertandang ke gelora Bung Karno melawan tim Persija, misalnya. Merasa di atas angin, pelatih Brazil tentu melihat hal ini berbahaya. Lalu dia memanas manasi pemain, dengan ancaman. “Penyerang Persija akan membunuhmu, dia suka dengan pemain Amerika Latin. Setiap melawan tim Amerika Latin, pemain persija akan bermain seperti vampire”. Dengan ancaman itu, harapan pelatih pemain Brazil akan panas, dan bermain maksimal.

Tujuan dari sebuah peringatan yang terakhir, murni sebagai peringatan karena hal yang dibahasakan memang berbahaya. Bahwa hal itu memang berbahaya didukung oleh fakta dan data. Bukan cuma itu, semua yang terkait dengan hal yang diancamkan secara umum memang disepakati dianggap memang berbahaya. Dibahasakan sebagai, pemberitahu, pengingat, dan ancaman.

Bagaimana dengan rokok? Sepertinya, rokok belum disepakati sebagai hal yang berbahaya. Dikatakan berbahaya bagi kesehatan, tapi penanggungjawab terdepan kesehatan, dokter, masih banyak yang merokok. Bahkan dokter paru-paru, ada yang merokok. Pemerintah, sebagai pemberi peringatan, justeru banyak pejabat negara, bahkan ada mantan menteri yang merokok.

merokok membunuhmuBelum lagi dilema melihat nasib para petani tembakau. 3 juta lebih petani tembakau akan terancam hidupnya karena di PHK, jika rokok memang disepakati sebagai suatu hal yang berbahaya. Siapa yang tak kenal perusahaan produsen rokok yang sekaligus sponsor utama kejayaan bulutangkis Indonesia. Artinya para penentu kebijakan masih dilema, melarang merokok karena secara medis berbahaya. Mengijinkan rokok karena secara ekonomis menguntungkan.

Tak mau disalahkan sebagai pendukung hal berbahaya dari sisi medis, muncullah peringatan sangar dengan gambar dada ambrol, katanya akibat rokok. Gambar pria dengan asap mengepul, di bawahnya tertulis kalimat Merokok Membunuhmu. Apa efek dari peringatan itu? Silahkan pembaca tentukan, apakah memancing penasaran, atau memanas manasi. Karena dengan iklan seperti itu, tidak akan efektif sebagai pemberitahu, peringatan, apalagi ancaman.

Ada solusi menarik jika memang disepakati bahwa merokok itu berbahaya (baca: negara ini kalah). Mengurangi perokok yang artinya mengurangi orang sakit, sekaligus menyelamatkan jutaan petani tembakau dan buruh pabrik rokok. Naikan pajak rokok, sehingga harga satuan rokok bisa mencapai Rp. 200.000 per-bungkus. Cara ini akan mengurangi perokok, meski dalam pembungkus rokok tertulis, “merokok menghidupkanmu”. Hanya orang tertentu yang akan membeli rokok. Konsumen dan produksi berkurang, namun lonjakan harga yang akan menutupi kekurangan dari harga konsumen itu.

Sekian opini saya, saya ingin pergi beli rokok dulu. Hentikan merokok, karena “Merokok Membunuh-mu”

 

Tinggalkan Balasan